header image
 

(10)

Mungkin
ada baiknya juga kita sesekali menyertai guru kita itu ber-anjangsana ke rumah
salah seorang muridnya, yang pada umumnya –hampir pasti- menunggak uang renten
yang terkadang berbungkus SPP. Tapi, jangan masuk lewat pintu depannya! Tapi
ah, bukankah rata-rata rumah berdinding bambu koyak-moyak itu tak ada bedanya
antara pintu depan dan pintu belakang? Bahkan tidak jarang yang malah rumahnya
dari depan sampai belakang adalah jalan bebas hambatan?

 

Oke
lah … mungkin kalau kita ketok tak akan kita dengar jawaban, tak apalah kita
masuk. Ternyata tak kan kita temui tuan rumah. Juga tak ada barang –yang kalau
kita berniat baik, bisa kita jualkan ke pasar untuk kemudian uangnya kita
berdayakan, soal siapa yang berdaya dan tidak berdaya itu sih soal gampang-
yang layak jual. Maka langsung kita menuju dapur –sebuah hamparan tanah luas tanpa
dinding- dan sebuah tungku. Di atasnya ada sebuah periuk, sementara sang ibu
terus berdiam diri, dan tiga orang anaknya yang masih kecil sedang tertidur
pulas. Maka ketika kita memandangnya dengan tanda tanya, si Ibu sudah
menjawab,”Salahkah kalau saya ingin “membohongi” anak saya dengan berpura-pura
menanak batu, seperti kisah Sayyidina Umar itu?”

 

Maka
kita pun diam, dan mencoba mengerti kenapa tak ada isinya itu periuk, tak ada
api pula yang menyala di tungkunya.

 

“Iya
lah,” kata si Ibu lagi. Mau beli minyak tanah, gak ada duit, mana langka lagi.
Mau nyari kayu bakar, hutan-hutan sudah ada kaplingnya, dan kayu-kayunya sudah
ada stempelnya lagi. Salah si Ibu yang telat bikin stempel. Mau menanak batu,
batunya sudah dikasih label oleh batching-plant
yang memproduksi bubur beton. Sementara air pun, yang layak pakai sudah dikemas
dalam gelas dan botol. Sementara yang tidak layak pakai –pun masih laku dijual
ternyata oleh aktivis lingkungan.

 

Maka
jangan salahkan kalau si Ibu memasukkan ke dalam periuknya mimpi-mimpinya, dan
membiarkannya menguap di panasnya matahari.

( 9 )

Kalau
aku sedang meracau tentang kejujuran, jar, jadi ingat seorang guru bahasa
daerah waktu kita SD, Pak Asi. Hidupnya yang sangat bersahaja. Kemana-mana
selalu saja dengan sepeda pancalnya. Yang merasa begitu bersyukurnya dengan apa
yang dijalaninya, yang merasa begitu bersyukurnya dengan hidupnya. Lihatlah ia
yang tekun mendidik kita waktu SD, tak pernah terpikir bagi dia untuk mencari
obyekan lain kan. Kalau masuk waktu dhuhur, bisa kita jumpai ia di mesjid jami’
di depan alun-alun. Dan jika waktu ‘ashar datang, bisa kita dapati ia di mesjid
ladju di depan rumah dinas bupati.
Dan ketika ia pulang, jar, kau tahu ? Selalu saja ia letakkan sepeda pancal itu
jauh dari rumahnya, tergeletak begitu saja. Hilang ? Sudah berulang kali jar !
Dan waktu aku tanya soal itu, dia hanya menjawab dalam,” mungkin ada yg pinjam,
tapi lupa mengembalikan” atau “mungkin yang nyolong sedang butuh”. Biarin aja,
toh tak kubawa mati itu sepeda.

 

Atau
jika ada seorang muridnya yang tidak kelihatan di sekolah selama tiga hari atau
lebih, terlihat raut kekhawatiran kan di wajah teduhnya. Dan itu yang
membawanya –biasanya setelah ashar- dengan sabar mencari rumah si murid.

Nah lo
……………….
menurutku itulah kejujuran tanpa bahasa, tanpa diniatkan untuk jujur. Gila kan
? Jangankan sampai ke maqam jujur
semacam itu, untuk mengakui bahwa kita ini lemah dan hanyalah makhluq, kita
(sejujurnya) merasa berat hati. Kecuali ada tsunami, atau gempa bumi (mungkin
perlu juga ada gempa langit) … kita jadi latah.

Tidak jar, aku tidak sedang memuji guru SD kita itu. Kau kan
tahu, aku ini pelit pujian. Sayang pada kata-kata dan muatan di dalamnya kalau
harus aku hamburkan untuk memuji, basa-basi apalagi. Terlalu mahal harga yang
harus kubayar. Apalagi kalau hanya untuk mencari muka. Jadi ingat apa kata mas
Andrie … ing ngarso setor muka, ing
madyo numpuk bondo, tut wuri nggrogoti
. Wah, pasti Ki Hajar Dewantara
senyum-senyum kecut di kuburnya. Apalagi gak bisa kan dia mesen kopi di kuburan
sono ….

Oh iya jar, kalau nanti kau ketemu dia, tolong sampaikan salam
hormatku yah. Salam yang terlalu berharga untuk kubagi dengan seorang presiden
atau seorang sekjen PBB misalnya.

sebuah oase

selama aku di aceh, terus terang … aku sangat kangen dengan acara budaya, seperti yang biasa aku ikutin selama masih di jawa. sebutlah misalnya teater jalanan, nonton bareng yang di akhirnya ada diskusi. apalagi acara silaturahmi budaya (atau whatever it names) semacam acara-acara yang digagas Emha Ainun Nadjib, seperti Padhang mBulan di Jombang, Mocopat Syafaat di Yogya, Gambang Syafaat di Semarang, Maiyah di pelosok desa di Indonesia, Kenduri Cinta di Jakarta, dan yang paling gres Bangbang Wetan di Surabaya.

forum semacam ini, bagiku at least, seperti mencharge batin, memuaskan dahaga jiwa. format acaranya yang begitu egaliter dan merakyat, meniadakan batas yang antara lain meniadakan antara penonton dan penampil. semuanya berposisi sama, sebagai seorang pencari. bersama-sama berproses untuk mencari ilmu. mengurai kesejatian. berdialog berdialektika …

thats why … kemaren malem aku sempet2in juga hadir di acara Bangbang Wetan di Surabaya. dengan tetap teguh pada sebuah keyakinan bahwa kalau kita posisikan hati dan akal tunduk kepada Tuhan, maka Ia akan memperjalankan kita, bener2 sebuah oase … apalagi di tengah suasana Indonesia yang begitu carut marutnya. ya bencana alam (walau alam sebenarnya sedang tidak "menimpakan" bencana, melainkan hanya menjalankan "rutinitas"nya), nasionalisme yang tinggal retorika, ketidakpastian perjalanan Indonesia, megap-megapnya rakyat di tengah gelombang ketidak menentuan akan nasibnya, dan berjuta fatamorgana (pembangunan semu, kesalahan mengidentifikasi sesuatu, kepala jadi pantat, pantat dijadikan kepala, dsb). Allah … semoga diteguhkan kaki-kaki lemah kami di jalan kesejatian.

(bersambung …)

life on the road

beberap hari ni hidupku berjalan diatas roda (ciee … bahasanya itu loh). pokoknya di jalanan terus deh.

bayangin aja, Kamis siang terbang dr banda-medan-jakarta-surabaya. ampe surabaya dah malem, trus langsung ke malang. sehari di malang, langsung ke madura. baru juga sehari di madura, ke malang lagi. ni baru aja nyampe malang, langsung ngenet ….

turun dr mobil ke pesawat, pindah ke bus, beralih ke feri, bus lagi, angkot, ojek … dah lengkap deh …

but … perjalanan2 itu exciting lah, paling gak aku enjoy banget. dah lama gak berperjalanan kayak ini lagi. mandi di terminal, tidur di bandara. istirahat sambil makan di terminal penyeberangan. ngingetin waktu dulu sering naek gunung ampe keabisan duit, sehingga terpaksa nodong pak polisi (untung polisinya baek), jadi kernetnya truk di purwokerto … ah, so fun !!

at least ngobatin boring nih …..

PS: tp di malang, ane kedinginan …… bbrrrbr! i’m freezing also meler-ing

gadis …

(
8 )

seperti halnya setiap
datang hari fitrah ini, aku masih terbaring di depan pintumu. meretas jalan
menuju kerinduan akan asal-muasal dan akhir tujuan. siklus dan kembara menjadi
keseharian, baik itu dalam tenang, hening, sunyi, senyap. maupun dalam setiap
hingar-bingar, ramai, bising, dan hiruk-pikuk. di depan segala buah tangan
perjalanan sedemikian gadis, cinta –seperti katamu-, adalah satu-satunya yang
memenuhi udara. mungkin ia mendekap dengan penuh kelembutan, meski tak jarang
ia menghempaskan. terkadang tampak baik, meski tak jarang terlihat sangat
buruk.

lalu dimanakah itu jarak
antara baik dan buruk, duhai gadis ?

engkau hanya mendesah,
gadis. apakah desahan nafasmu yang anggun itu jawabannya ? adakah memang jarak
antara baik dan buruk adalah desah nafas keseharian kita ? adakah memang celah
di antara keduanya hanyalah sekejapan mata lembutmu itu ? dan ketika mata
lembutmu menatap seorang anak manusia yang baru lahir dan menangis, maka
menjadi tahulah aku …

tangisan seorang bayi
ternyata menjawab sebagian besar tanda tanya dalam hidup

( … 19.10.06 … )

( 8 )

Jangan
bertanya kenapa aku tak mudik lebaran tahun ini, jar. Sebab aku yakin engkau
yakin bahwa pertanyaan semacam ini adalah sekedar retorika seperti halnya juga
jawabannya. Uang sudah tak ada, waktu juga kadang tak mau kompromi. Maka jangan
salahkan kalau aku campurkan uang dan waktu dalam secangkir kopi, kuaduk-aduk
mereka berdua, biar berasap, biar keluar itu aromanya. Dan ketika sudah habis
kuteguk, merasalah aku menjadi pemenang atas uang dan waktu.

 

Tapi
aku boleh kan sekedar berbangga diri dengan berkata bahwa sebenarnya aku sedang belajar melakukan mudik, jar. Mudik
yang sebenarnya. Mudik yang tak terikat oleh uang, waktu, jarak, atau apapun
yang kita ciptakan sendiri dan kita biarkan menguasai kita. Mudik yang inna liLlah wa inna ilayhi raji’un. Tak
ada salahnya kan saudaramu yang satu ini merasa sombong sekejap saja, merasa
sudah mudik. Apa lagi yang kupunya ? Negara ? Harga diri ? Mimpi ? Ah … bullshit itu semua. Tahi sapi … !!! Maka
ketika kesombongan menghadirkan dirinya, kusambar ia sebelum ia menjadi milik
orang lain. Mau apa mereka ? emang gue
pikirin
?

 

Benar
jar … aku bukannya sedang membual. Aku sedang sombong. Ya, sombong ! Ketika
dulu Ibu berwasiat sebelum kita merantau, bahwa beliau tidak menginginkan kita
menjadi kaya, pintar atau yang semacamnya, melainkan hanya menjadi orang jujur,
maka kuputuskan untuk sombong. Sombong kepada uang dan waktu dan segala
kesementaraan yang mengantar kepada pintar atau kaya. Sebab hanya dengan
sombong seperti ini, aku bisa menjadi jujur. Sekalian lebur menjadi bubur.

 

Sebab
yang namanya jujur itu ternyata menyiksa, jar !

(7)

Ternyata
saudaramu yang ini cengeng ya jar !

Tapi
benar jar, aku butuh menangis … sebab tangisan adalah juga salah satu bahasa
yang paling azali yang dikenal di muka bumi. Iya kan ?

 

Maka
jika Ibu bertanya tentangku lewat matamu jar, maka inilah aku, anaknya …
seorang pengecut yang diam-diam menggigil kedinginan. Didekap rasa bersalah
yang berkepanjangan. Dikepung rasa tak tahu diri, didera rasa durhaka yang
datang menyelinap tanpa suara. Seorang pecundang yang terlempar dari setiap
pertempuran. Namun, bukankah semua ini yang akan mengantarkanku lagi bersimpuh
di hadapan Ibu, jar ? Berlutut dan berharap Ibu mengelus-elus kepala kita
seperti dulu, saat Ayah harus berjalan menguntai bakti. Maka bersyukurlah aku
menjadi seorang pengecut dan pecundang di hadapan Ibu –dan juga di hadapanmu,
jar.

 

Bukankah
kepengecutan dan kepecundanganku di hadapan Ibu itulah yang akan mengundang Ibu
untuk melecutku, jar ? Sehingga aku bisa berdiri tegak menatap cakrawala.
Menata lagi dua kaki yang lemah ini. Meski nanar menatap nadir, Ibu tak pernah
jauh. Meski aku menjauh, Ibu tak pernah jauh.

Lebaran di tanah Rencong

Lebaran sebentar lagi …
lagu di hari terakhir ramadhan tahun ini nih, lagu lama yang diaransemen dan
dinyanyikan ulang ama Gigi. Yup … besok lebaran nih, dan temen2 yang “ketiban
sial karena berlebaran jauh dari keluarga” ngajakin shalat id di masjid
Baiturrahman. Oke lah … asal bisa bangun pagi aja … hehehe.

Dan ternyata, bisa juga
bangun pagi … hahahaha. Dasar !. Berangkatlah kita ke masjid Baiturrahman.
Bingung juga sih … abis, di jalanan masih sepi banget padahal udah jam
setengah 7. Wah … ada dua kemungkinan nih. Kemungkinan pertama, kita yang
telat, dan orang-orang sudah di mesjid semua. Atau kemungkinan kedua, kita ndhisiki kerso … hahaha. Artinya, kita
yang mendahului. Sapa tahu adat disini shalat id-nya dimulai agak siang atau
lebih siang dari tempat lain. Bingung juga sih … padahal sudah gocekan setir motor. Campur juga ma yang
namanya deg-degan. Apalagi … sesampainya di mesjid, ala makk … tak ada satu kendaraan pun yang parkir dan tak satu
makhlukpun di mesjid. Waduh … jangan-jangan ni mesjid udah shalat id hari
sebelumnya nih (kan ada 2 pendapat soal hari raya Idul Fitri tahun ini, meski
si fitri tak jarang berbeda pendapat).

Untungnya ada yang ngasih
tahu bahwa shalat id-nya bukan di mesjid melainkan di lapangan. Yup, di
lapangan Blang Padang. Huff … lega … campur kecewa. Gimana nggak lega …
berarti kita masih bisa ikutan shalat id. But, kecewa juga ada, sebabnya udah
ada yang dandan rapi-rapi, macak pol,
dan bawa kamera juga … dengan niatan maunya foto di mesjid raya pas Idul
Fitri. Hahaha. Sial (umpatan pertama di 1 Syawal … hehe).

Oke lah … langsung kita
ke lapangan Blang Padang, dan ternyata … kita benar-benar ndhisiki kerso, hahaha. Yang datang dan
terisi baru satu shaf, karena ternyata kita datang emang kepagian. Nah lo …
baru kali ini kayakya shalat berjamaah dapat pahala “kurban sapi”, artinya
dateng duluan dapat shaf di bagian depan. Dan setelah kita, berangsur-angsur banyak
jamaah lain yang berdatangan. Satu shaf, dua shaf, tiga shaf, empat shaf, lima
shaf …. dan
……………………………………………………………….

H u j a n
……………. deres lagi … hahahaha. Sial (umpatan kedua nih) … kacau
bin balau. Dan setelah diumumkan kalo shalat id dipindah ke mesjid raya,
langsung berhamburan ke mesjid Baiturrahman. Sambil nggerundel, seorang temen bilang,” apa juga gw bilang, shalat di
mesjid kan lebih afdhal …”. Alah, bilang aja, lu mau foto2 di mesjid raya.
Belagu lu …

Anyway … saat itu aku
baru kepikiran. Ini kan air hujan. Two
years ago
, 26 Desember 2004, di lapangan Blang Padang ini kan ada kegiatan,
ada acara lah yang dipimpin oleh pak walikota. Dan semburatlah orang-orang di
lapangan saat itu menuju mesjid raya. Yup, karena air. Air tsunami. Allah
… rabbana lak al-hamd, alhamduliLlah.
Rupanya saat ini di hari pertama Syawal1427 H, di hari fitri ini, aku (dan
kami) “diperkenankan” ngerasain simulasi kejadian dua tahun lalu. Semburat
menuju mesjid, panik !. Berpikir seperti itu, membuat batinku mengendap … dan
benar-benar aku biarin basah kuyup oleh air hujan. Sebuah “kado” dari Tuhan
yang sangat berharga, priceless.

Sampai di mesjid
Baiturrahman … semuanya pada berebutan markir kendaraannya. Dan berebutan
juga untuk kebagian tempat di dalam mesjid.

Allah … ini baru
air-Mu, bukanlah api-Mu. Entah bagaimana nanti kalau mizan amalku mengantarku menemui api-Mu ? Bagaimana aku mesti
mencari tempat sembunyi, selain menelusup di kebesaran-Mu yang juga
keteduhan-Mu ? Allah … anta al-Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu
Akbar. Laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar. Allahu Akbar, waliLlah al-hamd.

Berebutnya orang-orang
masuk ke bagian mesjid belum selesai, Allah menarik kembali tirai airNya. Dan
menggantinya dengan hangat mentari 1 Syawal. Subahanak .. ya Rabb. Begitu
romantisnya Engkau. Begitu indah dialektika-Mu. Begitu sempurna skenario-Mu.
Dan bodohlah aku yang selalu berprasangka akan setiap scene yang Kau mainkan.

Ya sudah … setelah
bertakbir dan bertahmid sebentar sambil ngerapiin shaf-shaf, langsung dimulai
itu shalat id … tentunya dengan pakaian yang basah kuyup karena kehujanan
(ini tidak berlaku bagi yang datangnya pake mobil, red). Walhasil, pas khutbah setelah shalat … banyak yang langsung
tertidur. Khutbah yang cukup berapi-api ternyata belum cukup bisa menghangatkan
rasa dingin karena kehujanan, hehehe. Dan tanpa komando, “acara inti” dimulai,
yakni take some shots … hahaha.

Dan setelah itu, langsung
kita pulang kembali, dan silaturahmi ke tetangga kiri kanan (eh, sebelah kiri
aja deng, yang sebelah kanan udah pergi duluan keknya). Sebenarnya, dengan satu
harapan … semoga ada yang nyediain sarapan … hahaha, maklum lah, tadi pagi
blom sempat masak. Dan alhamduliLlah … di tetangga, bisa dapat lontong sayur.
Dan berhubung tetanga yang lain sudah pada take
off
ke rumah sanak saudaranya masing-masing, maka acara silaturahmi ke
tetangga tertunda. Baru pada sore harinya dan keesokan harinya bisa keliling ke
tetangga di kiri kanan.

061024_064724061024_081841061024_083903
061024_084710

Ooppss … iya, ada yang
ketinggalan. Sebelum lebaran, di Aceh ada tradisi yang biasanya disebut
meugang, ada meugang pertama ada meugang kedua. Cuman bukan meugangnya yang aku
ingin cerita, tetapi sehari sebelum meugang. Yup, sehari sebelum meugang, meunasah (mushalla) di gampong (desa) ngadain kenduri (syukuran) khatam tadarus Quran.
Jadi, selain memotong kambing dan sapi, juga banyak warga yang nyumbang makanan
buat berbuka. Dan jumlahnya …. alaa
makkk
. Si tokoh kartunnya Warner Bros, Taz(mania), pasti menari gembira.
Pengaturannya kayak gini, dibagi menjadi beberapa kelompok, yang satu kelompok
biasanya maksimal ada 9 orang. Dan tiap kelompok menu makanannya udah komplit
plit. Dari appetite sampe desert, semua dijamin okeh (baik okeh
barat maupun okeh jawa –alias banyak skalee). Tuh potonya …

061019_175450
061019_181209
061019_182134

Menemui peradaban di ujung tanduk (4)

Everyday is having fun, meski dari mess ke
lapangan cukup jauh, tapi terbayar lah dengan ‘hiburan’ di perjalanan. Ngeliat
pemandangan, ngamatin cara hidup dan budaya masyarakat setempat, dan
macem-macem deh. Kehujanan juga pernah, deres lagi … sampe gak motor yang
lewat di jalan, kecuali motorku … hahaha.

Once a day,
dapat tugas ke Bireuen, Lhoksuemawe ama ke Panton Labu. Ya udah, jalan-jalan
lagi … hehehe. Berangkat dari Pidie sih udah abis ‘ashar. Wah, alamat nih,
berbuka puasa di jalan. Dan …. kejadian deh !. Untungnya pas masuk waktu
maghrib, kita sampe di Lhokseumawe, tapi bukan di kotanya sih, ‘coz acara di Lhoks baru malem abis
tarawih. Nah, waktu masuk waktu maghrib itu, brentinya pas di pasar yang mirip
pujasera. Dan ala mak … disini nih,
masakannya gak hanya masakan Aceh aja, malah ada sekitar 50% masakan Jawa …
mana yg jualan ada yg dari Jawa lagi, yo
wis … metu asline
… hehe

060929_182511060929_182608060929_184933

Menemui peradaban di ujung tanduk (3)

Sampai juga aku di nanggroe Serambi Mekkah. Setelah sampe
disini baru ‘gerombolan’ dibagi menjadi beberapa tim untuk sebuah pekerjaan
supervisi. Sebenarnya dua tim sih, sebab yang satu tim sudah ready disono, dari Aceh sendiri. Singkat
cerite ye … aku dapet tugas di Kab. Pidie. Kabupaten yang konon kabarnya
paling tinggi intensitas konfliknya selama ketegangan antara RI-GAM sejak tahun
70an sampai ditandatanganinya MoU Helsinki 15 Agustus 2005 kemaren. So, karena
sudah harus mobilisasi ke lapangan, gak sempat deh aku lama-lama di Banda Aceh,
padahal maunya sih raun-raun dulu di
Banda Aceh. Nanya seorang adik yang udah di Banda duluan, eh ngejawabnya
nyantai banget,” Banda kan gak gede,
muter-muter aja …piss !!”
Nah lo ….

 

AlhamduliLlah, Tuhan
ngabulin keinginan terpendam aku, yang saking terpendamnya, sampe gak tahu kalo
punya keinginan … hehehe. Lokasi dimana aku harus ngerjain tugas, full of things that makes me enjoy what i’m
gonna do. Thank God, its all a gift.
Lokasi kerjaanku deket pantai yang
pemandangannya bagus, view-nya exciting,
masyarakatnya punya banyak cerita, punya adat dan budaya yang khas. Klop lah
… kalo orang Jawa bilang, kucing nemu
iwak asin
… hahaha.

Pict0028_1Pict0108_1
Pict0148Pict0251_1

 

Pict0228061011_151736_1

061002_151039 061011_150402
061003_120324_1