header image
 

dalam gulungan sejuta ombak
senopatiku nusantara berderak
biru menggigil seorang bayi berteriak
menyaksikan bundanya kian berjarak

asap dari lokomotif bengawan
berkejaran dalam arakan awan
di tikungan sungai yang menawan
seorang kawan di curam sungai tertawan

maka jatuhlah adam dari nirwana
bersujud di lantai samudera
bersemayam di pangkuan benua
menunggu saat perjumpaannya dengan hawa

dan sekarang … Levina
oh Levina …
akankah nasibmu akan seperti Pristina
dibakar api dendam dan kesedihan ?

Balada beras

di tengah gelombang pasang impor beras, masih ada kapal yang terbakar, atau pesawat yang tugel ….

omong2 tentang beras (soalnya hanya bisa diomongin, sebab stoknya mulai menipis), pasti akan juga ngomongin tentang petani, kecuali semua petani beralih profesi menjadi importir beras. jadi ingat waktu forum dialog rakyat Bangbang Wetan di Surabaya kemaren. ada seorang fresh graduate yang menanyakan soal pertanian. rupanya dia anak petani. orang tuanya menyekolahkan sampai berhasil lulus perguruan tinggi dengan harapan agar dia tidak menjadi petani seperti orang tuanya. dia banyak bertanya tentang sistem pertanian, sistem tanam, pupuk, bibit, gabah dan banyak hal lain, termasuk penyuluh pertanian yang seragamnya "haram" disentuh lumpur sawah.

begitu banyak pertanyaannya. namun, kalau kita menyimaknya dengan hati, tidak hanya dengan telinga, maka sangat jelas bahwa itu semua bukan pertanyaan, melainkan sebuah sambat. sebuah keluh kesah. sebuah rintihan. yang sekarang menjadi nyata bentuknya dengan impor beras.

alasan paling logis dari impor adalah kekurangan stok. dan salah satu yang bisa menjadi sebab dari kurangnya stok adalah berkurangnya jumlah petani. berapa banyak yang menjadikan petani sebagai pekerjaan utamanya? bukan semata-mata sebagai pilihan terakhir. bayangkan jika dari keluarga petani yang ada saat ini, menyuruh dan tidak merelakan anaknya menjadi petani.

maka tidak mustahil kalau kita semua ikut "urun" tanggung jawab akan kelangkaan beras ini, karena kita tidak bisa "menghargai dan melestarikan" petani.

O, Nusantara (rewrite)

O, Nusantara
Diare
Flu Burung
Demam Berdarah
Muntaber
Gizi Buruk
O, Lumpuh Layuh

O, Reformasi
Berantas Korupsi
O, Demokrasi
hanya Orasi Orasi

APBN
GBHN
BUMN
BHMN
The End

KPU
JPU
MoU
MUI
TKI
KDI
KDI Perjuangan !

O, Solusi
Somasi
Sosialisasi
Suksesi
So What Gitu Loh

Bajaj Bajuri
Bidadari
Kabar Kabari
Takdir Ilahi
Samson Betawi
Bawang Meran Bawang Putih
Tersanjung
Terajana
Culunnya Pacarku
O, Masa Puber
Bibir Plus
Betis
Lemas
Ceriwis
Patroli
Was Was
Jejak Kasus
Fenomena
Spongebob
Dora The Explorer
Tikam
Silet
Terjang
Serbu
Sergap
Waspadalah ! Waspadalah ! Waspadalah !

O, Nusantara
Pesawat hilang
Kapal tenggelam
Kereta anjlog
Bus mogok

O, Nusantara
Gempa Bumi
Tsunami
Banjir Bandang
Tanah Longsor
Angin Ribut
Gunung Meletus
O, Akal Bulus
O, Tidak Lulus

Weddhus !!!

(dari reportoar KiaiKanjeng, ditambah beberapa gerundelan sendiri)

rewrite : 20.02.07

Selamat Jalan

sinar matahari masih satu dua menelusup lewat celah arakan mendung yang mulai menggantung. dan seperti biasanya, aku coba merangkai pesan yang sedang disampaikannya. seperti potongan teka-teki hidup, setiap potongannya banyak bercerita tentang banyak hal. tentang banjir bandang, hujan deras, demonstrasi, orasi, kecelakaan pesawat, harga diri, kebanggaan, rasa malu, bahkan tentang bendera setengah tiang yang warnanya mulai pudar disapa asap knalpot dan sumpah serapah.

mungkin tema ceritanya sama saja, tapi lihatlah dan rasakan air matanya.

air mata yang menawarkan rasa haus. air mata yang menawrkan dahaga. air mata yang menjadi ruh setiap mata air. air mata sang matahari.

banyak memang, kenyataan yang seringkali enggan aku akui sebagai sebuah kebenaran.

termasuk juga air mata sang matahari.

mengetahui -bahkan menemukannya- matahari menangis, adalah sebuah kenyataan yang enggan kuakui sebagai sebuah kebenaran. terlebih lagi, setelah kureguk air matanya.

ternyata air mata itulah jawabannya.

Ketika Banjir Menelanjangi dan Memandikan Jakarta

Ketika air kembali menagih tempatnya di Jakarta, seorang temenku nanyain knapa aku gak berangkat kesana gabung dengan SAR, like what i’ve done in Aceh and Yogya. Honestly, aku juga gak tau napa rasanya enggan kesana. Mungkin karena Jakarta sudah "lengkap" secara sarana dan prasarana SARnya. Mungkin karena banjir ini bukan bencana. Yup, bukan bencana. Air hanya datang menagih tempatnya yang selama ini telah dibendung dengan tanggul-tanggul untuk melindungi perumahan, sentra bisnis. Air hanya datang menagih tempatnya di Jakarta, yang secara geografis berada di deket laut, ya otomatis lah kalo air pasti mengalirnya kesana. Seorang petinggi Jakarta mengatakan ini semacam siklus 5 tahunan. Alah, bullshit !!!. Siklus apaan ?? Orang curah hujannya belum setinggi 5 tahun yang lalu, namun akibatnya bisa disaksikan sendiri. Gimana coba kalau curah hujannya setinggi tahun 2002. Alam hanya akan bertindak berdasarkan diagram alir yang ada, dan mustahil (ini aku berani jamin 100%) berlaku diluar diagram alir yang ada. Jika "logical steps" dari alam ini terganggu, ya jangan salahin alam dong kalau ia meresponnya. Ada aksi, ada reaksi. Gampangnya gini aja deh, kita nuangin air teh dari teko dengan kecepatan yang tetap. Tapi, yang satu nuanginnya ke gelas gede, sedang satunya ke cangkir kecil. Ya pasti, yang cangkir kecil akan luber kemana-mana. Sangat sangat sangat jauh berbeda konteksnya bencana di Jakarta dengan bencana di Aceh. Bahkan kalau itu tsunami yang menghantam Jakarta.

Kalau pake bahasanya Pak Johan Silas (pakar tata kota ITS), ini semua karena kita menata kota tidak berdasarkan MORAL (akhlaq kalau dalam Islam) dan hanya berdasarkan kepentingan ekonomi semata-mata.

Jadi, kalau ini semua semacam "harga yang harus dibayar" Jakarta atas apa yang telah dilakukannya, ya aku pikir gak ada manfaatnya kalau aku menjadi pahlawan kesiangan dengan datang membantu disana. Kalau orang tua menghukum anaknya karena kesalahan yang dilakukannya, tentunya tak perlu kita sok-sok membantu si anak menjalani hukumannya, karena itu menjadi kontra-produktif dengan maksud "menghukum"nya. Biarkan saja si anak mengerahkan segala potensi pada dirinya untuk menjalani dan mengambil hikmah dari hukumannya. Biarkan saja banjir menelanjangi dan memandikan jakarta, men-dekonstruksi kembali jakarta tentang apa yang telah dilakukannya, dan kembali bangkit menjadi Jakarta baru (dengan catatan: kalau semua potensi Jakarta bisa bersinergi diantara mereka).

Jakarta disini aku maksudkan bukan Jakarta dalam artian sempit, melainkan Jakarta dengan segala atribut yang disandangnya.

Beberapa hari lalu, Dr. Kresnayana Yahya (statistician dr ITS) mengatakan bahwa pajak dr Jawa Timur yang disetor ke "Jakarta" sekitar 140an T (aku lupa angka pasnya), dan "kembali" ke Jawa Timur hanya sekitar 40 T (aku juga lupa angka pasnya). Bayangin aja, gak sampe 50% kan. Dengan setengah memprovokasi, Pak Kresna mengatakan bahwa uang dr Jawa Timur (dan daerah lain di Indonesia) hanya dipakai untuk "mensejahterakan" Jakarta, dengan infrastruktur dan megastruktur. Sebab, dia biloang, kalo hanya mengandalkan dr pendapatan asli daerah Jakarta, tak mungkin Jakarta bisa membangun jalan tol sebanyak itu, tak mungkin Jakarta bikin subway. dan lain-lain. Kwik Kian Gie juga pernah mengemukakan kenyataan yang cukup nggegirisi (kalo ini aku bener nulis nggegirisi … hehehe), yakni bahwa perputaran uang di Jakarta mencapai 80%, 84% tepatnya. Dan sisanya 16% dibagi-bagi ke seluruh Indonesia.

Dengan banjir ini, Jakarta akan kita saksikan bersama sedang telanjang yang paling akar. Bagaimana Jakarta merespon bencana ini, bagaimana Jakarta bereaksi terhadap bencana semacam ini. Yang selama ini kita hanya menyaksikan Jakarta sekedar "berkomentar" dan "mengirimkan bantuan" bagi bencana di tempat lain.

Kalau nantinya Jakarta bersedia melakukan perubahan dan sukses menjalani "hukuman"nya, insyaAllah rahmat dan barakah bagi Jakarta. Tapi ketika ia gagal, kemungkinan akan aku amini lagi doa Cak Nun Ramadhan lalu yang terisnpirasi dari doa RasuluLlah. "Ya Allah, sumonggo kerso Engkau bertindak terhadap kami, Indonesia pecah, banjir melanda seluruh P. Jawa, atau apapun juga. Tapi kami minta satu hal saja, Ya Allah, yakni Engkau telah duko kepada kami, Engkau telah marah-marah pada kami."

new blog

Blog

hijrah dari bencana menuju rahmat

Sejak dari apa yang kita namakan krisis moneter 97, kemudian Reformasi 98, dan anak cucunya setelah itu hingga saat ini, rasa-rasanya tak terlalu banyak kabar maupun kejadian yang menggembirakan hati rakyat, yang menentramkan hati (sebagian besar) penduduk negeri ini.
Melambungnya harga yang berbanding lurus dengan menurunnya daya beli masyarakat -yang anehnya- membuat indikator ekonomi makro meningkat tajam. Pembangunan infrastruktur yang sejalan seirama dengan penggusuran pedagang asongan ato pedagang kaki lima. "Pemerkosaan" hutan, bumi dan air dengan penuh syahwat eksplorasi. Bergetarnya lempeng bumi, batuknya gunung-gunung,muntahnya perut bumi, bergesernya musim, terpelesetnya pesawat terbang, tergelincirnya kapal laut, mengslenya kereta api. "Pemerataan" korupsi yang semakin "adil" saja yang berjalan seiring dengan rasa arogansi golongan/kelompok atas nama demokrasi dengan dalih kebenaran orang banyak. Tentunya tanpa menafikan dan tetap menaruh rasa hormat atas hasil positif yang sudah dicapai. Tapi, alangkah naif kalau hasil positif ini dijadikan sebagai sebuah reason to excuse.

Aku ngerasa bahwa mungkin kita sedang dilanda kebingungan yang begitu dahsyat, sehingga langkah-langkah keseharian dan kebangsaan kita, langkah pergaulan dan intensitas budaya kita menjadi tersandung-sandung. Ketika tak lagi ada utara, timur, barat atau selatan yang akan kita tuju. Disorientasi. Parahnya lagi, ketika mulai samar-samar itu terlihat "pelabuhan" tujuan sejarah kita, mulai lagi kita bertengkar sesama kita untuk menjadi pahlawan-pahlawan yang bukan saja kesiangan, tapi terkadang mengaku-aku pahlawan. Maka kemudian menjadi laku itu "buku-buku putih".

Sebuah rasa putus asa yang mungkin enggan kita akui terkadang mendorong berlarut-larutnya bencana-bencana ini. Ketika sebuah bencana datang, ramai-ramai orang mengajak untuk berubah. Kata, kalimat dan frasa-frasa ditabur ke ruang-ruang keseharian rakyat tentang ajakan untuk berubah. Dan ketika semua ajakan ini menjadi basi tanpa adanya perubahan yang berarti dan rasa duka mulai pudar, maka secara berjamaah pula kita kembali pada perilaku "jahiliyah" kita. Jahiliyah yang ultra modern yang dibungkus dengan jargon keadilan, demokrasi, taqwa, iman, juga beberapa sumpah serapah.

Ada yang memang sadar dan berupaya berubah. Namun ketika kembali terbentur dengan kenyataan dimana semua orang ternyata masih sama seperti sebelumnya … simalakama lah yang harus ia telan, dan memutuskan untuk "tidak meninggalkan kemapanan". Toh, kalau memang nanti benar-benar ada neraka yang harus kita masuki, kita masuk beramai-ramai kan … jadi gak terlalu sepi lah !.

* * *

Maka, insyaAllah seminggu lagi akan kita masuki tahun baru Hijriyah, yang ibu kandung sejarahnya adalah peristiwa hijrahnya Muhammad dari tanah airnya Mekkah menuju Madinah. Sebuah peristiwa perubahan yang sejati, sebuah hijrah. Muhammad meninggalkan segala yang dicintainya menuju sebuah daerah baru yang masih "asing". Namun, hijrah harus dilakukan meski berat.

Sebuah momentum yang bisa kita bersama selami kedalaman maknanya, yang bisa kita bersama untai mutiara keindahannya. Hijrah ! min ad-adhulumat ila an-nur. Dari bencana menuju rahmat. Tentunya dengan sebuah kesediaan untuk meninggalkan perilaku lama yang terlanjur kita menikmatinya.

Muhammad meninggalkan hartanya di Mekkah, meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan kenangan-kenangannya, meninggalkan Ka’bah, meninggalkan semua yang telah "tertanam" di hatinya di Mekkah. Berat sebenarnya. Memutuskan untuk meninggalkan dan menanggalkan semuanya, kecuali beberapa barang sebagai "bekal perjalanan" (ingat bahwa Tuhan pernah berpesan bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa).

Maka jika menginginkan dan mengharapkan "Madinah" maka harus -mau tidak mau- kita tinggalkan itu "Mekkah jahiliyah". Meski Mekkah jahiliyah membuai kita dengan gelimang kuasa, harta dan "kemapanan". Maka jika kita mengharapkan rahmat setelah bencana, harus ada kebulatan tekad untuk meninggalkan dan menanggalkan segala macam perilaku maupun kreteg hati yang "mengundang" bencana. Mungkin yang terlanjur kaya karena korupsi akan mengalami "pukulan" telak. Mungkin yang terlanjur pintar dan membodohi orang bodoh akan kehilangan "kuasa"nya. Mungkin yang terlanjur bodoh dan diakali orang pintar akan susah payah belajar. Mungkin semua "kemapanan" ini akan kembali teraduk dengan dahsyatnya. Nilai, hukum akan kembali ditakar hingga yang paling akar. Menelanjangi baik-buruk, benar-salah, hitam-putih. Akan menyakitkan memang apabila kejujuran nurani nantinya menemukan bahwa apa yang selama ini kita anggap baik adalah seburuk-buruknya tataran nilai.
Tapi, kalau memang ini harga yang harus kita bayar untuk segala "kesalahan masa lalu" kita dan "bekal yang harus kita bawa" untuk menjelang fajar rahmat …. bersediakah kita … ??

* * *

Mungkin ada baiknya sebelum kita melangkahkan kaki ber-hijrah ini, kita tengok ke dalam diri. Masih adakah sisa kesediaan kita untuk rendah hati yang terselip diantara kebanggaan-kebanggaan ? Masih tersisakah ruang di akal kita untuk mampu berkata bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, tapi juga kita ? Masih adakah celah di hati kita untuk seskali mengakui bahwa yang berdosa bukan hanya ia, tapi juga saya ?

waLlahu a’lam …

… gadis …

(
9 )

mungkin sedemikianlah,
kenapa bahasa paling azali yang dikenal anak manusia – dari suku dan etnis manapun
ia – adalah tangisan. sedemikian tak terhingga tafsir yang bisa dituliskan,
terjemah yang bisa diusahakan … namun tangisan itu tetap satu jua adanya.

ya, kau bilang. tangisan
itu satu jua adanya. tapi ketika kau mengajakku menziarahi dada bumi, berbaring
di keluasan hamparan langit, menyelami relung hati samudera, bermain diantara
arakan awan, kupahami maksudmu. kau sedang mengenalkanku pada tangisan yang tak
besuara. pada tangisan yang bernama sunyi.

( … 30.11.06 … )

peduli

" kenapa sih lu peduli ama gw ? knp juga orang2 peduli ama gw ? knp mereka baik banget ama gw padahal kan gw bukan sapa2 ? mereka toh ga rugi untuk gak meduliin gw. can u explain to me ? knp ? … "
sms salah seorang guruku … -dengan beberapa "perubahan"

it was interesting … dan terlepas dari alasanku untuk peduli (yg sebenernya dicari-cari, karena aku ingin satu2nya alasan untuk segala hal adalah Tuhan), this kind of topic remind me of a (late) bestfriend. seorang sahabat yang hidupnya dipenuhi cinta. yang sedemikian ikhlasnya. yang kadang orang lain melihatnya ia sedang menyiksa diri.

bayangkan saja, dari 100% miliknya, ada lah kalo 75% dia gunakan untuk membuktikan cintanya (andai keluarga dan org2 sekitarnya gak protes, mungkin bakal semuanya ia baktikan). ia meng-encourage orang2 marjinal dan org2 yg "dimiskinkan" untuk bersinergi, kemudian modal dia bantu dari uangnya sendiri. seringkali ia ke lokalisasi, mem"booking" seseorang yang ternyata cuman dinasehatin, dikasihnya duit untuk entas dari sana, dan ngelanjutin sekolah.

pernah suatu pagi buta di pinggiran Kota Gede … ia dan beberapa orang temannya melihat seorang ibu tua pedagang sayur yang terjatuh sendirian dan rupanya lukanya lumayan parah. dicegatnya sebuah mobil untuk diminta membantu mengantarkan sang ibu ke RS. mobil gak mau brenti, dia lempar kaca belakang mobil sampe pecah, dan mobil terpaksa brenti. dan sebelum pemilik mobil marah-marah, ia sudah berkata," terserah nanti kau mau mengambil nyawaku sebagai ganti kaca mobil … tapi sekarang tolong kita bawa ibu ini ke RS agar nyawanya tertolong." dan hasil akhirnya, sahabat (alm) ini ngerasain ditahan di polsek.

kalau temen2nya nanya … ia bilang bahwa miliknya yg sebenarnya adalah yang tidak ada lagi di tangannya. dan soal kejadian pagi buta itu, ia bilang bahwa beberapa nyawa tergantung pada nyawa sang ibu, dan itu tak bisa dibandingkan dengan nyawanya.

tapi dalam hening sunyinya … kalau ia berkeluh kesah kepada sahabat2nya, ada satu hal yang merisaukan hatinya. yakni bahwa semua orang terkadang keliru men-judge dirinya. saat ia membantu sebuah komunitas miskin, dikiranya mencari pengaruh. saat meng-entas seorang pelacur, disangkanya mau menikahinya.
" tak bisakah cinta itu menampilkan dirinya hanya sebagai cinta, yang tanpa alasan ? tak bisakah kebaikan itu tampil suci dalam fitrahnya ? " demikian pernah ia tuliskan dalam salah satu puisinya.

tapi memang kita gak bisa maksa orang lain untuk melihat kita sebagaimana sebenarnya kita adanya bukan ? lha wong Nabi ngajakin bener aja dibilangnya seorang tukang sihir …

ada satu kalimatnya yang menjadi "jimat" buatku … dan untuk itu aku berterima kasih dan bersyukur telah diberiNya kesempatan mengenal orang besar yang "diremehkan" ini …..

sebuah oase … (sambungan)

hampir selama beberapa waktu aku di Aceh … urusannya hampir 100% pekerjaan, yang semua waktuku terpakai untuk ngurusin dan bergaul dengan pekerjaan. hampir gakda waktu untuk sekedar jalan-jalan dan berbincang "hati ke hati" dengan orang-orang kebanyakan. hampir semua topik yang dibicarakan selalu berputar tentang rehab dan rekon (aka. proyek) yang ujung2nya duit juga, duit lagi.

dan kemaren, pas di Surabaya ngeliat anak2 KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) mainin beberapa lagu, aseli air mataku sempet netes. insyaAllah lagu-lagu yang mereka ciptain emang straoght from their own heart. nyanyiin lagu tentang kehidupan "wong cilik" dari kacamata dan sudut pandang wong cilik itu sendiri. ada lagu tentang seorang pelacur, pengamen, gempa, tsunami, lumpur sidoarjo. tak ketinggalan kerinduan spiritual juga mewarnai nyanyian mereka. terutama saat nyanyiin sebuah lagu yang begitu nasionalis dan patriotis. dalam artian "ruh" bukan wadag seperti yang dijargonkan di "jakarta".

terbersit sih sebuah pikiran nakal. sudah seharusnya pemerintah berterima kasih pada orang-orang pekerja keras semacam ini. di tengah ketidakmampuan pemerintah melayani masyarakatnya (kecuali minta dilayani masyarakat), antara lain dalam menyediakan lapangan kerja, mereka ini tetap dengan problematika kesehariannya senantiasa berusaha, tanpa menadahkan tangan ke Istana Presiden atau gedung wakil rakyat misalnya.

mereka ini berjuta-juta jumlahnya ……… dan jumlah ini bukan hanya deretan angka-anka statistik yang menghiasi meja makan pada sebuah jamuan makan malam.