header image
 

Ketika Banjir Menelanjangi dan Memandikan Jakarta

Ketika air kembali menagih tempatnya di Jakarta, seorang temenku nanyain knapa aku gak berangkat kesana gabung dengan SAR, like what i’ve done in Aceh and Yogya. Honestly, aku juga gak tau napa rasanya enggan kesana. Mungkin karena Jakarta sudah "lengkap" secara sarana dan prasarana SARnya. Mungkin karena banjir ini bukan bencana. Yup, bukan bencana. Air hanya datang menagih tempatnya yang selama ini telah dibendung dengan tanggul-tanggul untuk melindungi perumahan, sentra bisnis. Air hanya datang menagih tempatnya di Jakarta, yang secara geografis berada di deket laut, ya otomatis lah kalo air pasti mengalirnya kesana. Seorang petinggi Jakarta mengatakan ini semacam siklus 5 tahunan. Alah, bullshit !!!. Siklus apaan ?? Orang curah hujannya belum setinggi 5 tahun yang lalu, namun akibatnya bisa disaksikan sendiri. Gimana coba kalau curah hujannya setinggi tahun 2002. Alam hanya akan bertindak berdasarkan diagram alir yang ada, dan mustahil (ini aku berani jamin 100%) berlaku diluar diagram alir yang ada. Jika "logical steps" dari alam ini terganggu, ya jangan salahin alam dong kalau ia meresponnya. Ada aksi, ada reaksi. Gampangnya gini aja deh, kita nuangin air teh dari teko dengan kecepatan yang tetap. Tapi, yang satu nuanginnya ke gelas gede, sedang satunya ke cangkir kecil. Ya pasti, yang cangkir kecil akan luber kemana-mana. Sangat sangat sangat jauh berbeda konteksnya bencana di Jakarta dengan bencana di Aceh. Bahkan kalau itu tsunami yang menghantam Jakarta.

Kalau pake bahasanya Pak Johan Silas (pakar tata kota ITS), ini semua karena kita menata kota tidak berdasarkan MORAL (akhlaq kalau dalam Islam) dan hanya berdasarkan kepentingan ekonomi semata-mata.

Jadi, kalau ini semua semacam "harga yang harus dibayar" Jakarta atas apa yang telah dilakukannya, ya aku pikir gak ada manfaatnya kalau aku menjadi pahlawan kesiangan dengan datang membantu disana. Kalau orang tua menghukum anaknya karena kesalahan yang dilakukannya, tentunya tak perlu kita sok-sok membantu si anak menjalani hukumannya, karena itu menjadi kontra-produktif dengan maksud "menghukum"nya. Biarkan saja si anak mengerahkan segala potensi pada dirinya untuk menjalani dan mengambil hikmah dari hukumannya. Biarkan saja banjir menelanjangi dan memandikan jakarta, men-dekonstruksi kembali jakarta tentang apa yang telah dilakukannya, dan kembali bangkit menjadi Jakarta baru (dengan catatan: kalau semua potensi Jakarta bisa bersinergi diantara mereka).

Jakarta disini aku maksudkan bukan Jakarta dalam artian sempit, melainkan Jakarta dengan segala atribut yang disandangnya.

Beberapa hari lalu, Dr. Kresnayana Yahya (statistician dr ITS) mengatakan bahwa pajak dr Jawa Timur yang disetor ke "Jakarta" sekitar 140an T (aku lupa angka pasnya), dan "kembali" ke Jawa Timur hanya sekitar 40 T (aku juga lupa angka pasnya). Bayangin aja, gak sampe 50% kan. Dengan setengah memprovokasi, Pak Kresna mengatakan bahwa uang dr Jawa Timur (dan daerah lain di Indonesia) hanya dipakai untuk "mensejahterakan" Jakarta, dengan infrastruktur dan megastruktur. Sebab, dia biloang, kalo hanya mengandalkan dr pendapatan asli daerah Jakarta, tak mungkin Jakarta bisa membangun jalan tol sebanyak itu, tak mungkin Jakarta bikin subway. dan lain-lain. Kwik Kian Gie juga pernah mengemukakan kenyataan yang cukup nggegirisi (kalo ini aku bener nulis nggegirisi … hehehe), yakni bahwa perputaran uang di Jakarta mencapai 80%, 84% tepatnya. Dan sisanya 16% dibagi-bagi ke seluruh Indonesia.

Dengan banjir ini, Jakarta akan kita saksikan bersama sedang telanjang yang paling akar. Bagaimana Jakarta merespon bencana ini, bagaimana Jakarta bereaksi terhadap bencana semacam ini. Yang selama ini kita hanya menyaksikan Jakarta sekedar "berkomentar" dan "mengirimkan bantuan" bagi bencana di tempat lain.

Kalau nantinya Jakarta bersedia melakukan perubahan dan sukses menjalani "hukuman"nya, insyaAllah rahmat dan barakah bagi Jakarta. Tapi ketika ia gagal, kemungkinan akan aku amini lagi doa Cak Nun Ramadhan lalu yang terisnpirasi dari doa RasuluLlah. "Ya Allah, sumonggo kerso Engkau bertindak terhadap kami, Indonesia pecah, banjir melanda seluruh P. Jawa, atau apapun juga. Tapi kami minta satu hal saja, Ya Allah, yakni Engkau telah duko kepada kami, Engkau telah marah-marah pada kami."

~ by acang on February 5, 2007.

2 Responses to “Ketika Banjir Menelanjangi dan Memandikan Jakarta”

  1. O,, gitu ya mbah? Yg ttg pndapatan daerah itu aku baru tau lho.
    Klo gitu knapa gak skalian aja Pemerintahan indonesia wilayahnya cuma meliputi Jakarta, Jakarta, Jakarta,, (bodetabek ikut gk y?)

  2. mbok yo kota kecil dimana aku tinggal sekarang ini ikutan diciptratin gitu…
    kasih deh, satuuuu ajah mall di sini… :(

Leave a Reply