sebuah oase
selama aku di aceh, terus terang … aku sangat kangen dengan acara budaya, seperti yang biasa aku ikutin selama masih di jawa. sebutlah misalnya teater jalanan, nonton bareng yang di akhirnya ada diskusi. apalagi acara silaturahmi budaya (atau whatever it names) semacam acara-acara yang digagas Emha Ainun Nadjib, seperti Padhang mBulan di Jombang, Mocopat Syafaat di Yogya, Gambang Syafaat di Semarang, Maiyah di pelosok desa di Indonesia, Kenduri Cinta di Jakarta, dan yang paling gres Bangbang Wetan di Surabaya.
forum semacam ini, bagiku at least, seperti mencharge batin, memuaskan dahaga jiwa. format acaranya yang begitu egaliter dan merakyat, meniadakan batas yang antara lain meniadakan antara penonton dan penampil. semuanya berposisi sama, sebagai seorang pencari. bersama-sama berproses untuk mencari ilmu. mengurai kesejatian. berdialog berdialektika …
thats why … kemaren malem aku sempet2in juga hadir di acara Bangbang Wetan di Surabaya. dengan tetap teguh pada sebuah keyakinan bahwa kalau kita posisikan hati dan akal tunduk kepada Tuhan, maka Ia akan memperjalankan kita, bener2 sebuah oase … apalagi di tengah suasana Indonesia yang begitu carut marutnya. ya bencana alam (walau alam sebenarnya sedang tidak "menimpakan" bencana, melainkan hanya menjalankan "rutinitas"nya), nasionalisme yang tinggal retorika, ketidakpastian perjalanan Indonesia, megap-megapnya rakyat di tengah gelombang ketidak menentuan akan nasibnya, dan berjuta fatamorgana (pembangunan semu, kesalahan mengidentifikasi sesuatu, kepala jadi pantat, pantat dijadikan kepala, dsb). Allah … semoga diteguhkan kaki-kaki lemah kami di jalan kesejatian.
(bersambung …)

Leave a Reply