header image
 

peduli

" kenapa sih lu peduli ama gw ? knp juga orang2 peduli ama gw ? knp mereka baik banget ama gw padahal kan gw bukan sapa2 ? mereka toh ga rugi untuk gak meduliin gw. can u explain to me ? knp ? … "
sms salah seorang guruku … -dengan beberapa "perubahan"

it was interesting … dan terlepas dari alasanku untuk peduli (yg sebenernya dicari-cari, karena aku ingin satu2nya alasan untuk segala hal adalah Tuhan), this kind of topic remind me of a (late) bestfriend. seorang sahabat yang hidupnya dipenuhi cinta. yang sedemikian ikhlasnya. yang kadang orang lain melihatnya ia sedang menyiksa diri.

bayangkan saja, dari 100% miliknya, ada lah kalo 75% dia gunakan untuk membuktikan cintanya (andai keluarga dan org2 sekitarnya gak protes, mungkin bakal semuanya ia baktikan). ia meng-encourage orang2 marjinal dan org2 yg "dimiskinkan" untuk bersinergi, kemudian modal dia bantu dari uangnya sendiri. seringkali ia ke lokalisasi, mem"booking" seseorang yang ternyata cuman dinasehatin, dikasihnya duit untuk entas dari sana, dan ngelanjutin sekolah.

pernah suatu pagi buta di pinggiran Kota Gede … ia dan beberapa orang temannya melihat seorang ibu tua pedagang sayur yang terjatuh sendirian dan rupanya lukanya lumayan parah. dicegatnya sebuah mobil untuk diminta membantu mengantarkan sang ibu ke RS. mobil gak mau brenti, dia lempar kaca belakang mobil sampe pecah, dan mobil terpaksa brenti. dan sebelum pemilik mobil marah-marah, ia sudah berkata," terserah nanti kau mau mengambil nyawaku sebagai ganti kaca mobil … tapi sekarang tolong kita bawa ibu ini ke RS agar nyawanya tertolong." dan hasil akhirnya, sahabat (alm) ini ngerasain ditahan di polsek.

kalau temen2nya nanya … ia bilang bahwa miliknya yg sebenarnya adalah yang tidak ada lagi di tangannya. dan soal kejadian pagi buta itu, ia bilang bahwa beberapa nyawa tergantung pada nyawa sang ibu, dan itu tak bisa dibandingkan dengan nyawanya.

tapi dalam hening sunyinya … kalau ia berkeluh kesah kepada sahabat2nya, ada satu hal yang merisaukan hatinya. yakni bahwa semua orang terkadang keliru men-judge dirinya. saat ia membantu sebuah komunitas miskin, dikiranya mencari pengaruh. saat meng-entas seorang pelacur, disangkanya mau menikahinya.
" tak bisakah cinta itu menampilkan dirinya hanya sebagai cinta, yang tanpa alasan ? tak bisakah kebaikan itu tampil suci dalam fitrahnya ? " demikian pernah ia tuliskan dalam salah satu puisinya.

tapi memang kita gak bisa maksa orang lain untuk melihat kita sebagaimana sebenarnya kita adanya bukan ? lha wong Nabi ngajakin bener aja dibilangnya seorang tukang sihir …

ada satu kalimatnya yang menjadi "jimat" buatku … dan untuk itu aku berterima kasih dan bersyukur telah diberiNya kesempatan mengenal orang besar yang "diremehkan" ini …..

~ by acang on January 6, 2007.

One Response to “peduli”

  1. well, kayaknya tau deh, tu kasus..

Leave a Reply