hijrah dari bencana menuju rahmat
Sejak dari apa yang kita namakan krisis moneter 97, kemudian Reformasi 98, dan anak cucunya setelah itu hingga saat ini, rasa-rasanya tak terlalu banyak kabar maupun kejadian yang menggembirakan hati rakyat, yang menentramkan hati (sebagian besar) penduduk negeri ini.
Melambungnya harga yang berbanding lurus dengan menurunnya daya beli masyarakat -yang anehnya- membuat indikator ekonomi makro meningkat tajam. Pembangunan infrastruktur yang sejalan seirama dengan penggusuran pedagang asongan ato pedagang kaki lima. "Pemerkosaan" hutan, bumi dan air dengan penuh syahwat eksplorasi. Bergetarnya lempeng bumi, batuknya gunung-gunung,muntahnya perut bumi, bergesernya musim, terpelesetnya pesawat terbang, tergelincirnya kapal laut, mengslenya kereta api. "Pemerataan" korupsi yang semakin "adil" saja yang berjalan seiring dengan rasa arogansi golongan/kelompok atas nama demokrasi dengan dalih kebenaran orang banyak. Tentunya tanpa menafikan dan tetap menaruh rasa hormat atas hasil positif yang sudah dicapai. Tapi, alangkah naif kalau hasil positif ini dijadikan sebagai sebuah reason to excuse.
Aku ngerasa bahwa mungkin kita sedang dilanda kebingungan yang begitu dahsyat, sehingga langkah-langkah keseharian dan kebangsaan kita, langkah pergaulan dan intensitas budaya kita menjadi tersandung-sandung. Ketika tak lagi ada utara, timur, barat atau selatan yang akan kita tuju. Disorientasi. Parahnya lagi, ketika mulai samar-samar itu terlihat "pelabuhan" tujuan sejarah kita, mulai lagi kita bertengkar sesama kita untuk menjadi pahlawan-pahlawan yang bukan saja kesiangan, tapi terkadang mengaku-aku pahlawan. Maka kemudian menjadi laku itu "buku-buku putih".
Sebuah rasa putus asa yang mungkin enggan kita akui terkadang mendorong berlarut-larutnya bencana-bencana ini. Ketika sebuah bencana datang, ramai-ramai orang mengajak untuk berubah. Kata, kalimat dan frasa-frasa ditabur ke ruang-ruang keseharian rakyat tentang ajakan untuk berubah. Dan ketika semua ajakan ini menjadi basi tanpa adanya perubahan yang berarti dan rasa duka mulai pudar, maka secara berjamaah pula kita kembali pada perilaku "jahiliyah" kita. Jahiliyah yang ultra modern yang dibungkus dengan jargon keadilan, demokrasi, taqwa, iman, juga beberapa sumpah serapah.
Ada yang memang sadar dan berupaya berubah. Namun ketika kembali terbentur dengan kenyataan dimana semua orang ternyata masih sama seperti sebelumnya … simalakama lah yang harus ia telan, dan memutuskan untuk "tidak meninggalkan kemapanan". Toh, kalau memang nanti benar-benar ada neraka yang harus kita masuki, kita masuk beramai-ramai kan … jadi gak terlalu sepi lah !.
* * *
Maka, insyaAllah seminggu lagi akan kita masuki tahun baru Hijriyah, yang ibu kandung sejarahnya adalah peristiwa hijrahnya Muhammad dari tanah airnya Mekkah menuju Madinah. Sebuah peristiwa perubahan yang sejati, sebuah hijrah. Muhammad meninggalkan segala yang dicintainya menuju sebuah daerah baru yang masih "asing". Namun, hijrah harus dilakukan meski berat.
Sebuah momentum yang bisa kita bersama selami kedalaman maknanya, yang bisa kita bersama untai mutiara keindahannya. Hijrah ! min ad-adhulumat ila an-nur. Dari bencana menuju rahmat. Tentunya dengan sebuah kesediaan untuk meninggalkan perilaku lama yang terlanjur kita menikmatinya.
Muhammad meninggalkan hartanya di Mekkah, meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan kenangan-kenangannya, meninggalkan Ka’bah, meninggalkan semua yang telah "tertanam" di hatinya di Mekkah. Berat sebenarnya. Memutuskan untuk meninggalkan dan menanggalkan semuanya, kecuali beberapa barang sebagai "bekal perjalanan" (ingat bahwa Tuhan pernah berpesan bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa).
Maka jika menginginkan dan mengharapkan "Madinah" maka harus -mau tidak mau- kita tinggalkan itu "Mekkah jahiliyah". Meski Mekkah jahiliyah membuai kita dengan gelimang kuasa, harta dan "kemapanan". Maka jika kita mengharapkan rahmat setelah bencana, harus ada kebulatan tekad untuk meninggalkan dan menanggalkan segala macam perilaku maupun kreteg hati yang "mengundang" bencana. Mungkin yang terlanjur kaya karena korupsi akan mengalami "pukulan" telak. Mungkin yang terlanjur pintar dan membodohi orang bodoh akan kehilangan "kuasa"nya. Mungkin yang terlanjur bodoh dan diakali orang pintar akan susah payah belajar. Mungkin semua "kemapanan" ini akan kembali teraduk dengan dahsyatnya. Nilai, hukum akan kembali ditakar hingga yang paling akar. Menelanjangi baik-buruk, benar-salah, hitam-putih. Akan menyakitkan memang apabila kejujuran nurani nantinya menemukan bahwa apa yang selama ini kita anggap baik adalah seburuk-buruknya tataran nilai.
Tapi, kalau memang ini harga yang harus kita bayar untuk segala "kesalahan masa lalu" kita dan "bekal yang harus kita bawa" untuk menjelang fajar rahmat …. bersediakah kita … ??
* * *
Mungkin ada baiknya sebelum kita melangkahkan kaki ber-hijrah ini, kita tengok ke dalam diri. Masih adakah sisa kesediaan kita untuk rendah hati yang terselip diantara kebanggaan-kebanggaan ? Masih tersisakah ruang di akal kita untuk mampu berkata bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, tapi juga kita ? Masih adakah celah di hati kita untuk seskali mengakui bahwa yang berdosa bukan hanya ia, tapi juga saya ?
waLlahu a’lam …

Leave a Reply