gadis …
(
8 )
seperti halnya setiap
datang hari fitrah ini, aku masih terbaring di depan pintumu. meretas jalan
menuju kerinduan akan asal-muasal dan akhir tujuan. siklus dan kembara menjadi
keseharian, baik itu dalam tenang, hening, sunyi, senyap. maupun dalam setiap
hingar-bingar, ramai, bising, dan hiruk-pikuk. di depan segala buah tangan
perjalanan sedemikian gadis, cinta –seperti katamu-, adalah satu-satunya yang
memenuhi udara. mungkin ia mendekap dengan penuh kelembutan, meski tak jarang
ia menghempaskan. terkadang tampak baik, meski tak jarang terlihat sangat
buruk.
lalu dimanakah itu jarak
antara baik dan buruk, duhai gadis ?
engkau hanya mendesah,
gadis. apakah desahan nafasmu yang anggun itu jawabannya ? adakah memang jarak
antara baik dan buruk adalah desah nafas keseharian kita ? adakah memang celah
di antara keduanya hanyalah sekejapan mata lembutmu itu ? dan ketika mata
lembutmu menatap seorang anak manusia yang baru lahir dan menangis, maka
menjadi tahulah aku …
tangisan seorang bayi
ternyata menjawab sebagian besar tanda tanya dalam hidup
( … 19.10.06 … )

Leave a Reply