header image
 

Menemui peradaban di ujung tanduk (3)

Sampai juga aku di nanggroe Serambi Mekkah. Setelah sampe
disini baru ‘gerombolan’ dibagi menjadi beberapa tim untuk sebuah pekerjaan
supervisi. Sebenarnya dua tim sih, sebab yang satu tim sudah ready disono, dari Aceh sendiri. Singkat
cerite ye … aku dapet tugas di Kab. Pidie. Kabupaten yang konon kabarnya
paling tinggi intensitas konfliknya selama ketegangan antara RI-GAM sejak tahun
70an sampai ditandatanganinya MoU Helsinki 15 Agustus 2005 kemaren. So, karena
sudah harus mobilisasi ke lapangan, gak sempat deh aku lama-lama di Banda Aceh,
padahal maunya sih raun-raun dulu di
Banda Aceh. Nanya seorang adik yang udah di Banda duluan, eh ngejawabnya
nyantai banget,” Banda kan gak gede,
muter-muter aja …piss !!”
Nah lo ….

 

AlhamduliLlah, Tuhan
ngabulin keinginan terpendam aku, yang saking terpendamnya, sampe gak tahu kalo
punya keinginan … hehehe. Lokasi dimana aku harus ngerjain tugas, full of things that makes me enjoy what i’m
gonna do. Thank God, its all a gift.
Lokasi kerjaanku deket pantai yang
pemandangannya bagus, view-nya exciting,
masyarakatnya punya banyak cerita, punya adat dan budaya yang khas. Klop lah
… kalo orang Jawa bilang, kucing nemu
iwak asin
… hahaha.

Pict0028_1Pict0108_1
Pict0148Pict0251_1

 

Pict0228061011_151736_1

061002_151039 061011_150402
061003_120324_1

~ by acang on November 11, 2006.

Leave a Reply