Menemui peradaban di ujung tanduk (2)
Setelah dikepung
kemacetan di Kota Bandung, berangkatlah aku ke Jakarta untuk flight menuju Aceh. Tapi tiket yg ada
hanya sampai di Medan, dan rencananya setelah di Medan 1-2 hari akan langsung
menuju Banda Aceh lewat darat. Wuih, gimana
gak seneng dengernya tuh … bener2 travelling nih critanya. Nun jauh di dalam
hati, berharap sih nanti perjalananya meyusur pesisir selatan Nanggroe Aceh
Darussalam, lewat jalur Meulaboh.
Tapi seperti biasanya,
harapan hanya tinggal harapan … kayaknya berhubung waktu dah kemepetan, jalur
utara lah yang akhirnya kita sepakati. Bersama tiga orang lainnya, P Mardi,
kawan dari Jawa, ditambah dua kawan dari Medan, P Binsar dan P Ginda. Dari dua
kawan Medan inilah, aku lumayan banyak dapat informasi tentang sistem hierarki
dalam masyarakat Batak. Simanungkalit, Sianipar, Nasution, dll. Berangkatlah
kita pas matahari mengundurkan diri, menarik tirai yang sejak pagi dibawanya.
Selain tiga awak, di bagian belakang sudah penuh dengan barang (persis
ekspedisi lah … hahaha) dan komputer.
So pasti seneng lah,
palagi cuaca selama perjalanan juga cukup nyaman. Namun yang namanya perut
ternyata memiliki batas toleransi sendiri, ketika dia harus berdemonstrasi
dengan menyanyikan lagu keroncong-an. Setelah puas berlobi dan bernego ria
tentang tempat makan, akhirnya kawan Medan kita ini memutuskan untuk makan di
Stabat. Jadilah kita makan malam di Stabat. Setelah lagu keroncong sang perut sudah
mereda, dilanjutkan lah perjalanan menuju Tanjungpura. Itu tuh, tempat lahir
seorang sastrawan dari angkatan Pujangga Baru yang sialnya, aku lupa namanya
…. hahaha. Habis, aku belum sempat kenalan, dia udah mati …. sial bener
kan.
Nah, setelah kota
Tanjungpura ini, ada dua kota yang cukup menarik perhatianku, that is Pangkalansusu dan
Pangkalanbrandan. Kenal kan dua kota ini ? Itu tuh, kota yang dulunya –sebelum
Aron di Aceh- merupakan ladang minyak bumi. Cukup menarik perhatian karena
sebagaimana kota dan tempat lain di republik ini yang cukup kaya sumber daya
alamnya, ternyata kota ini sangat lambat menanjak perkembangan usianya. Apa
mungkin dulunya lahir prematur dia yah ? Ato ada masalah serius di distribusi
hasil sumber daya alam seperti halnya minyak bumi itu ? Bukankah di kota tempat
migas berada, lebih sering teradi pemadaman listrik daripada di Jakarta
misalnya ? Mungkin Pangkalansusu dan Pangkalanbrandan telah ketinggalan kereta
sejarahnya, meski tidak seterlambat Papua.
Selepas dua kota tadi,
mulailah masuk perbatasan dengan Aceh, yang disambut oleh pemeriksaan oleh
polisi dan tentara bersenjata lengkap. Yang pertama terlintas di otak sih ….
wah, masih begini juga yah di tanah ini ?? Dan berhubung tampang kita tampang innocent
gitu (hahahaha), pemeriksaan tidak berlangsung lama. Hanya nanya nama, alamat,
no HP .. (eh, kok gini yah …. just
kidding). Sbenernya ditanya soal dari dan mau kemana, tujuannya apa , dan
sempat diperiksa bentar sih barang bawaan di bagasi belakang. Tapi kayaknya
mereka rada males ngliat barang dalam tas yg bejibun itu.
Berhubung
malem, gak bisa deh nikmatin pemandangan kanan-kiri. Satu-satunya yang bisa
menarik perhatian adalah kobaran api dari flare
di areal penambangan migas di Aron sama Lhokseumawe. Di Lhokseumawe juga kita
sempet brenti untuk istirahat ama skalian nyari kedai kopi. It was 2.30 AM. Nah, saatnya mencicipi
kopi Aceh yang banyak orang omongin itu. Emang agak beda sih ama kopi yang
terbiasa kita nikmatin di Jawa. Disini kopinya disaring berkali-kali sampe kopi
yang terhidang hampir tanpa ampas. Dan menghirup aroma kopinya, membuat kita
juga pesan sate padang dan martabak Aceh.
Tapi ternyata …
pemeriksaan yang tadi bukan yang pertama dan bukan yang terakhir. Total ada 3
kali pemeriksaan oleh petugas di jalan, dan ada satu kali tim dari DepHub
mungkin, yang ngadain wawancara dalam rangka OD Survey untuk sistem
transportasi nasional.
Setelah menyetir dengan
metode spiral (hahaha …. istilah baru nih) di daerah Seulawah, Saree, dan
Seulimum … tiba juga akhirnya di Banda Aceh.
Anyway … sebenarnya
miris juga sih. Sudah hampir 2 tahun tsunami menerpa Aceh dan Nias. Sudah
begitu banyak bantuan yang terkirim. Namun, proses rehabilitasi dan
rekonstruksi –setidaknya menurut apa yang aku saksikan- jauh dari apa yang aku
harapkan atau aku bayangkan sebelumnya. Ah, sudahlah … soal ini di bagian
lain saja. Nanti di side B atau bahkan di side X aja.
Nambah Berita (NB –red)
: sori kalo judul ama isinya rada gak nyambung … sebab kopi Aceh terkadang
bisa bikin “teler”

Leave a Reply