Lebaran di tanah Rencong
Lebaran sebentar lagi …
lagu di hari terakhir ramadhan tahun ini nih, lagu lama yang diaransemen dan
dinyanyikan ulang ama Gigi. Yup … besok lebaran nih, dan temen2 yang “ketiban
sial karena berlebaran jauh dari keluarga” ngajakin shalat id di masjid
Baiturrahman. Oke lah … asal bisa bangun pagi aja … hehehe.
Dan ternyata, bisa juga
bangun pagi … hahahaha. Dasar !. Berangkatlah kita ke masjid Baiturrahman.
Bingung juga sih … abis, di jalanan masih sepi banget padahal udah jam
setengah 7. Wah … ada dua kemungkinan nih. Kemungkinan pertama, kita yang
telat, dan orang-orang sudah di mesjid semua. Atau kemungkinan kedua, kita ndhisiki kerso … hahaha. Artinya, kita
yang mendahului. Sapa tahu adat disini shalat id-nya dimulai agak siang atau
lebih siang dari tempat lain. Bingung juga sih … padahal sudah gocekan setir motor. Campur juga ma yang
namanya deg-degan. Apalagi … sesampainya di mesjid, ala makk … tak ada satu kendaraan pun yang parkir dan tak satu
makhlukpun di mesjid. Waduh … jangan-jangan ni mesjid udah shalat id hari
sebelumnya nih (kan ada 2 pendapat soal hari raya Idul Fitri tahun ini, meski
si fitri tak jarang berbeda pendapat).
Untungnya ada yang ngasih
tahu bahwa shalat id-nya bukan di mesjid melainkan di lapangan. Yup, di
lapangan Blang Padang. Huff … lega … campur kecewa. Gimana nggak lega …
berarti kita masih bisa ikutan shalat id. But, kecewa juga ada, sebabnya udah
ada yang dandan rapi-rapi, macak pol,
dan bawa kamera juga … dengan niatan maunya foto di mesjid raya pas Idul
Fitri. Hahaha. Sial (umpatan pertama di 1 Syawal … hehe).
Oke lah … langsung kita
ke lapangan Blang Padang, dan ternyata … kita benar-benar ndhisiki kerso, hahaha. Yang datang dan
terisi baru satu shaf, karena ternyata kita datang emang kepagian. Nah lo …
baru kali ini kayakya shalat berjamaah dapat pahala “kurban sapi”, artinya
dateng duluan dapat shaf di bagian depan. Dan setelah kita, berangsur-angsur banyak
jamaah lain yang berdatangan. Satu shaf, dua shaf, tiga shaf, empat shaf, lima
shaf …. dan
……………………………………………………………….
H u j a n
……………. deres lagi … hahahaha. Sial (umpatan kedua nih) … kacau
bin balau. Dan setelah diumumkan kalo shalat id dipindah ke mesjid raya,
langsung berhamburan ke mesjid Baiturrahman. Sambil nggerundel, seorang temen bilang,” apa juga gw bilang, shalat di
mesjid kan lebih afdhal …”. Alah, bilang aja, lu mau foto2 di mesjid raya.
Belagu lu …
Anyway … saat itu aku
baru kepikiran. Ini kan air hujan. Two
years ago, 26 Desember 2004, di lapangan Blang Padang ini kan ada kegiatan,
ada acara lah yang dipimpin oleh pak walikota. Dan semburatlah orang-orang di
lapangan saat itu menuju mesjid raya. Yup, karena air. Air tsunami. Allah
… rabbana lak al-hamd, alhamduliLlah.
Rupanya saat ini di hari pertama Syawal1427 H, di hari fitri ini, aku (dan
kami) “diperkenankan” ngerasain simulasi kejadian dua tahun lalu. Semburat
menuju mesjid, panik !. Berpikir seperti itu, membuat batinku mengendap … dan
benar-benar aku biarin basah kuyup oleh air hujan. Sebuah “kado” dari Tuhan
yang sangat berharga, priceless.
Sampai di mesjid
Baiturrahman … semuanya pada berebutan markir kendaraannya. Dan berebutan
juga untuk kebagian tempat di dalam mesjid.
Allah … ini baru
air-Mu, bukanlah api-Mu. Entah bagaimana nanti kalau mizan amalku mengantarku menemui api-Mu ? Bagaimana aku mesti
mencari tempat sembunyi, selain menelusup di kebesaran-Mu yang juga
keteduhan-Mu ? Allah … anta al-Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu
Akbar. Laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar. Allahu Akbar, waliLlah al-hamd.
Berebutnya orang-orang
masuk ke bagian mesjid belum selesai, Allah menarik kembali tirai airNya. Dan
menggantinya dengan hangat mentari 1 Syawal. Subahanak .. ya Rabb. Begitu
romantisnya Engkau. Begitu indah dialektika-Mu. Begitu sempurna skenario-Mu.
Dan bodohlah aku yang selalu berprasangka akan setiap scene yang Kau mainkan.
Ya sudah … setelah
bertakbir dan bertahmid sebentar sambil ngerapiin shaf-shaf, langsung dimulai
itu shalat id … tentunya dengan pakaian yang basah kuyup karena kehujanan
(ini tidak berlaku bagi yang datangnya pake mobil, red). Walhasil, pas khutbah setelah shalat … banyak yang langsung
tertidur. Khutbah yang cukup berapi-api ternyata belum cukup bisa menghangatkan
rasa dingin karena kehujanan, hehehe. Dan tanpa komando, “acara inti” dimulai,
yakni take some shots … hahaha.
Dan setelah itu, langsung
kita pulang kembali, dan silaturahmi ke tetangga kiri kanan (eh, sebelah kiri
aja deng, yang sebelah kanan udah pergi duluan keknya). Sebenarnya, dengan satu
harapan … semoga ada yang nyediain sarapan … hahaha, maklum lah, tadi pagi
blom sempat masak. Dan alhamduliLlah … di tetangga, bisa dapat lontong sayur.
Dan berhubung tetanga yang lain sudah pada take
off ke rumah sanak saudaranya masing-masing, maka acara silaturahmi ke
tetangga tertunda. Baru pada sore harinya dan keesokan harinya bisa keliling ke
tetangga di kiri kanan.
Ooppss … iya, ada yang
ketinggalan. Sebelum lebaran, di Aceh ada tradisi yang biasanya disebut
meugang, ada meugang pertama ada meugang kedua. Cuman bukan meugangnya yang aku
ingin cerita, tetapi sehari sebelum meugang. Yup, sehari sebelum meugang, meunasah (mushalla) di gampong (desa) ngadain kenduri (syukuran) khatam tadarus Quran.
Jadi, selain memotong kambing dan sapi, juga banyak warga yang nyumbang makanan
buat berbuka. Dan jumlahnya …. alaa
makkk. Si tokoh kartunnya Warner Bros, Taz(mania), pasti menari gembira.
Pengaturannya kayak gini, dibagi menjadi beberapa kelompok, yang satu kelompok
biasanya maksimal ada 9 orang. Dan tiap kelompok menu makanannya udah komplit
plit. Dari appetite sampe desert, semua dijamin okeh (baik okeh
barat maupun okeh jawa –alias banyak skalee). Tuh potonya …








Leave a Reply