Agama Industri dan Industri Agama
Tuhan kembali menepati
janjinya. Ramadhan kembali membuktikan kesetiaannya.
Dahulu di masa kecilku,
kira-kira di pertengahan bulan Sya’ban orang-orang menyelenggarakan apa yang
dikenal dengan nishfu sya’ban. Seusai
shalat maghrib di tanggal 15 Sya’ban orang-orang berkumpul di surau dan masjid
untuk membaca Al Quran. Dan setelah shalat Isya’, kemudian saling
bermaaf-maafan dengan tetangga dan sanak saudara. Ini dilakukan sebagai
persiapan memasuki Ramadhan. Di daerah Jawa Tengah, dikenal adanya padusan. Di Sumatera Barat juga ada
tradisi serupa. Di Nanggroe Aceh Darussalam juga dikenal yang namanya meugang dan uroe pajoeh-pajoeh. Dan tidak hanya budaya dan tradisi yang
tradisional semacam ini, setiap menjelang dan awal Ramadhan pastilah sms-sms
yang beredar dari satu ponsel ke ponsel yang lain juga bernada serupa tapi tak
sama dengan adat tersebut.
Kalau bukan sekedar
basa-basi dan memang tulus, semua itu adalah sebuah pengakuan yang paling jujur
tentang betapa berharganya yang namanya Ramadhan. Tentang betapa beratnya itu
Ramadhan, sehingga dirasa perlu untuk saling meminta maaf dan keridhaan satu
sama lain. SubhanaLlah. Maha Suci
Allah. Jika diibaratkan pendakian sebuah gunung, seperti yang sering aku
lakukan, maka Ramadhan adalah pendakian yang sangat berat, namun di puncaknya
menawarkan sesuatu yang begitu indah, yang biasanya diisyaratkan oleh Tuhan
dengan berkata bahwa ibadah puasa itu
untuk-Ku. Maka untuk sebuah pendakian, diperlukan persiapan untuk itu,
dengan mengurangi beban yang tidak perlu, termasuk pula dosa, hutang dan
tanggungan antar sesama manusia.
Ternyata memang Ramadhan
itu berharga, begitu berharganya … bahkan bagi dunia industri juga, baik itu
yang 100% kasat mata , 50% kasat mata, atau yang sekedar syubhat kasat mata.
Dunia industri
berbondong-bondong menyambut Ramadhan dengan alokasi dana dan budget yang gile bener. Ramadhan disulap dan dipaket menjadi sebuah
komoditas. Dikemas begitu cantiknya dan menggoda hati, dipajang di etalase yang
bernama headline atau prime time. Dipamerkan di
spanduk-spanduk, layar ponsel, pamflet kampanye pilkada. Maka dai A, ustadz B,
kyai C, mendapat kedudukan yang sama “terhormatnya” dengan para selebritis,
bintang sinetron, komedian dan para entertainer yang lain, meski terkadang ada
juga kasus-kasus yang berbau dianak-tirikan.
Sebuah acara televisi misalnya. Sebuah acara talk show Ramadhan yang
menyandingkan seorang ustadz dengan artis bisa gagal acaranya jika si artis
tidak datang, dan bisa terus berlanjut kalau saja si ustadz yang absen.
Semua acara dan kegiatan
yang ramadhan-oriented membanjir
dimana-mana, bahkan hingga ke kamar tidur pribadi. Membanjiri realitas virtual
kita seperti jebolnya tanggul lumpur panas di Sidoarjo. Maka jargon Ramadhan
sebagai upaya pengendalian diri hanya tinggal berupa jargon. Bagiku pribadi,
ada dua kutub yang sangat berlawanan pada fenomena semacam ini. Di satu sisi
industri-ekonomi-konsumtif mengajak pada pelampiasan, dan di satu sisi Ramadhan
mengajak mengendalikan diri. Masih untung Ramadhan disini bukanlah sebuah
institusi sosial dan sejarah yang formal sebagaimana industri, sehingga
benturan yang frontal dan radikal hanya bisa terjadi di batin setiap shaimin, pelaku puasa, yang notabene
batin itu disepakati sebagai sesuatu yang “abstrak”.
Kalau fenomena semacam
ini terus mengalir di kanal sejarah, bukan tidak mungkin Industri akan menjadi
Agama baru. Industri akan menjadi sesembahan, bahkan menjadi alasan atau reason to excuse. Industri akan menjadi
alamat tujuan, dan agama (dalam hal ini, momen-momen keagamaan) akan menjadi
salah satu komoditas dan “barang jualan”nya. Dan dari sini bisa ada sebuah
“genre” baru industri, yakni Industri Agama.
Tidak menjadi masalah
sama seklai sebenarnya untuk mem-publish
atau meng-ekspos momen keagamaan
sedemikian rupa, namum akan menjadi semacam accumulative
problems of a virtual reality (masalah realitas virtual yang bertumpuk)
jika ekspos itu melebihi dosisnya yang tepat, sehingga –mungkin tanpa sengaja-
menjadi sebuah paket produksi dari industri. Dan yang namanya produksi, sudah
kodratnya menjadi barang dagangan. Dan yang penting dari barang dagangan, yang
pertama adalah kemasan dan suguhannya yang harus atraktif. Soal apakah tujuan
dari di-syariatkan-nya momen atau
ritus itu bisa tercapai, masih sangat bisa diperdebatkan.
Salah satu momen yang
paling bisa dijual juga adalah momen
hari raya Idul Fitri (dan bisa jadi momen hari raya agama lain juga). Mungkin
kita semua ingin menghibur diri. Mencari reason
to excuse. Mungkin karena kita sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam
memang sadar kalau kita sebenarny belum pantas mendapat fitri dari Ramadhan,
makanya kita “merayu” Tuhan dengan meng-agamis-kan diri dengan tetek bengek
acara termasuk dengan realitas virtual itu.
Okelah, kita tengok
kembali dialektika yang dimainkan Tuhan pada saat Idul Fitri tiba. Sunnah untuk
bergembira saat Idul Fitri tiba, namum Allah membenci orang-orang yang
melampaui batas kan ? Maka dari itu Tuhan menegaskan tentang perlunya “bersedih
karena ditinggalkan Ramadhan”. Disini seolah-olah Tuhan mengingatkan kita untuk
tetap pada batas kewajaran nilai dan kontemplasi batin. Maka jika kegembiraan
pada Idul Fitri itu menjadi sebuah kegembiraan karena usainya Ramadhan, -na’udzubiLlah- mungkin kita belum pantas
ber-Idul Fitri, belum pantas menjadi minal
‘aidin wal faizin. Bahkan mungkin belum pantas kita mendapat kado
“Ramadhan”.
Tapi alhamduliLlah, kita masih ingat kapan itu Ramadhan kapan itu Idul
Fitri (meski terkadang kita lupa kalau Tuhan itu Ada). Setidaknya masih ada
yang bisa kita syukuri, sebab rasa syukur yang ikhlas dan benar adalah tiket
untuk bisa ditambah nikmat. Tentunya nikmat menurut Tuhan, bukan menurut hawa dan nafsu kita manusia.
Aku berharap ini hanyalah
sekedar paranoia atau ketakutan yang
berlebih pada diriku. Maklum saja, aku bisa saja disebut seorang yang sakit
jiwa setelah gagal masuk audisi untuk bisa menjadi seorang selebritis, entah
itu selebritis tulen, politikus selebritis, presiden yang selebritis, budayawan
selebritis, atau bahkan ulama selebritis.
waLlahua’lam

Leave a Reply