gadis …
( 4 )
laksana seorang ibu yang begitu suka melihat anaknya berlarian di halaman sambil tertawa gembira, demikianlah denganmu gadis, saat membiarkanku ikut dalam arus keseharian sebuah kota yang disematkan untuknya kata metropolis. ikut berlarian diantara kemacetan. ikut menelusup diantara asap-asap knalpot, meliuk diantara antrian kendaraan di persimpangan jalan. berlomba dengan sesamanya untuk sesuatu yang sebagian besar tak aku mengerti. berkejaran satu sama lain untuk memburu sesuatu hal yang tak bisa kita sendiri menjelaskan. apa mungkin gadis, isi otak dan dadaku juga adalah polusi, racun, dan keinginan yang tak jua dapat aku pahami ?
dan kau pun tetap tersenyum melihatku dari persemayamanmu … tersenyum melihat wajah dan badanku coreng-moreng oleh hitamnya jelaga asap knalpot, iri hati, dengki, nafsu untuk memburu dan ketakutan diburu.
dan untuk itulah aku berterima kasih padamu, gadis. setidaknya agar aku tak terlalu hanyut dalam arus mengejar dan dikejar, larut dalam rombongan yang diburu dan memburu. senyumanmu itu gadis, yang kubiarkan menyita sebagian besar ruang fikir dan logika dalam otak dan dadaku. senyuman itu menarikku ke suatu dimensi baru yang disana aku terus memeras semua yang aku punya. hanya untuk satu hal gadis.
ialah menafsirkan arti senyuman itu …
( … 21.09.06 … )

Leave a Reply