Satu Langkah Sejuta Cakrawala
Beberapa waktu lalu,
kebetulan aku ada acara di Surabaya, dan ndilalah
barengan ama pentas terakhirnya Sawung Jabo dalam tour 4 kotanya yang bertajuk
“Satu Langkah Sejuta Cakrawala”. Rangkaian ini sebenarnya untuk menandai 30 tahun Jabo berkarya
menyuarakan aspirasi dan kreativitasnya di negeri ini. Gak sengaja juga sih,
nonton acara ini. Mungkin ini yang disebut jodoh. Kan sering banget tuh orang
bilang sebuah “kebetulan” dengan idiom jodoh. Mungkin ini juga sebagai pengakuan
jujur bahwa kalo sudah jodoh, ya pasti lah terjadi. Mungkin kalo bahasa
matematikanya, berada pada koordinat ruang dan waktu yang tepat sehingga
“kebetulan” itu terjadi. Dan, itulah jodoh. Dan … cukup soal jodoh. Kembali
ke Sawung Jabo lagi …
Malam itu di Gedung Cak
Durasim Surabaya, diawali dengan prolog testimonial oleh Cak Nun dan pembacaan
puisi oleh Arif Affandi, pentas ini diisi dengan belasan lagu Jabo dari
album-albumnya. Semua lagunya dibawakan secara semi-medley, dan sepertinya
kronologisnya sih, berdasarkan perjalanan hidup seorang Jabo. Kekompakan dan
skill para musisi malem itu, wuih ….
uedan tenan. Mungkin karena aku udah terbuai mimpi grup² band
“konvensional” macam Peter Pan, SamSons, Nidji dan seabreg band pop(uler)
lainnya, maka pas neglihat dan ngedengerin pentas Jabo malem itu …… jeggerrrr, byurrrrr !!!! … seolah-olah disiram
air dingin satu ember penuh. Melek abisss
!!!. Itu soal warna dan corak
musiknya aja lho. Gak usah ditanyain deh soal lirik lagu dan pesan-pesan yang
diusungnya. Kredibilitas Jabo (dan “makhluk² yang satu spesies dengannya”)
dalam bidang “peng-gugat-an” realitas sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Tengok saja sebuah lagu yang sangat populer, Bongkar judulnya … Itu tuh, yang
orang kenal lewat suara Iwan Fals.
Bersama lagu-lagu malem
itu … aku seolah-olah juga menapak tilasi perjalanan sebuah idealisme, khushushan soal seni di kampus. Ketika
arus budaya pop(uler) juga laksana air bah menghantam kampus², ada semacam
kerinduan terpendam akan sebuah seni yang tidak hanya sekedar pop(uler), namun
juga bisa “menggugat”. Dulu sih, jaman
baheula kali, di kampus lazim seni pertunjukan yang menjadi sebuah saluran
untuk “bersuara”, sehingga genre-nya menjadi genre tersendiri bahkan
digadang-gadang menjadi mainstream
tersendiri.
Musisi malem itu –selain
Jabo sendiri-, Inisisri, Totok Tewel, Suzan Piper, Firman Sitompul, Juliyandi,
Hari Pochang, Mukti-Mukti, Gondrong Gunarto, Ary Juliyant, Ucok Hutabarat,
Baruna dan Dony Suwung, menjadi lebur dan satu suara dengan skill dan
kekhusyukan (baca: profesionalisme) yang totalitas. Sebuah cermin bahwa skill
dan idealisme bisa berkelindan, berpelukan dan berciuman mesra. Pokoke yo …. joss tenan.
Anyway … ada yang tahu
gak kira-kira dimana aku bisa dapet VCDnya yah ? Setauku pentas yang di Rumah
Nusantara Bandung, di-vcd-kan ….
“ Kalau batas tak lagi
jelas, mata hati harus awas … “ pesan Jabo dalam salah satu lagunya … dan
rupanya, kerinduan akan pementasan interaktif, komunikatif, dan kontemplatif
semacam ini juga ada di dada setiap yang hadir malam itu, terbukti dengan
larutnya hadirin dengan aliran yang dimulai si Jabo, especially pada lagi
semacam Bongkar, Lingkaran, dan Kuda Lumping. Mungkin saking kangennya –speerti di Bandung- maka mengalirlah Hio
…..
aku tak
mau terlibat segala macam tipu menipu
aku tak mau terlibat segala macam omong kosong
aku mau wajar-wajar saja, aku mau apa adanya
aku tak mau mengingkari hati nurani …
aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi
aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan
aku mau jujur jujur saja, bicara apa adanya
aku tak mau mengingkari hati nurani …
hio, hio,hio,hio,hio…
hio, hio,hio,hio,hio…
o… o…o…
o…. o…o…(tarekkkkk!!)
mulane
dulur
ayo dijogo omongane
lan kelakuane … hio……
aku tak mau bicara yang tentang aku sendiri tidak tau
aku tak mau mengerti kenapa orang slalu mencaci
aku mau sederhana, mau baik baik saja
aku tak mau mengingkari hati nurani …
aku tak mau kehilangan akal sehat di pikiranku
aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan
aku hanya tau, bahwa orang hidup
agar jangan mengingkari hati nurani …

Leave a Reply