road 2 mahameru
It’s been 7 years. In 1999, I and
my college friends made an expedition to Mt. Semeru to reach the summit also
known as Mahameru, at 3676 m asl. It was a beautiful and unforgettable journey,
for me at least.
Berangkat dari Malang menuju Tumpang di siang hari
dengan menggunakan angkutan kota, diteruskan dengan menyewa jeep khusus menuju
pos pertama di Ranupane, sekalian mengurus administrasi dan melapor pada
petugas di Ranupane. Ranupane sebuah desa terakhir di kaki Semeru, dihiasi oleh
sebuah danau (Ranu) didekatnya. Berhubung hari sudah menjelang malam, kita
menginap di Ranupane. Kalo gak salah sih, waktu itu kita cuman pake sleeping
bag numpang tidur di bangunan belum jadi yang kosong. Jadi, gak perlu membuat
tenda. Malem itu juga terakhir kita ngerasain nasi di warungnya Pak Gareng
sebelum memulai perjalanan ke Mahameru. Dan mungkin karena kecapekan di
perjalanan yang menyenangkan (walau tidak nyaman), kayaknya semuanya langsung
tertidur (apa aku yah yg tidur duluan pas itu ? …. hehehe)
Oke then, matahari udah mulai menampakkan diri.
Dan setelah berkemas, kita mulai perjalanan dari Ranupane menuju Ranukumbolo.
Perjalanan yang sebagian besar medannya adalah hutan tropis.
Ranukumbolo adalah sebuah danau lagi, dan merupakan
sumber air terakhir sebelum Mahameru. It was exotic place, and it is still.
Airnya jernih banget. Jenis tanah di danaunya adalah pasir dan bukan lumpur,
jadi setiap diaduk hingga keruh, akan cepat kembali jernih karena pasirnya
langsung mengendap. Kita sampai di Ranukumbolo sekitar jam 2 siang kalo gak
salah. There was an idea to swim, but … it was too cold. hehehe. Dan cukup
menghibur karena pas itu ada beberapa burung belibis yang sedang mencari air
dan kita bermain "cat and mouse" dengan beberapa ekor belibis.
Abisnya, mo nangkep gak dapet-dapet …. hahaha. Awalnya sih, kita mau langsung
ngelanjutin perjalanan ke Kalimati, tapi karena khawatir kemaleman sebelum
mencapai Kalimati, then diputusin untuk menginap di pondok yang ada di
Ranukumbolo.
Kembali matahari menyapa kami di Ranukumbolo. That
was a shiny morning. Memantulkan sinar keperakan dari air di Ranukumbolo.
Setelah berkemas dan bersiap, kita lanjutin perjalanan. Dan oh my God …. kita
disambut oleh tanjakan. Tanjakan lagiii …. it was a good exercise, huh ! …
Tapi rupanya semuanya mendakinya dengan penuh semangat. Ternyata ada
"udang di balik batu". Hehehe. Legendanya sih, siapa yang bisa melalui
tanjakan ini tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, akan lancar dalam urusan
cinta. Thats why it’s called "tanjakan cinta". Perjalanan antara
Ranukumbolo dan Kalimati cenderung datar. Medannya sebagian besar berupa sabana
dan beberapa kelompok hutan kecil dengan vegetasi cemara dan pinus. Mengingat
luas areanya, tidak jarang korban tersesat pada track antara Ranukumbolo dan
Kalimati ini. Think we were blessed. Sabana terak
hir di serah Kalimati
didominasi oleh vegetasi Edelweiss. Dan saat itu, sedang musim berbunganya sang
edelweiss. Oh, thank God …. it was a rare experience … surrounded by the
edelweiss perfume …
Dan setelah beristirahat sebentar di Kalimati, we
decided to go straight to Arcopodo. But … medannya itu lho … ampun dah ….
!! Tanjakan terusss …. Akhirnya dengan semangat hidup segan mati tak mau,
terpaksa kita jalanin, walau tiap lima langkah berhenti buat ngatur napas ….
hehehe.
Udah deh … singkat aja, daripada ngos-ngosan
…sampai juga di Arcopodo sore itu juga dan kita putusin ngecamp disono,
preparing for the summit.
Again, we fell a sleep soon … cause the same
reason, kecapekan. dan … dingiinnn. udah deh, mending mlungker di dalem
sleeping bag ….
Then, it was 2 am … preparing the way to summit. Mengingat medan menuju
puncak Mahameru yang berpasir dan perjalannya di tengah malem, semua barang yg
gak perlu kita tinggalin di tenda di Arcopodo. Oksigen yang lebih tipis
daripada di ketinggian noemal in daily lives, membuat ngos-ngosan …. ditambah
lagi keterbatasan pandangan di tengah malem, plus tidak ketinggalan, dinginnnn
…. dibela-belain berangkat jam 2 malem biar bisa dapet sunrise di puncak
Mahameru, dan alhamduliLlah, aku bisa sampe juga. Thank God for this
opportunity. I’ve stood on the roof of Java island, 3676 m.
Oh iya … there was one unforgettable experience there for me. Waktu itu,
waktu Subuh masuk pas posisiku lagi di bawah puncak dan pas beristirahat. Eh
ndilalah … ada batu besar di deketku yang permukaanya rata, yah seluas
sajadah lah. It was Semeru provided me the praying mat, i say … Dan disitu
aku bisa shalat subuh sambil sesenggukan, for whatever reason that i’ve come
that far. Oh Lord …. it was so beautiful, come to You this close …
dan setelah puas menikmati berada di atapnya pulau Jawa … kira-kira jam 8
pagi, kitapun meluncur turun kembali ke Arcopodo. Dan setelah packing semuanya,
kita langsung straight back to Ranupane …. dengan beristirahat sebentar di
Ranukumbolo. Sampai di Ranupane sekitar jam 7-8 malem dan tahu nggak ?? Hal
pertama yg kita lakukan di Ranupane adalah mengunjungi Pak Gareng dan melepas
kangen pada yang namanya Nasi Rawon …. hahahaha …. that was great times,
apalagi mengingat masa-masa setahun sebelumnya 1998 yang penuh
"perjuangan" …
dedicated to : Oik, Katong, Puput, Helmi, Yudo, Yudi, Inan, Syukrie, Reza,
Yasin
pictures from : own collection, summitpost.org, other sources




kapan yah saya bisa nyampe ke mahameru
Hairunnisa said this on August 14, 2006 at 2:24 am