gadis …
( 2 )
bolehkah aku merebahkan
rasa lelahku di pangkuanmu, gadis ? merasakan kembali belaianmu yang datang
bersama gemericik air yang menelusup diantara rambutku. membasuh juga lusuh
debu yang tertinggal di sekujur rasa letihku, sisa perjalanan kemarin. ada rasa
kehilangan yang mendekapku menyaksikan seorang sahabat terpenjara oleh (rasa)
sukses. dalam beberapa hal, ternyata air mata kesedihan juga adalah milik
kesuksesan.
bernyanyilah untukku gadis.
aku ingin segera tidur dan bermimpi, diantar oleh suara nyanyianmu. suara
nyanyian yang darinya burung belajar berkicau. suara nyanyian yang darinya angin
belajar mendesau lembut. suara nyanyian yang nada-nadanya menjadi pedoman bagi
air untuk senantiasa mengalir. suara nyanyian yang darinya seorang bayi belajar
menangis. aku berjanji akan selalu belajar untuk senantiasa membuka telinga dan
menajamkan pendengaran untuk bisa mendengar suara nyanyian semacam itu.
cukuplah bagiku mendengar
suara nyanyian semacam itu, walau semestinya aku tahu bahwa engkau sebenarnya
sedang mengajariku untuk bisa bernyanyi dengan nada dan bahasa semacam itu
kepada dunia. nada yang (seharusnya) menuntun semua makhluk kepada Tuhannya.
bahasa yang (seharusnya) dialiri ruh kejujuran dan kebenaran. tapi kau tahu
kan, kalau mulutku selalu saja tak mampu mengeluarkan suara semacam itu.
nyanyian itu hanya terhenti di leherku, yang sejenak kemudian ia merambat
menuju mataku dan menjelmalah ia menjadi air mata.
pada apa dan siapakah aku
hantarkan air mata itu, selain hanya kepadamu ? di tengah hiruk pikuk diluar
sana, gadis, air mataku dan ribuan saudaraku menjadi barang dagangan, menjadi pelengkap
proposal-proposal, menjadi pembenaran bagi sebuah kejahatan. air mata semacam
ini juga telah dipaksa untuk tidak lagi menjadi dirinya sendiri. kalaupun kami
harus menumpahkan air mata ini di puncak gunung atau di tengah hutan belantara,
ia hanya akan bertahan hidup sekejap saja, bukan ? seperti kau pernah katakan
dulu, di hilir sana, telah menunggu racun-racun untuk merenggut kesucian air
mata semacam ini.
kalau nanti kau anggap aku
telah cukup tertidur dan sudah waktunya aku kembali dari mimpi, bangunkanlah
aku gadis, dengan cara engkau tadi mengantarku tidur …
( … 22.08.06 … )

Leave a Reply