header image
 

The Day After Tomorrow

Banjir bandang (flash flood) yang melanda beberapa daerah di Sulawesi dan banjir hebat yang melanda beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera, seperti teriakan alam untuk menegaskan eksistensinya dan ke-subjek-annya. Bahwa alam dan lingkungan hidup di sekitar kita adalah juga makhluk Tuhan yang memiliki hak dan kewajiban seperti yang Tuhan fitrah-kan pada dirinya, seperti halnya pada makhluk bernama manusia. Bahwa alam juga adalah subjek dan bukan semata-mata objek penderita dari perilaku dan habit manusia. Ia bukan hanya maf’ul, tapi ia juga fa’il yang ikut berpengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia.

Beberapa hari yang lalu, aku iseng nonton VCD "The Day After Tomorrow", dan setelah dipikir-pikir, ternyata tesis yang mendasari film itu adalah "global warming" yang menyebabkan "sudden-freeze". Itu berdasar novel dan bukti bahwa ditemukannya fosil mammoth yang di tubuhnya masih ada makanan dan tumbuhan segar yang mengindikasikan bahwa mammoth tersebut beku dalam sekejap (sudden-freeze). Tapi, bukan sudden-freeze ini yang menjadi masalah, karena untuk keperluan film, memang semuanya dibuat menjadi hiperbolik. Namun sebuah bukti bahwa pemanasan global mengakibatkan tingkat mencairnya gunung es di kutub utara makin cepat sehingga makin banyak air tawar yang masuk ke laut, mengakibatkan tingkat keasinan air laut (salinitas) menjadi terganggu kestabilannya dan ini merubah perilaku arus samudera di dunia yang dikenal dengan "great ocean conveyor belt". Pendek kata, perubahan semacam ini juga berimbas pada siklus hidrologi, yang di dalamnya berkaitan dengan curah hujan yang tidak biasa.

Curah hujan ? Yup, that’s it. Saat aku ikut di pekerjaan yg berkaitan dengan banjir bandang di Mojokerto, dari data yang ada terungkap bahwa curah hujan saat terjadinya bencana begitu tingginya bahkan melebihi curah hujan tahunan. Itu juga terjadi pada banjir bandang di Jember. Gampangnya, air hujan yang harusnya satu tahun ternyata turun dalam satu hari itu, ya jelas saja banjir. Dan ini diperparah oleh ketidakmampuan ekologinya. Baik itu kemampuan tanah menyerap air, kemampuan akar-akar tanaman mengikat butiran tanah, maupun hilangnya daerah resapan air. Itu juga terjadi saat banjir di Sinjai kemarin, seperti pada gambar di bawah :
Indonesia_trm_2006172_lrg_2

Tingkat_kederasan

dan berdasar teori terganggunya conveyor-belt dan terganggunya siklus hidrologi, maka dampaknya adalah semakin dekat ke arah khatulistiwa, maka curah hujan akan semakin tinggi meski musimnya adalah kemarau, dan semakin dekat ke arah antartika, akan semakin sering terjadi badai topan (typhoon). Ini semua konsekuensi logis, dan mengikuti diagram-alir / flow chart / hukum alam / sunnatullah, yang telah di-fitrah-kan oleh Tuhan kepada alam.

Akibat lain dari perubahan iklim global ini adalah kekeringan yang dahsyat, karena bumi tidak mampu menyimpan cadangan air dan air hujan yg turun lebih banyak yang menjadi limpasan permukan, padahal dengan makin banyaknya populasi, kebutuhan terhadap air akan juga meningkat.

Lalu, ada juga yang menyebutkan bahwa semua ini adalah adzab / hukuman Tuhan. Ada juga yang menyatakan bahwa ini adalah peringatan dan semacamnya.

Sebenarnya ada benang merah antara kedua hal tersebut, antara "kediktatoran" Tuhan dan hukum alam yang berlaku. Yup, Tuhan memang berhak menghukum dan memperingatkan manusia, namun Tuhan sendiuri sangat "setia" dengan janjinya. So, Tuhan menghukum dan memperingatkan manusia dengan tetap "mematuhi" formula dan rumus yang telah ditetapkannya. Maha suci Tuhan, tak pernah ada peristiwa dan kejadian yang "lepas" dari "rencana" Tuhan.

Dalam banyak hikmah dan kata-kata bijak yang biasanya diobral sesudah terjadi sebuah bencana, sering disebutkan bahwa kita harus introspeksi dan merubah perilaku kita. Namun, dasar kita masih gundul-pacul, maka tingkah polah kita adalah gembelengan, yang pada puncaknya adalah sikap cengengesan, main-main.

Tuhan "menugaskan" alam semesta untuk menjadi lahan bagi khalifahnya. Dan tugas khalifah adalah meng-khalifah-i alam semesta sebagai bukti cinta kepada Tuhan. Bukan men-dzalim-i alam semesta sebagai bukti keserakahannya.

Jika dengan semua yang telah terjadi di sekitar kita, perubahan iklim, tata kelola dunia global, biasnya nilai-nilai, pola interaksi dalam masyarakat yang menyedihkan, pergaulan budaya yang riskan, dan hal lain tidak mampu merubah perilaku, entah sampai kapan semua ini akan berakhir.

"Bumi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi TIDAK AKAN PERNAH CUKUP untuk memenuhi keserakahan manusia" (Mahatma Gandhi)
"Oil is too valuable to burn. When we run out of it, will we fight one another for the last drop ?" (Shah Iran, 1979)
"Cintailah yang ada di muka bumi, niscaya yang di langit akan mencintaimu" (Muhammad)

~ by acang on July 11, 2006.

Leave a Reply