- skotoma -
sebuah berita yang cukup mengejutkan tentang kekerasan di masyarakat kembali terdengar diantara riuhnya berita dan reportase tentang bencana alam. Disebutkan bahwa telah terjadi carok massal di sebuah daerah di madura. Sebenarnya tidak ada masalah dengan berita itu. Prasyarat 5W dan 1H sudah bisa disebut terpenuhi. Tapi satu hal yang agak mengganjal, yakni digunakannya istilah CAROK. Sepanjang pengetahuanku yang terbatas dan tanah airku yang di Madura, Carok lebih aku artikan sebagai sebuah cara TERAKHIR paling "primitif" dan tradisional untuk menyelesaikan sebuah masalah, khususnya yang bersifat prinsip -dimana masalah keluarga (istri) dan tanah adalah yang paling banyak mendasari sebuah peristiwa carok ini. Yup, sebuah jalan terakhir apabila jalan musyawarah sudah mentok.
Saat aku masih kanak-kanak, awal 80-an, Carok masih "steril" sebagai sebuah kosa kata dari inetrvensi dan interpretasi bebas. Biasanya, carok dilakukan satu lawan satu sampai salah satunya ada yang mengaku kalah (lebih banyak yang mati biasanya). Dan setelah itu, sang pemenang akan menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang dan menjalani hukuman sebagai konsekuensinya. Dan tidak ada dendam.
Namun, kemudian carok mengalami pembiasannya sebagai istilah, dan lebih dikedepankan unsur kekerasannya, dan seringkali disebut sebagai institusionalisasi kekerasan dalam budaya madura. Then, mungkin ada yang beranggapan bahwa aku menjadi pendukung carok. It doesnt matter, hak setiap orang untuk memberikan judgement berdasar POV-nya. Tapi, aku tegaskan kalo aku bukan pro ataupun kontra dengan carok. Tergantung dimana carok itu terletak di persilangan waktu dan tempat.
Lalu, kemudian ada lagi istilah baru, carok massal. terus terang, aku langsung tertawa mendengar istilah ini. Mana ada carok massal ? Yang massal itu kan tawuran … Mungkin karena terjadinya di Madura, pake clurit, dan atribut kemaduraan yang lain … maka sah saja "membajak" carok itu kepentingan (industri) berita dan informasi.
Memang sih, bajak-membajak istilah sudah bukan barang baru. Sejak tahun 1 sampe sekarang, banyak istilah yang (sengaja) dibiaskan maknanya untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dan kebanyakan kita menelannya mentah-mentah tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Mungkin gigi kita sedang sakit, mungkin lidah kita sudah mati rasa, mungkin pula karena kita malas. Istilah macam teroris, globalisasi, jihad, liberalisme, pluralisme, pemimpin, rakyat, pembangunan, penindasan, pendidikan, pembodohan, dan segerobak istilah atau yang lainnya. Bukan lagi hak istilah itu memperkenalkan dirinya sendiri, melainkan merupakan satu paket makro dari si empunya kepentingan.
Sifat dasar manusia yang skotomatis (dari kata skotoma, yang artinya keterikatan manusia kepada sebuah ikon atau simbol) menjadikan pembajakan istilah sebagai sebuah cara yang ampuh dalam dunia propaganda dan penyebaran opini publik.
Who rules the media, rules the entire world ….

Leave a Reply