Sekolah mendidik (melacur ?)
Beberapa waktu lalu ada sebuah reportase di sebuah stasiun televisi tentang dua orang siswi yang terpaksa "mendaftarkan diri" untuk menjadi pelacur di sebuah lokalisasi. Siswi kelas 1 SMU ini menerima ultimatum dari pihak sekolah, yakni melunasi tunggakan SPPnya atau keluar dari sekolah. Ah so …. cul de sac !!
Kasus seperti ini hanya sebagian kecil percikan api dari "side effect" institusi bernama sekolah. Belum tuntas soal kelulusan, standardisasi, taraf hidup pendidik yang menyedihkan, siswa / siswi yang bunuh diri, demo orang tua siswa, sekolah yang mau ambruk … (atau jangan² memang pendidikan kita yang sudah ambruk ?)
Sekolah, sebuah institusi yang diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi peningkatan kualitas kemanusiaan, telah kehilangan ruh-nya.
Sekolah -tentu tidak semuanya- disadari atau tidak, telah "melacurkan" pendidikan pada kepentingan sebuah "industri pendidikan", pada sebuah "ekonomi pendidikan". Bahwa pendidikan seperti halnya waktu, adalah uang. Pendidikan adalah uang. Pendidikan bukan lagi menjadi sebuah proses yang diamanahkan pada sebuah institusi bernama sekolah, akan tetapi telah merosot derajatnya menjadi sebuah komoditi, barang dagangan, di etalase bernama sekolah. Tentu tidak bisa hanya menjatuhkan vonis satu pihak kepada sekolah. Pola sistemik dan terorganisir, telah membentuk sebuah iklim dimana penidikan dan sekolah, seperti halnya siswi diatas, tidak lagi mempunyai pilihan lain, kecuali "melacurkan diri".
Iklim yang sudah mendarah daging, berakar kuat pada pranata masyarakat dan tata dunia baru saat ini, juga mencemari isi kepala setiap orang tua siswa dan calon orang tua siswa. Paradigma bahwa orang bisa bekerja dengan memiliki ijazah, dan ijazah adalah hak prerogatif sekolah (apalagi sekolah favorit, kayak makanan saja), telah merasuk sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadikan kesurupan massal. Mungkin akan ada pembelaan, bahwa sekolah itu penting karena tempat menimba ilmu, memperoleh pendidikan, menjadi pintar, bla bla bla … That’s fine, wajar saja. Akan tetapi menjadi tidak wajar jika kemudian aksioma dan adagium yang ada memutuskan bahwa sekolah menjadi satu-satunya institusi untuk itu, dan karenanya harus dibela mati-matian untuk bersekolah, bahkan dengan melacurkan diri atau gantung diri. Ah, jadi teringat saat thn ‘99 mendaki G.Semeru dan bertemu dengan seorang dr suku Tengger yang sedang berburu. Waktu itu dia bilang," Ah, lapo mas, mati-matian nggolek barang sing gak digowo mati ". Simple but straight !
Harus ada sebuah antibodi atas fenomena kesurupan massal, terutama sebuah kesadaran bersama bahwa pendidikan dan mencerdaskan generasi berikut adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya sekolah. Mari kita "ringankan" beban sekolah dengan ikut memikul "sebagian" tanggung jawab sekolah itu.
Mungkin saatnya setiap orang tua siswa bertanya kepada dirinya sendiri dan anaknya, apakah yang sejatinya kita cari dari sekolah ?? Adakah jaminan bahwa sekolah akan memekarkan benih harapan ??
Atau aku bikin saja mosi tidak percaya kepada sekolah yah …… hahahahaha. Sekolah, Dasar !!!
….. ayoooooo, sek olah …

Leave a Reply