header image
 

seberapa besar bantuan mereka

Ngelanjutin tulisan sebelumnya, mungkin akan sedikit
“menghibur” kalo mencoba mengo-konversi bentuk sinergitas antar komponen
masyarakat dalam upayanya bangkit dari ekses bencana. Maklumlah, “standard”
satuan saat ini (selain Satuan Internasional dan British) adalah kurs mata
uang. So … gak terlalu naif kalau sinergitas tadi juga dinyatakan dalam
satuan mata uang kan. Lets say, it’s the
way to compromize
. This is
civilization, my friend ….
Kalkulasi ini diambil dari http://www.insist.or.id/index.php?lang=id&page=article&id=43
.

 

Rebuilding02Sebuah pertanyaan yang tak sederhana menjawabnya,
tentang seberapa besar sumbangan mereka ? Sifat dari aksi-aksi kesetiakawanan
rakyat itu yang serba spontan, informal, dan tidak tercatat, menyulitkan untuk
menghitung angka-angka pastinya. Tapi, berdasar pengalaman dan pengamatan
lapangan langsung selama dua pekan terakhir, satu perkiraan umum dapat dibuat
sebagai berikut :


(1) Sebut saja ada 30 prakarsa (satuan kelompok relawan dari satu tempat yang
sama) setiap minggu untuk seluruh Bantul dan Klaten. Nampaknya jauh lebih
banyak dari angka ini, tetapi ini kita gunakan sebagai angka rata-rata.


(2) Katakanlah setiap prakarsa tersebut mengirimkam 3 truk bahan bangunan dan 1
truk penuh relawan (sekali lagi, ini angka rata-rata). Agar mudah, kita bagi
saja ketiga truk bahan bangunan itu terdiri dari 1 truk penuh bahan kayu/papan
(rata-rata 4 kubik); 1 truk penuh bambu batangan (rata-rata 600 batang); dan 1
truk penuh anyaman gedhek siap-pakai (rata-rata 200 lembar dalam 40 gulungan).
Harga rerata saat ini di Jogyakarta dan sekitarnya adalah Rp 800.000 per kubik
untuk kayu/papan kelas-2 seperti ‘sengon‘;
Rp 7.000 per batang bambu; dan Rp 50.000 per lembar gedhek kualitas baik (dari kulit-luar bambu, bukan isi
batangannya). Maka nilai sumbangan bahan bangunan ini saja adalah :


30 prakarsa x 4 kubik kayu/papan kelas-2 x Rp 800.000 = Rp 96.000.000;

30 prakarsa x 600 batang bambu x Rp 7.000 = Rp
226.000.000;

30 prakarsa x 200 lembar gedhek x Rp 50.000 = Rp 300.000.000.


(3) Adapun 1 truk penuh tenaga relawan rata-rata sejumlah 40 orang. Tentu saja,
mereka adalah relawan yang tak diupah, namun nilai sumbangan tenaga mereka
harus tetap dihitung. Dalam hal ini, kita gunakan saja upah harian rata-rata
tenaga tukang/buruh bangunan di Jogyakarta, yakni Rp 25.000 per hari; sementara
untuk konsumsi (makan, minum, rokok, dll) adalah Rp 15.000 per hari. Maka nilai
sumbangan tenaga kerja serta biaya konsumsi :


30 prakarsa x 40 orang x Rp 25.000 = Rp 30.000.000;

30 prakarsa x 40 orang x Rp 15.000 = Rp 18.000.000.


(4) Semua truk tersebut disewa seharian (sejak dinihari berangkat sampai pulang
petang/malam hari). Harga di Jogyakarat dan sekitarnya kini adalah rata-rata Rp
300.000 per hari. Sehingga nilai sumbangan dari biaya angkut ini adalah :


30 prakarsa x 4 truk x Rp 300.000 = Rp 36.000.000.


(5) Walhasil, total nilai sumbangan antar warga ini adalah: Rp 522.000.000
(seluruh bahan bangunan) + Rp. 84.000.000 (nilai tenaga, biaya konsumsi, dan
sewa kendaraan) = Rp 606.000.000 per
minggu
.


Sekali lagi, ini belum termasuk sumbangan yang bukan bahan-bangunan dan tenaga
untuk kerja. Anggap sajalah bahwa sumbangan tersebut (dalam bentuk biaya relawan,
harga barang-barang dan ongkos angkutnya) nilainya juga sebesar itu, sehingga
total nilai sumbangan dari kesetiakawan rakyat untuk para korban gempa di
Bantul dan Klaten adalah sekitar Rp
1,2 milyar
per
minggu
. Karena praktis sudah berlangsung selama tiga minggu,
maka total nilai sumbangan tersebut adalah sekitar Rp 3,6 milyar.


Cara lain menghitungnya secara lebih ringkas adalah dengan menggunakan
satuan-biaya (unit cost)
bangunan rumah sementara berbahan kayu dan bambu. Kita bisa ambil prototipa
bangunan rumah sementara tahan-gempa yang mulai diperkenalkan oleh jaringan pos
pelayanan INSIST kepada para korban di Bantul maupun Klaten. Prototipa
(bangunan inti seluas 4 x 6 meter) yang rancangan dasarnya dibuat oleh Ir. Eko
Prawoto dari Yayasan Pondok Rakyat ini bernilai rata-rata Rp 9 juta. Dari
pengamatan lapangan, kami memperkirakan sekitar 600an rumah sejenis dan
seukuran tersebut di seluruh daerah bencana di Bantul dan Klaten yang sudah
selesai didirikan dan dibangun oleh gerakan kesetiakawanan antar warga sendiri,
bukan oleh bantuan atau janji-janji dari luar. Maka total nilai sumbangan
sesama rakyat dalam hal bangunan rumah saja sampai saat ini telah mencapai Rp 5,4 milyar! Ini baru dalam
hal pembangunan rumah-rumah sementara, belum dalam sumbangan lainnya.


Jadi, mengapa masih ada pejabat pemerintah atau beberapa fihak lain yang masih
berpikir untuk mengemis pinjaman baru dari berbagai lembaga internasional atau
donor luar negeri?

~ by acang on July 29, 2006.

Leave a Reply