people power
“Lupakan seruan para
pengkhotbah, para intelektual, para selebriti, yang menganjurkan kepada rakyat
Bantul untuk bersabar. Kita sudah bersabar sejak ratusan tahun yang lalu.
Rakyat kecil sudah membuktikan sepanjang sejarah dan kehidupan mereka yang
serba susah, bahwa mereka lah justru mahaguru kesabaran. Mereka yang sekarang
menyerukan kepada rakyat untuk bersabar, sebenarnya tak pernah mengalami penderitaan
hidup yang memerlukan kesabaran luar-biasa. Kita lah, rakyat kecil ini, yang
tahu persis apa makna kesabaran, bukan mereka,” demikian Cak Nun membuka dialog
dengan hadirin di Imogiri, Bantul, 12 Juli 2006 yang lalu. “Jadi, tak perlu
terlalu pusing dengan semua janji-janji pemerintah yang belum dipenuhi sampai
sekarang”, seru Cak Nun lagi dalam bahasa Jawa ngoko yang disambut
gemuruh oleh massa malam itu. “Apalagi kalau janji-janji itu nantinya dipenuhi
dengan dana utang luar negeri. Ora (Tidak) !!! ”
I think that’s a good prologue for
the community-based disaster management program. Penanganan bencana berbasis
komunitas. Korban bencana tidak lagi direndahkan hanya sebagai manusia yang
perlu dikasihani dan terus meratap, melainkan dimanage potensi dan kekuatannya
untuk bangkit. Berita yang kita lihat tentang ribut dan tawurnya korban bencana
yang menuntut janji, sungguh energi yang amat disayangkan untuk terbuang
percuma. Akan sangat lebih baik kalau energi semacam ini dikonversi menjadi
jalinan sinergi antar komunitas (baca: masyarakat) itu sendiri. Sehingga
bencana yang awalnya (dianggap) musibah bisa dimi’rajkan kualitas dan
kuantitasnya ke tataran rahmat dan karunia. That’s why manusia disebut
khalifah. Dan hal itu telah dan sedang di-amal-kan oleh para korban (dan
beberapa relawan) bencana gempa Yogyakarta. Mereka saling bahu-membahu untuk
kembali recover dengan saling membantu membangun kembali rumah-rumah yang telah
hancur.
Hari Minggu, 18 Juni 2006, sejak pagi
hari sampai menjelang siang, ratusan truk dan berbagai jenis mobil lainnya
secara bergelombang masuk ke kota Jogyakarta dari berbagai arah, terutama dari
arah barat (Jalan Raya Magelang) (lihat foto 1 dan 2). Semua truk dan
mobil tersebut penuh dengan manusia, umumnya lelaki muda dan dewasa, lengkap
dengan peralatan berbagai jenis (palu, gergaji, linggis, parang, dan
sebagainya), bahkan juga bahan-bahan bangunan seperti batu bata, papan,
batangan bambu, bahkan ‘gedhek‘ (anyaman dinding bambu siap-pakai) (foto
3). Ternyata, mereka semua menuju ke tujuan yang sama: daerah bencana
gempa-bumi di Kabupaten Bantul atau di Kabupaten Klaten, bermaksud membantu
secara sukarela para korban bencana disana utuk membersihkan puing-puing
reruntuhan rumah-rumah mereka, juga mulai mendirikan rumah-rumah baru sederhana.
"Ini spontanitas murni",
kata salah seorang di antara mereka. Meskipun ada beberapa orang yang mengenakan
tanda-tanda organisasi tertentu, namun semuanya menolak jika dikatakan ada
kepentingan tertentu dari organisasi-organisasi tersebut. Ketika dihubungi
lewat telepon seluler, Fuad Hidayat M.Si, Ketua DPC PKB Temanggung sekaligus
Sekretaris DPW PKB Jawa tengah, misalnya, tegas-tegas menyatakan tak ada
sedikitpun campur-tangan organisasinya dalam "aksi massa
kesetiakawanan" tersebut, meskipun dia secara pribadi tahu kejadian itu.
"Itu sepenuhnya adalah prakarsa warga sendiri". Beberapa orang dalam
rombongan truk dari Wonosobo dan Puworejo mengaku memang ada kenalan, teman,
atau bahkan saudara di tempat-tempat bencana tersebut, tetapi umumnya mereka
mengambil prakarsa ini lebih karena merasa terpanggil untuk membantu sesama
rakyat kecil yang sedang ditimpa musibah.
Salah satu rombongan yang mengarah ke Kecamatan Pajangan di Bantul, begitu tiba
di desa-desa Sendangsari dan Guwosari, langsung berembug dengan warga setempat
dan kemudian bekerja. Kegiatan utama dipusatkan pada pembersihan reruntuhan
puing-puing bangunan roboh atau rusak, selain mulai mendirikan beberapa rumah
baru sederhana dari bahan-bahan yang mereka bawa (foto 4). Rombongan
dari desa-desa Sayangan dan Talun, Muntilan, Magelang, yang menuju ke beberapa
desa di Kecamatan Piyungan, Bantul, menyatakan akan membantu mendirikan
"rumah-rumah sementara" untuk membantu para korban mengakhiri tinggal
di tenda-tenda darurat, juga karena memang hanya sebatas itulah kemampuan
mereka. Mereka berharap, setelah masa susah saat ini berlalu, para korban itu
sendiri yang akan membangun kembali rumah-rumah mereka sendiri secara permanen.
Mereka bekerja sampai menjelang malam, dengan istirahat sejenak untuk makan
siang dari bekal yang mereka bawa sendiri (foto 5). Mereka pulang
kembali ke daerah asal mereka malam itu juga, tetapi mereka mengatakan akan
datang lagi pada hari minggu berikutnya. Bahkan mereka merencanakan akan
melakukannya selama beberapa hari minggu berikutnya lagi, mungkin dengan sistem
bergilir per desa dari daerah asal mereka masing-masing.

Seluruh rangkaian aksi kesetiakawan spontan itu berlangsung sangat wajar, tanpa
hura-hura peliputan media massa (tercatat hanya koran lokal ‘Kedaulatan Rakyat’
yang memberitakan seadanya pada edisi Senin, 19 Juni 2006). Media-massa selama
ini umumnya lebih bersemangat menyiarkan kegiatan para pejabat dan selebiriti
yang membawa sumbangan dan bantuan. Padahal, aksi spontan rakyat semacam ini
sebenarnya sudah berlangsung sejak minggu pertama setelah gempa-bumi pada
tanggal 27 Mei 2006, meskipun yang terbesar dan nampak lebih teroganisir dengan
baik adalah yang terjadi mulai hari minggu kemarin. Banyak warga Jogyakarta
menyatakan terkejut, sekaligus terharu, menyaksikannya. Mereka merasa senang
karena tradisi kesetiakawanan spontan, murni, semangat gotong-royong, terbukti
belum sepenuhnya punah di kalangan rakyat awam. Beberapa orang menegaskan bahwa
seharusnya itulah yang diorganisir secara sungguh-sungguh oleh pemerintah
daerah dan organisasi-organisasi sosial saat ini. Misalnya, kerjasama bilateral
antara pemerintah Bantul atau Klaten dengan pemerintah kabupaten-kabupaten
terdekat yang tidak tertimpa bencana. Juga dengan organisasi lain atau lembaga
perguruan tinggi.
Jika melihat proses dan hasilnya,
juga potensinya, maka sangat masuk akal saran agar pemerintah daerah, juga para
korban sendiri, tidak terlalu menggantungkan harapan pada bantuan dari luar,
apalagi kalau hanya janji-janji muluk dan pinjaman (utang luar negeri).
Spontanitas antar sesama warga dan rakyat yang terjadi pada hari minggu kemarin
itu membuktikan bahwa masayarakat kita masih memiliki sesuatu yang bermartabat
dan patut dibanggakan.
berita dan foto dari http://www.insist.or.id/index.php?lang=id&page=article&id=40

Leave a Reply