header image
 

lets strengthen ourself

Baru saja aku ama temen-temen nyelesain perencanaan sebuah gedung 6 lantai, dibawah
bimbingan seorang master struktur. Generally, gak ada masalah, kecuali pada
lantai 6, arsitekturalnya menghendaki sebuah ruangan sebagai aula dengan tanpa
kolom di bawahnya dengan bentang yang cukup besar, 18 m. Bayangin aja, ada plat
beton diatas bentang sedemikian dan tanpa kolom yang menyangganya, Anyhow, gak
mungkin kita merekayasa beban (luar) yang akan diterima struktur. Artinya, gak
mungkin beban yang bekerja pada struktur diminta berkurang (misalnya berat
plat, beban angin, beban hidup, beban gempa dlsb). That means yang harus
direkayasa adalah struktur itu sendiri. Dengan berbagai trial and error,
modifikasi sana-sini, mulai pendimensian balok, struktur rangka batang (baja),
balok grid, etc, akhirnya ada juga solusinya.

Gdg

Ada satu hal yang aku bisa jadikan pelajaran dari
problem diatas, yang nurut aku bisa jadi solusi praktis bagi berbagai persoalan
yang sedang dihadapi, mulai skala perang Israel-Libanon, utang luar negeri,
maupun pengananan pasca bencana (alam), yaitu bahwa jangan (terlalu) berharap
pada perubahan “beban luar”, melainkan fokus aja pada “modifikasi dan rekayasa
struktur”. Kenapa ada kata “terlalu”, dan bukan “jangan berharap ,,,” saja ??
Sebab ada perbedaan antara masalah teknologi dan sosiologi.

 

Misalnya saja soal perang Israel – Hizbullah (atau
Israel-Palestina ?). Aku asumsikan saja lah pressure dan serangan Israel adalah
“beban yang bekerja” pada sebuah struktur yang bernama Hizbullah (Palestina ?).
Daripada menghabiskan tenaga dan biaya mengemis dan merengek pada Israel dan
Amerika untuk menghentikan serangan, lebih baik dialokasikan untuk memperkuat
struktur lain yang akan mampu mengimbangi serangan dan pressure itu. Then, ada
yg bilang … ah, ngajak perang terus ni anak !. Maybe yes, maybe not. Kalau
memang sudah tidak ada yang mau mengalah dan ngotot, jalan diplomasi buntu,
lobi-lobi menemui cul de sac, perang
harus menjadi jalan terakhir. Tapi, yang aku maksud memperkuat diri itu, antara
lain solidifikasi (nah, bahasa opo maneh
iki ?
) misalnya, di pihak Palestina sendiri (Hamas-PLO-Fatah-Hizbullah-dan
entah apa lagi) atau juga solidifikasi “pihak diluar AS-Israel”
(PBB-OKI-G8-Liga Arab- dan entah apa lagi). Outputnya sih, -sebagaimana masalah
gedung tadi- pressure dan serangan tadi (beban luar) bisa ditahan oleh struktur
yang ada. Perlu juga diingat bahwa, eskalasi konflik di kawasan “promised land”
ini adalah juga akumulasi berbagai preseden yang ada sebelumnya.

 

Begitu juga masalah ketergantungan dan sakauw-nya
Indonesia kepada suntikan narkoba yang biasanya bernama utang luar negeri,
kapitalisasi (kesehatan dan pendidikan utamanya), atau juga ekspektasi
berlebihan masyarakat pada pemerintah. Daripada mengemis dan merengek (bahkan
cenderung “menjilat”) untuk di-utang-i lagi, mending memperkuat strukur dalam
pranata negara dan masyarakat sekaligus. Ketahanan mental (yang paling penting
!!!), ketahanan ekonomi, ketahanan budaya, dan entah apa lagi. Mungkin kita
sudah sedemikian percayanya bahwa negara kita ini benar-benar janda tua yang
miskin, sehingga tidak bisa hidup tanpa menghutang. What an ironic, kata Al Anis Morisette (hehehe)

 

Dan yang paling baru dan klise … soal penanganan
bencana (disaster management). Dalam buku besar-nya disaster management yang
diterbitkan oleh PBB, sidah dijelaskan tentang community based disaster
management, penanganan bencana berbasis komunitas. Yang kata kuncinya adalah
tidak lagi menganggap korban bencana sebagai pihak lemah, melainkan sebuah
potensi besar untuk kembali bangkit dan menjadi lebih baik. Sehingga tidak
mabuk para korban itu oleh janji-janji bantuan yang (sebagian besar) tinggal
janji, melainkan sesegera mungkin meng-convert ratapan dan kesedihan menjadi
sebuah energi baru untuk bangkit. Why not ?? Contoh konkrit keberhasilan
penanganan bencana macam ini, mungkin di tulisan berikutnya ….

 

 

~ by acang on July 27, 2006.

Leave a Reply