- Indian Ocean Dipole -
Berita kekeringan yang melanda Indonesia cukup mengerikan (dan akan
terus berlanjut ?). Bagaimana tidak? Ada berita tentang orang yang minum dari
air yang sama yang dipakai sebagai tempat mandi kerbau. Ada yang harus berjalan
sekian kilometer demi hanya beberapa liter air. Ada yg harus mengais-ngais sisa
sungai yang memang telah mengering. Dengan menafikan analisis mistis ( …
hehehe ), akan selalu ada penjelasan ilmiah untuk segala sesuatu, termasuk pula
kekeringan ini.
Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipole
Mode (DM) event. Mungkin jarang sekali istilah ini terdengar, apalagi jika
dibandingkan dengan el-Nino dan el-Nina.
Seperti halnya el-Nino dan el-Nina, DM event ini adalah sebuah anomali iklim
yang cukup ekstrem. Dan salah satu akibatnya mulai menimpa Indonesia dan masih
akan terus berlanjut. IOD atau DM event ini sebenarnya adalah anomali pada suhu
permukaan laut (SST-Sea Surface Temperature) di Samudera Hindia (Indoa Ocean).
Secara singkatnya, ada perbedaan suhu permukaan laut di Samudera Hindia dimana
suhu permukaan laut samudera hindia di bagian timur (Indonesia) lebih dingin
daripada di bagian barat (di India).
(Image based on data from the IRI/LDEO
Climate Data Library )
Bersamaan dengan fenomena ini, maka
arah angin dengan kuat akan bertiup dari timur (Indonesia) ke barat (India -
benua Afrika). Maka akibatnya, curah hujan di Indonesia akan semakin rendah
sedangkan di Afrika akan semakin tinggi. DM event ini berlangsung antara Juni -
Oktober. Gambar berikut adalah gambar dari TRMM (Tropical Rainfall Measuring
Mission) hasil kompilasi curah hujan rata-rata selama 30 hari terakhir.
( courtesy of : TRMM
– Tropical Rainfall Measuring Mission )
Dengan curah hujan yang sangat minim
(bahkan di beberapa tempat NOL mm/hari), maka masuk akal tentang bencana
kekeringan yang sedang melanda ini.



Leave a Reply