Pembunuh Itu Bernama SEKOLAH (pendidikan)
Dia menyeringai menjanjikan. Seringai-nya yang menjanjikan banyak hal di masa depan seperti lambaian tangan bidadari. Dia merasuk sampai ke tulang sumsum setiap manusia di tanah ini. Dia menjadi racun yang larut dalam aliran darah dan desah nafas. Di hadapannya, narkoba, HIV/AIDS, flu burung, busung lapar, gempa bumi, banjir bandang maupun tsunami, menjadi seperti anak ingusan saja. Dia membunuh tidak dengan wajah sadis, tidak dengan mengayunkan pisau kematiannya secara langsung. Dia hanya membisikkan mantra, dan semua korbannya akan dengan "sukarela" mengakhiri hidupnya, maupun mimpi dan harapannya. Tidak hanya anak-anak usia sekolah dasar, mereka yang disebut sekolah menengah atas, bahkan yang berada di perguruan tinggi, tak luput dari bisikan mantranya.
Dia bukanlah alat pembunuh. Dia memang tidak mengotori jubahnya dengan darah atau menodai keberadaannya dengan maut. Dia hanya menjadi alasan. Bisikan mantranya beraroma surgawi.
Beberapa waktu yang lalu, dia menjadi alasan beberapa anak terbunuh karena malu menunggak uang sekolah, merasa rendah diri karena belum membayar uang buku, merasa marah dan kecewa diejek teman-temannya karena tidak bisa mengikuti dharmawisata.
Dan korban yang paling anyar adalah beberapa anak yang merasa dikecewakan oleh ketidaklulusan, membuat beberapa anak memutuskan untuk menjumpai sang maut. Ada yang memilih pisau, ada yang memilih obat pembasmi serangga, ada yang memilih bensin dan korek api. Ujian Akhir Nasional menjadi mata pisau -guillotine- yang dipakainya untuk membisikkan mantra-mantra pembunuhnya.

Leave a Reply