menggarap lahan
Sebenarnya malas banget bicara soal
RUU APP yang makin lama makin tidak jelas. Selain karena kuatnya firasat
tentang besarnya motif "non UU" dibalik pembuatannya, juga antara
lain karena sudah begitu banyak UU dan aturan di negeri ini yang hanya menjadi
sekedar pajangan saja, disucikan dan disepuh hingga mengkilap, kemudian
dimasukkan etalase kaca berjejer dengan manekin, sertifikat penghargaan,
ijazah, rajah, jimat, dan piala.
Awalnya aku sudah sedikit sok pintar
dengan "meramalkan" bahwa pembahasan RUU ini akan berlarut-larut, dan
ndilalah, kok ternyata benar.
Berlarut-larut dalam artian bahwa dasar lahirnya RUU yang awalnya dari semacam
kegelisahan kolektif akan kondisi moral dan pornografi / pornoaksi akan
tergantikan oleh agenda-agenda yang tak jelas darimana datangnya.
Dalam sebuah perjalanan, aku sempat
bertemu dengan seorang buruh tani asal Singosari yang saat itu sedang
mengerjakan sawah di Kepanjen. Jarak Singosari dan Kepanjen sendiri lebih dari
20 km jauhnya. Dia bilang hal itu terpaksa ia lakukan karena di Singosari sudah
tidak ada lagi ‘lowongan’ untuknya. Banyak pemilik sawah yang enggan dan malas
menggarap lagi sawahnya. Memang saat itu baru saja BBM naik dan pupuk maupun
bibit tanaman mahal dan langka. Sempat aku menulis sesuatu saat itu dan salah
satu baitnya aku tulis,
…
tak usah lagi menangis pak
memang petani kita sudah menjadi budak
di sawahnya sendiri yang tinggal
sepetak
tak usah lagi meratap kawan
memang petani kita telah lama
kehilangan kemerdekaan
dijajah pupuk
dijajah bibit
dijajah rekayasa genetik
Sang buruh tani itu baru sekitar
setengah bulan menggarap sawah di Kepanjen dan hari itu ia baru saja selesai
mengolah tanahnya. Hal itu, kata dia, sangat penting bagi kualitas beras yang
akan dihasilkan nantinya. Tanah yang sudah dipersiapkan dengan baik, kata dia
lagi, akan membantu tanaman padi untuk tumbuh dengan baik. Seperti rumah yang
sejuk dan menyenangkan, tentunya akan membuat si penghuni akan menjadi betah
dan tenteram. Begitu analogi sang buruh tani. Tentunya jangan berharap sang
buruh tani ini berbicara tentang tingkat kegemburan tanah, tentang sirkulasi
oksigen dalam tanah, pengaruhnya terhadap akar dan bahasa yang ndakik-ndakik lainnya.
Dalam sebuah bidang yang aku ketahui,
yaitu ketekniksipilan, menyebutkan bahwa sebelum sebuah pembangunan dimulai,
hal pertama yang perlu dilakukan adalah Soil Investigation, penyelidikan tanah.
Yaitu sebuah investigasi terhadap tanah di sebuah lokasi untuk menentukan
sifat-sifatnya (soil properties), kekuatan daya dukungya. Kemudian tepat
sebelum pembangunan dimulai, harus dilakukan Site Preparation, mempersiapkan
lahan untuk pembangunan. Dua hal ini (Soil Investigation dan Site Preparation)
sebenarnya sama dan sebangun dengan apa yang dilakukan oleh buruh tani tadi.
SubhanaLlah … demikianlah Allah
"mempersiapkan" kondisi masyarakat yang jahiliyah agar Muhammad bisa
"menggarapnya". Muhammad tidak memerlukan mu’jizat yang secanggih
Musa, tongkat menjadi ular, secanggih Isa, menghidupkan orang mati, Secanggih
Ibrahim, dibakar tapi tidak terbakar. "Keberhasilan" Muhammad
menggarap lahan yang disediakan Allah "menenggelamkan" mujizat
nabi-nabi sebelumnya. Kisah hidup Muhammad yang mengolah tatanan masyarakat
jahiliyah, dan peristiwa hijrah sebagai sebuah momentum sejarah, adalah akhir
proses "mengolah tanah" untuk memulai proses "menanam".
Begitu penting 10 tahun Muhammad "mengolah tanah" menghabiskan waktu
di Mekkah "untuk" dihina, dicacimaki, difitnah, dituduh tukang sihir,
bahkan di-embargo, baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dan proses
"mengolah tanah" ini oleh Allah dinilai cukup, maka Allahpun
"memanggil" Muhammad secara khusus dengan Isra Miraj untuk memberi
Muhammad "bibit" untuk ditanam.
Seorang budayawan asal Perancis pernah
mengemukakan sebuah thesis pada awal abad 17 bahwa suatu saat nanti agama akan
"gagal"mengatasi masalah kekerasan, asusila, dan masalah moralitas
lainnya apabila pilar-pilar budaya dan kultur sebuah tatanan masyarakat telah
runtuh. Mungkin kalau dibahasakan dengan bahasa sang buruh tani tadi, akan
menjadi seperti ini ‘jangan berharap akan tumbuh padi yang bagus kalau tanahnya
tidak dipersiapkan dengan baik’. Sama seperti kalau seorang sarjana sipil
berkata "jangan dulu menegakkan kolom kalau pondasinya belum selesai
dikerjakan’.
Lalu, bagaimana dengan RUU APP, RUU PT
BHN, rencana nuklir Iran, rencana usaha, bahkan konsep Ospek mahasiswa baru ?
Sebuah tanda tanya besar sedang menunggu.
-quote: man arafa nafsahu, ‘arafa
rabbahu-
(malang, 14 Mei 2006)

Leave a Reply