bencana itu …
Sudah sewindu reformasi dan hampir
dua tahun kepemimpinan presiden SBY. pada momen kali ini, belum reda merapi
berasap, gempa mengguncang daerah Yogya dan sekitarnya. Pernah satu saat aku
dengan setengah bercanda dengan seorang teman, kemungkinan sejak dari Nabi Adam
as sampai saat ini, belum ada seorang pemimpin yang dalam masa kepemimpinannya
mengalami bencana alam sebanyak yang dihadapi oleh bapak SBY kita ini.
"percandaan" itu terjadi kira-kira satu bulan yang lalu menyusul
banyaknya banjir bandang dan tanah longsor. Awal SBY menerima tongkat estafet
kepemimpinan, beliau sudah "di-hadiah-i" gempa dan tsunami yang
begitu dahsyatnya. Mungkin inilah yang "menyelamatkan" SBY dari
menerima "kutukan" seperti presiden-presiden sebelumnya, yakni
"digoyang" tampuk kepresidenannya. Kemudian tsunami disusul oleh flu
burung, demam berdarah, banjir, banjir bandang, tanah longsor, gempa, busung
lapar. Maka, isu macam kasus korupsi dana jamsostek (yang melibatkan Wapres),
kenaikan BBM yang beruntun, kenaikan harga bahan pokok, membengkaknya angka
pengangguran, seolah-olah hanya sekedar bumbu bagi bencana-bencana tadi.
Ketika masalah warisan reformasi 1998, yakni pengadilan terhadap mantan
presiden Soeharto, mulai "mengancam" kursi bapak presiden kita,
diguncanglah kota Yogya dengan gempa, yang (lagi-lagi) seperti
"menyelamatkan" SBY. Sebuah plesetan dan joke yang cukup segar
ternyata, mengingat waktu aku bercanda dengan temanku tadi, aku sempat bilang
bahwa bencana ini masih belum selesai dan (besar kemungkinan) akan terus
berlanjut. amhilhum ruwaida, kata Tuhan dalam AQ. …
aku kira cukup soal joke ini …. kembali ke soal gempa di Yogya lagi …
pagi itu, aku lagi di kosan abis jogging pagi, aku lihat air di gelas kok bisa
goyang-goyang gitu, eh ternyata pak de gempa sedang datang menyambangi. dan nun
jauh di Yogya, di daerah yang sedang "awas merapi", dimana mbah
Marijan enggan meninggalkan rumahnya, sedang diguncang gempa yang cukup besar,
5,9 pada skala Richter. gempa yang memporak-porandakan kota yang sedang terlelap
dan bersiap memulai liburannya. melihat besarnya gempa, banyaknya jumlah korban
jiwa, rusaknya infrastruktur, kepanikan massa, besarnya pemberitaan, ternyata
makin menunjukkan bahwa kita pada umumnya, masih belum mencapai maqam seperti
mbah Marijan dalam mengakrabi dan mengenal alam. kita seolah menjadi seorang
diktator atas alam dan lingkungan. alam tidak pernah beraktivitas melampaui
kewajaran dan "keharusannya". alam hanya "bergerak"
berdasarkan hukum-hukum yang berlaku atasnya, yang dalam tataran ilmiah disebut
hukum alam, atau sunnatullah dalam bahasa keagamaannya.
ulah manusia yang seolah menjadi diktator atas alam dan lingkungan menyebabkan
manusia mengeksploitasi alam secara tidak bertanggung jawab, dan gagal
"membaca" akibatnya. menyebabkan manusia merasa lebih
"unggul" dari alam dan lingkungan yang akhirnya menyeret pada sebuah
adagium bahwa "alam harus tunduk kepada kehendak manusia". maka,
ketika alam akhirnya "membuktikan" eksistensinya, manusia menjadi
makhluk yang sangat gagap dan terbelakang.
sebuah fenomena alam tetaplah sebuah fenomena alam yang biasa saja, sesuai
fitrahnya. manusia yang terkadang suka mengklaim sesuatu untuk kepentingan
dirinya. jika ada fenomena alam yang menguntungkan dirinya, maka diklaim
sebagai "sekedar" hasil kepandaiannya semata. jika ada fenomena alam
yang merugikan dirinya, maka cenderung mencari kesalahan pada pihak di luar
dirinya, termasuk kepada alam, sehingga lahirlah istilah "bencana
alam". bukankah fenomena alam akan disebut bencana jika ia merugikan manusia
? katakanlah misalnya tsunami kemarin tidak menimbulkan kerugian, baik itu
moral maupun material, akankan kita sebut fenomena itu sebagai bencana alam,
-meski dengan intensitas dan besaran yang sama ? jujur pasti akan kita katakan
tidak kan ?
sungguh mengagumkan dan susah dimengerti makhluk yang bernama manusia ini ….
gempa yang kemarin di yogya -jujur saja- mendatangkan kekhawatiran bagi aku
pribadi, bahwa penanganannya hanya sekedar "tambal-sulam" dan
"tanggap-cari muka" saja. tidak pernah ada konsep yang holistik, yang
terintegrasi dan memiliki visi jauh ke depan. hanya sekedar
"menolong" korban bencana dan "mengembalikan" ke kondisi
semula, that’s enough. tidak pernah ada konsep untuk meningkatkan ketahanan
masyarakat dan komunitas terhadap bencana atau fenomena alam berikutnya yang
bisa saja terjadi unpredictable. maka jika ada fenomena alam yang kembali
mengakibatkan kerugian, maka hampir dapat dipastikan akan terjadi lagi hal yang
sama, korban yang besar, kerusakan yang parah, kepanikan yang menyiksa …
kapan manusia bisa benar-benar memperoleh hikmah dari belajar kepada alam,
seperti mbah Marijan misalnya ? ….

Leave a Reply