polarisasi ilmu
"Sesungguhnya
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling
(dari keimanan), maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain
Dia. Hanya kepadanya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy
yang agung"
( QS.
at-Taubah ayat 128-129)
Pernah suatu kali ketika sedang stuck di warnet karena download firmware
yang gak kelar-kelar, akhirnya browsingku membawa pada sebuah tulisan (catatan
harian) seorang Helvy Tiana Rosa tentang perjalanannya ke Aceh, yang di sebuah
bagian dia menulis bagaiman seorang mas Willy (WS Rendra) bisa menangis
mendengar cerita Emha Ainun Nadjib tentang peristiwa Fath al-Makkah. Sepotong fragmen dari drama kehidupan
seorang manusia agung, Muhammad. Sepotong fragmen ini sudah cukup menjadi
tafsir ayat pembuka tulisan ini.
Muhammad, seorang yang tidak
pernah mengenal dunia pendidikan (:formal), dus
tidak pernah ada dalam kamus hidup Muhammad yang namanya ilmu dunia (ilmu non
agama) dan ilmu akhirat (ilmu agama). Bukankah dikotomi ilmu menjadi ilmu agama
dan ilmu non agama adalah sebuah pengakuan paling jujur dari ketidakmampuan
kita manusia akan betapa luasnya ilmu Tuhan, al-’Alim ? Bukankah
dikotomi dan polarisasi ini ”warisan” dari kolonialisme panjajahan dan
dilestarikan hingga saat ini. Maka gagaplah umat ini terhadap gelombang deras
globalisasi. Menjadi panik akan derasnya arus pengetahuan yang seolah-olah
”menggugat” Tuhan. Mulai dari teori evolusi, relativitas, kloning dan renaissance pengetahuan khas abad 20.
Bagi seorang Muhammad yang
sudah berhasil keluar dari kepompong dan sekat yang memenjarakan dirinya, yang
terlihat hanya Allah. Kemanapun beliau palingkan wajah, hanya Allah yang beliau
temui. Ini berarti semua ilmu yang terhampar, adalah juga ilmu Allah. Ilmu
datang dariNya, al-’Alim, dan akan kembali kepada-Nya. Inna liLlah wa inna
ilaihi raji’un.
Allah jua
yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi; sesungguhnya Allah Dia lah
jua yang Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.
Dan
sekiranya segala pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan segala lautan
(menjadi tinta), dengan dibantu kepadanya tujuh lautan lagi sesudah itu,
nescaya tidak akan habis Kalimah-kalimah Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
( Luqman
:26-27 )
Dan hal ini menegaskan bahwa
ya ilmu kimia, fisika, biologi, astronomi, sosiologi dan segerobak disiplin
ilmu, adalah ilmu Allah. Termasuk juga ilmu sipil
(ketekniksipilan). Maka dari itu, aku juga pernah menulis bahwa Muhammad adalah
Maha Sarjana Sipil.
Dikotomi ini pada titik
tertentu semakin diperparah oleh cara kita memandang sebuah persoalan, termasuk
juga kisah hidup seorang besar. Umat sering membanggakan ilmuwan muslim masa
lalu sebagai pakar suatu bidang saja dan enggan menggali sosok seorang ilmuwan
(=ulama) secara lebih komprehensif. Misalnya, umat ini mengenal sosok Ibnu Sina
sebagai seorang pakar kedokteran tanpa mengetahui bahwa beliau juga seorang
fuqaha. Dan sebaliknya, umat mengenal sosok Abdul Qadir Jailani sebagai sosok
seorang ahli agama, tanpa mengetahui bahwa beliau juga seorang pakar ilmu
kimia.
Maka, dikotomi semacam ini
juga menjadi batu sandungan dalam menciptakan muslim yang kaaffah, sempurna.
Mungkin ini jugalah sumber perdebatan yang tak kunjung usai tentang
mendefinisikan apa itu ’ulama, walau sebenarnya ada sebuah ketegasan dalam AQ
yang menyebutkan bahwa ulama adalah orang yang paling besar ketaqwaannya kepada
Allah. Dan ilmu adalah sebuah jalan, thariqah,
metode untuk menambah besar ketaqwaan ini.
Dan karena aku –alhamduliLlah-
pernah kuliah di teknik sipil, dan aku bukan siapa-siapa, maka aku hanya bisa
sekedar berbagi pengalaman pribadi. Bahwa ilmu sipil –pun adalah juga ilmu
Allah. Datang dariNya dan pasti kembali padaNya. Bahwa dengan memahami ilmu
sipil (bukan pengetahuan sipil), kita bisa memahami dan menemukan kebesaranNya.
Dalam tulisan Maha Sarjana
Sipil, aku pernah menuliskan bagaimana kita sebenarnya bisa menemukan hubungan
yang subhanaLlah indah antara konsep ”inna liLlah wa inna ilaihi raji’un”
dengan teori ”Origin-Destination” yang dikenal dalam sipil transportasi.
Kemudian konsep keikhlasan
amaliyah dengan diagram alir perencanaan sebuah struktur, sebuah skyscraper structure misalnya. Lalu ada
lagi hubungan konsep aqidah tauhid dengan teknik pondasi.
Proses perencanaan tata lampu
lalu lintas, baik itu pengaturan nyalanya dan durasinya, seharusnya
mengantarkan seorang muslim pada konsep perintah dan larangan Allah yang pada
tujuan akhirnya pada telaga keikhlasan dan benar-benar lapang dada menjalankan
perintahNya dan menjauhi laranganNya. Seorang muslim teknik sipil yang pernah
belajar merencanakan pengaturan lampu lalu lintas pastilah menjadi muslim yang
senantiasa taat dalam keikhlasan dan ikhlas dalam ketaatan.
Semua hal diatas adalah logis,
mengingat formula utama bahwa ilmu sipil juga adalah ilmu Allah dan akan
mengantarkan kita menuju Allah. Sekali lagi, bahwa ilmu itu sama
seperti shalat, puasa, zakat, mengaji dan hal lain. Hanya sebuah thariqah, syariat, metode, cara. Sedangkan tujuannya hanya Sang Maha Tunggal,
Allah. Maka jangan pernah membesar-besarkan sebuah metode, sebab
yang Akbar hanyalah Allah. Alllahu Akbar. Titik.
Semua apa yang aku tuliskan
disini sebenarnya pernah diajarkan oleh Muhammad, seorang buta huruf yang
tingkat transendensinya tidak bisa ditandingi. Tapi, Muhammad tidak
mengajarkannya lewat diktat dan text book. Beliau mengajarkannya lewat perilaku
keseharian dan kehidupan beliau. Beliau mengolah semua langkah hidup dan desah
nafas menjadi jalan menuju Allah. Sedang warisan tekstual beliau yang berupa AQ
dan hadits sebenarnya pula adalah text book dan diktat yang paling sempurna. Di
dalamnya adalah sebuah pedoman tentang bagaimana belajar dari ilmu Allah yang
luasnya tak terbatas ini. Maka tidak heran, seorang Ibnu Sina bisa menjadi
fuqaha dan ahli kedokteran at the same
time. Begitu pula Abdul Qadir Jailani, Khawarizmi, Al Ghazali, dan tokoh
yang lain. Namun tentunya tidak hanya secara tekstual belaka mereka memahami AQ
dan hadits. Pendekatan kontekstual serta mendayagunakan unsur ilahiyah pada
kemanusiaan mereka, yang berupa ’aql
dan qalb (bukan otak dan hati, sebab
otak dan hati adalah materi dan akan musnah). Dialektika antara teks suci,
fenomena sekitarnya, serta prosesor berupa aql dan qalb, melahirkan pengakuan
suci akan kebesaran Allah tanpa harus gagap terhadap perubahan. Mungkin inilah
yang dimaksud oleh Ali ra bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.
Mungkin juga inilah maksud AQ begitu sering menutup suatu ayat dengan frase
”tidakkah mereka berfikir ?” waLlahu a’lam …
Bagi seorang Muhammad, dalam
kamus hidupnya hanya ada satu hal, bahwa ia diutus sebagai rahmatan lil
’alamin, dus ilmu seorang Muhammad
adalah ilmu yang manfaat (’ilman nafi’an).
Kalau kisah hidup Muhammad kita jadikan cermin, maka resultan ilmu yang manfaat
ini adalah Laa ilaha illa Allah. Dan hal ini cocok dengan fitrah ilmu itu
sendiri yang berasal dari Allah dan kepadaNya ilmu kembali. Maka, jika ilmu itu
gagal mengantarkan manusia pelakunya kepada Allah, maka –menurut kisah hidup
Muhammad- ilmu itupun tidak memberi manfaat. Maka semua ilmu, mulai dari
biologi, fisika, matematika, fiqh, tafsir, mantiq, filsafat dan lainnya,
memiliki potensi yang sama untuk mi’raj menjadi ilmu yang manfaat atau
tergelincir menjadi ilmu yang tidak bermanfaat.
13 rabiul
awwal 1427 H
-meaningless gift on the birthday of Muhammad-

Leave a Reply