pendidikan -kah ?
kemarin tanggal 1 april adalah HUT Kota Malang, salah satu kota yang menyandang predikat Kota Pendidikan. Pendidikan ? Yah, pendidikan, sebuah proses mendidik … yang memiliki jarak sangat jauh dengan proses mengajar. Ada jeda yang sangat panjang antara pengajaran dan pendidikan. Pendidikan adalah sebuah pengajaran plus. Kenapa plus ? Karena dari pendidikan (diharapkan) yang tercipta adalah akhlaq, tata cara berprilaku, ber-ilmu (bukan sekedar berpengetahuan).
Maka tidak mengejutkan cerita seorang menteri tentang pendidikan ini. Cukup mengejutkan memang, disaat menjamurnya lembaga pendidkan. Sang menteri berkata bahwa ia sangat bersyukur dulunya bersekolah di madrasah kecil di desa, yang apabila ustadznya tidak ada, maka ia selipkan buku di pinggangnya dan menujulah ia ke kali atau sawah untuk bermain. Sekolah yang cukup memberi ruang bagi jiwanya, sekolah tempatnya ia memperoleh kesenangan, dan bukannya memenjarakan. Tak aneh kalau putri sang menteri akhirnya lebih memilih Kejar Paket C daripada bersekolah di sebuah sekolah unggulan, dan terbukti potensinya lebih mampu berkembang dengan baik.
Maka tak aneh pula mendengar cerita seorang pematung dari sebuah daerah di Jawa Barat yang memutuskan untuk "mengeluarkan" anaknya dari kuliahnya di Unpad, sebuah PTN, dan lebih "menyekolahkan" sang anak pada sekolah yang sesungguhnya. Walau harus menjalani beberapa waktu, sang anak akhirnya bisa berkata bahwa keputusan terbaik yang pernah diambilnya adalah "keluar dari Unpad".
Well ………. Ivan Illich pernah berkata bahwa "Sekolah Itu Candu" …. maybe that’s rite -at all.
Dan tak mengejutkan jika seorang Bapak di sampingku dalam perjalanan dari Yogya ke Malang bercerita bahwa ia lebih memilih tidak meneruskan sekolah anaknya ke perguruan tinggi dan memilih melibatkan kedua anaknya pada usaha pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Ia -sambil tersenyum- berkata bahwa lebih baik "menginvestasikan" uangnya pada pemberdayaan daripada pada sebuah industri (kapitalis ?) bernama universitas.
Pengakuan getir seorang menteri pula yang mengatakan bahwa pada realitasnya lebih banyak orang pintar dan smart namun gagap menghadapi perbenturan budaya dalam setiap upayanya menerapkan pengetahuan yang ia punya.
Bisa direnungkan pula pendapat seorang WS Rendra bahwa semua sistem yang berjalan di negeri ini sebenarnya merupakan kontinuasi dari sistem Hindia Belanda. Termasuk pula pendidikan. Bahwa dulunya pemerintah Hindia Belanda memang membuka sekolah keteknikan dan kedokteran (MULO) dan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi bumiputera untuk memasukinya. Juga sekolah hukum di Jakarta. Namun sayangnya, sekolah-sekolah ini tanpa didampingi oleh ilmu humaniora dan a kind of ethical act untuk mendampingi ilmu tersebut (kedokteran, teknik dan hukum). Ketiga sekolah ini tidak didukung oleh kegiatan research yang membumi, yang di negeri Belanda sendiri tidak demikian adanya. Maka teknik, kedokeran dan hukum menjadai "menara gading" dan terasing dari realitas di lapangan. Jangan heran kalau ada dokter "memeras" pasiennya dan sang dokter sendiri menjadi "tawanan" perusahaan farmasi. Jangan heran kalau ada pembangunan sebuah infrastruktur dengan cara menggusur dan mendzalimi. Jangan heran kalau ada hukum bermuka dua, atau ada hukum tak bernurani.
Namun, Cak Nun berkata bahwa dalam hujan yang sangat deras pun bisa kita dapati celah untuk mementaskan rasa syukur. Putusan MK menyatakan bahwa anggaran pendidikan haruslah 20% dari APBN adalah salah satu panggung untuk mementaskan rasa syukur tersebut. tahhadduts bin ni’mah. tantangan selanjutnya adalah memastikan 20% ini benar-benar tersalurkan dan dialokasikan pada yang semestinya.
Bahwa ada arus mainstream untuk "meng-go private-kan" lembaga pendidikan sehingga -dalam prakteknya- fungsi komersialnya lebih mengemuka daripada fungsi mendidik, adalah sebuah realitas yang ada. Saatnya tidak menggantungkan proses pendidikan pada lembaga dan institusi pendidikan formal, dan menoleh kepada alternatif yang lain.
Bukankah sebuah hal yang memalukan sekaligus memilukan, bahwa setiap tahun banyak sarjana yang lahir, namun bangsa ini tak kunjung entas dari rasa kehilangannya. Bahwa setiap tahun banyak wisuda dilakukan, namun budi pekerti dan akhlaq menjadi sebuah mimpi …

Leave a Reply