header image
 

menggugat kesempurnaan

damn … its 4 in the morning , gak bisa tidur , hidung meler !!

ah .. mang gw pikirin, sapa juga yg perlu tidur ni malem ? bukankah tidur adalah ‘akibat’ dari ‘ngantuk’ saja toh ? lalu, kenapa tidur harus dibuatkan aturan protokoler harus sekian jam sehari, posisinya begini begitu, jam-nya dari jam sekian ampe jam sekian, dst dst. memangnya tidur pegawai atau karyawan dari sebuah sistem yang setiap datang harus absen dan memenuhi jam kerja ?? enak saja …

sebenarnya siapa atau apa sih yang layak ‘menentukan’ kita harus tidur atau nggak ? apakah keinginan atau kebutuhan ? jika keinginan untuk tidur yang mengatur kita untuk tidur, maka apa bedanya tidur dengan barang-barang pajangan di etalase mal atau plaza ? lalu, kebutuhan ? wah, alangkah bagusnya kalau memang kebutuhan untuk tidur ini yang mengantarkannya. kalau memang kebutuhan, berarti indikator bahwa kita butuh tidur hanya rasa kantuk. that’s all ! tidak lebih. so, kenapa aku jadi manja begini ? gak bisa tidur aja sewot begini ….

wah, jadinya seperti menggugat kesempurnaan maha karya Tuhan bernama manusia dengan sistem metabolisme tubuhnya yang sempurna. gimana tidak ? sistem metabolisme tubuh sudah didesain sedemikian rupa dengan bahasa logika pemrograman yang mengikuti diagram alur yang disebut sunnatullah atau hukum alam. jika A maka B dst. maka jika kondisi organ tubuh menurun pada suatu titik tertentu, maka signal yang dikirimkan ke otak dan ke mata bisa diterjemahkan dengan rasa kantuk. dan itulah saatnya aku butuh tidur …

fuih, memang ternyata manusia dalam tataran tertentu mungkin secara tidak sadar terkonversi menjadi bagian dari suatu mesin industri yang cukup besar dengan sistem-sistem yang sudah managed-well, katanya. waktu A dari jam sekian sampai jam sekian, waktu B dari sini sampai sana,. perkara dalam waktu-waktu tersebut ada sesuatu yang terjadi di luar kontrol dan kebiasaan, itu force majeure, katanya lagi. jadi kalau aku misalnya harus memenuhi kuota kerja yang sekian jam, yang di dalamnya aku ngantuk, maka secara otomatis sistem yang managed-well ini akan memberi label kontra-produktif. lucu sih, tapi memang begitu …

mungkin kebiasaan ini juga yang terkadang membuat kita jadi kurang peka.
kita jadi acuh tak acuh dan menduakan rasa kantuk, hingga tidur kita menjadi kurang pas dosisnya (bisa lebih bia kurang), mungkin karena sistem metabolisme rasa kantuk telah kita langgar. tak pernah kita dengarkan dan ajak dialog makhluk yang bernama rasa kantuk ini demi sebuah sistem lain. just like anime Full Metal Alchemist says, bahwa sesuatu hanya bisa didapatkan dengan mengorbankan sesuatu yang lain. more or less !

yang lebih parah, kebiasaan untuk kurang peka dan tidak mau mendengar menjadi semacam wabah yang menulari tidak hanya sistem kantuk, tapi juga sistem lapar, sistem ekonomi, sistem politik, agama, pendidikan dan sistem kepekaan itu sendiri ….

……………………….. (kalo ngantuk, ya begini ini ngomongnya)

~ by acang on March 10, 2006.

Leave a Reply