liputan
Mocopat Syafaat yang rutin diadakan setiap bulan
terasa sedikit spesial kali ini. Masih dalam bulan Safar, Mocopat Syafaat 17
Maret 2006 seperti membawa semua yang hadir melakukan perjalanan ruhani. Ya
geografis, ya suasana batin, ya situasi dan keadaan.
Alhamdulillah, mocopat syafaat kali ini mendapat
kunjungan beberapa orang tamu istimewa, sehingga panggung yang tidak begitu
besar menjadi sedikit sesak dan berdesakan.
Diawali dengan jamaah shalawat (paguyuban
shalawat) …….. dari Desa Kasihan sendiri yang membuka mocopat ini dengan
tembang shalawat khas daerah Kasihan sendiri. Kidung dari paguyuban shalawat
ini ternyata cukup bagus sebagai starting point bagi perjalanan malam itu.
Sebuah persiapan yang cukup mapan.
Kemudian FSJM melanjutkannya dengan beberapa
pemberitahuan penting tentang kegiatan yang sedang dijalankan FSJM, termasuk
rencana pabrik plastik sebagai sebuah solusi praktis, yang sekaligus
memberdayakan dan memanusiakan para pemulung (plastik). FSJM juga memaparkan
beberapa agenda yang direncanakan akan dijalankan mulai mocopat bulan depan.
Perlahan namun pasti, mocopat syafaat terkesan “mlungsungi” dari
selubung kebesaran Cak Nun untuk menggapai kesejatiannya.
Setalah FSJM, Cak Nun mengawali mocopat malam itu
dengan memperkenalkan tamu istimewa yang hadir. Mereka itu adalah Ibu Cemmana
dari Mandar, Sulawesi Selatan, WS. Rendra si burung merak, mbah Surip, Kyai
Budi Harjono, dan beberapa orang yang lain.
Cak Nun kemudian memimpin jamaah berwirid dan
bershalawat, meleburkan diri dengan kehendak Tuhan. Wirid dari bebebrapa ayat
dalam Al Quran dan shalawat dari Shimthut Dhuror mengawal semua yang hadir
memasuki kosmos cinta segitiga, Allah, Muhammad dan semua yang hadir.
Dan, the journey begins. Setelah cukup
mempersiapkan diri dengan kidung shalawat dari jamaah desa Kasihan dan wirid
dan shalawat, semua yang hadir diajak mengunjungi negeri Melayu dengan sebuah
lagu P. Ramli yang dibawakan oleh mbak Via dan KiaiKanjeng. Tidak berlama-lama
di Melayu, Cak Nun memimpin dengan shalawat badar untuk menyambut kedatangan
Ibu Cemmana di atas panggung. Ibu Cemmana ini, menurut Cak Nun, adalah salah
satu diantara dua tokoh shalawat di tanah air yang mengawal perjalanan bangsa
ini, tanpa diketahui siapapun. Salah satu yang lain adalah Guru Zaini
(almarhum), Martapura. Dan Ibu Cemmana –pun membawa hadirin melakukan
perjalanan ke tanah Mandar, dengan lantunan shalawat yang lahir dari ungkapan
cinta beliau kepada Allah dan Muhammad. Ketika Ibu Cemman yang berusia sekitar
66 tahun usai membawakan 4 lantunan shalawat, Cak Nun kembali memimpin hadirin
untuk melantunkan shalawat Mandar untuk mengiringi turunnya Ibu Cemmana dari
panggung.
Atmosfir spiritual dari perjalanan ke Mandar
kembali ditawarkan dengan tampilnya Mbah Surip yang membawakan dua nomor, yan
penampilannya cukup membuat semua yang hadir tertawa lepas dan demokratis.
Bahwa untuk bergembira, kita sama sekali tidak membutuhkan hiburan-hiburan
artifisial macam yang ditayangkan di televisi, demikian Cak Nun menutup
penampilan Mbah Surip.
Setelah Mbah Surip, Cak Nun dan KiaiKanjeng
memainkan sebuah nomor shalawat An Nabi Shallu ‘Alayh yang dipersembahkan untuk
WS Rendra yang akan membawakan beberapa puisinya. Dalam kesempatan malam itu,
WS Rendra membacakan sekitar 4 buah puisi dan sebuah pantun. Keempat puisinya
banyak bercerita tentang kaum perempuan, sebab kata Rendra, perempuan-lah yang
paling menderita pada setiap pergolakan ekonomi, politik, maupun sosial budaya.
Sebab pada perempuan-lah anak-anaknya bergantung, demikian pula sang suami
ketika usai melakukan aktivitasnya. Puisi-puisi Rendra membawa para hadirin
melakukan perjalanan melintasi waktu, yang salah satunya menuju ke peristiwa
Mei 1998. Dan setelah itu, CN, mas Setheng dan KK, memusik-puisikan sebuah
karya Rendra yang berjudul Sajak Kelaparan.
Usai membacakan puisinya, WS Rendra menyempatkan
diri berdialog dengan para hadirin. Pertanyaan dari hadirin dijawab oleh rendra
dengan gaya bercerita yang khas. Topik cerita yang dibawakannya adalah tentang
kisah hidup seorang WS Rendra. Baik itu kisah hidup kesastrawanannya maupun
kisah religiusitasnya. Semuanya berkelindan rapi dalam kisah hidup seorang
Rendra. Ujarannya tentang manjing ajur ajer dan kisah religi-nya
merupakan bekal dan mutiara yang bisa didapat hadirin malam itu, selain kilauan
emas Ibu Cemmana.
Setelah diaog dengan Rendra usai, dipungkasi
dengan Kalimah oleh mbak Via dan KiaiKanjeng, dan disusul oleh Mas Bram, dan
oleh Kyai Budi Harjono dengan sebuah epilog yang juga cukup segar. Dan doa
malam itu, walaupun dipimpin oleh Kyai Budi, namun isi doanya dipimpin oleh WS
Rendra yang diamini oleh seluruh hadirin.
Perjalanan mocopat malam itu adalah sebuah
perjalanan menjelajah ke dalam diri, untuk menemukan ke”diri”an yang sejati,
tentunya dalam bingkai cinta segitiga, Allah, Rasul dan sesama manusia.

Leave a Reply