Generasi Ketlingsut
Orang banyak yang bilang bahwa dunia pendidikan, especially dunia perguruan tinggi a.k.a mahasiswa adalah dunia idealisme. Sudah sejak lama sejarah dan perubahan mempercayakan bebannya di pundak mereka ini. Masalah tingginya biaya pendidikan, pergeseran lifestyle, atau soal privatisasi universitas dan lembaga pendidikan, itu lain soal. Berdamailah dengan "memaklumi" semua itu sebagai "syarat" memperoleh status mahasiswa. Mungkin letak kebenaran dunia mahasiswa sebagai dunia idealisme adalah bahwa -setidaknya di Indonesia- dunia pendidikan ini adalah dunia text book. Dunianya teori yang diasumsikan ideal dan pas -an sich.
Beberapa waktu kemarin, beberapa temenku waktu masih kuliah dulu sempat datang dan ngajakin nyangkruk. Walhasil, sekitar jam 11 malem muter2 nyari warung kopi yang masih buka (idealnya sih) ternyata terdamparnya di warung STMJ (realitasnya).
Setelah ngobrol ditemani asap rokok dan asap STMJ, ternyata sebagian bahan obrolan kita tuh, lahir dari permisivisme dan apatisme terhadap realitas di dunia kerja. Bahwa saat kita kuliah dulu, ada aturan tertentu tentang kualitas sebuah struktur, tata alur pembangunan sebuah infrastruktur, mulai dari mema’rifati tanah (soil investigation) sampai kepada proses perencanaan (innama amraha idza arada sya’an), metode pelaksanaannya (an yaqulalahu) dan hasil akhirnya njedog infrastruktur itu (kun fayakun). Tapi ternyata realitas lapangan seperti jauh panggang dari api. Meja, amplop, birokrasi, rekayasa, laporan palsu, sudah menjadi makhluk yang kasat nyata, bukan lagi jenis makhluk invisible seperti sebelum2nya. Terus terang sih, aku gak bisa segera paham apakah obrolan kita malam itu adalah sebagai ungkapan protes, sekedar cerita, atau mengeluh. So what gitu loh …
Mungkin apa yang sekarang terjadi pada kita saat ini (dan mungkin berjuta kaum muda di Indonesia, khususnya) bukanlah pada apa yang terkandung dalam obrolan semacam ini maupun pemikiran-pemikiran "berontak" ini, melainkan lebih kepada trigger-nya, sumber pemicunya. Ada sebentuk rasa sunyi, sepi dan yatimnya hati nurani anak muda semacam ini. Sebentuk kehilangan yang pedih akan keadaan yang ideal (probably ?). Penyebabnya bisa bermacam-macam, yang dalam skala makro: generasi ini diajari untuk menggunakan nalar sementara tak pernah ada atmosfir nalar di lingkungannya, diajari untuk bersikap obyektif dan adil dalam kepungan pandangan kecurigaan dan subjektifisme global. Diharuskan membela kehormatan negara sementara keseharian yang dialaminya adalah orang menjadi kaya dan berkecukupan dengan menggadaikan kehormatan negara. Dijejali dengan agama, iman dan tauhid, dan di waktu yang sama diletakkan dalam posisi untuk melanggarnya. Diikutkan berbagai training dan pelatihan pengembangan diri dengan cara positif namun tak pernah menjumpai peluang bahwa semua itu bisa diterapkan. Diajak mengagungkan keluhuran dan kejujuran cinta sementara tradisi yang berjalan adalah pengkhianatan dan kemunafikan.
Maka jadilah generasi macam kita ini generasi kesepian. Ya kesepian individual (yg jomblo jangan tersinggung hehehe) maupun kesepian sosial. yang kesepian sosial ini lebih dikarenakan keluguan berfikir yang remuk berkeping-keping dihantam realitas yang bertentangan dengan semua itu.
Maka jadilah generasi macam ini sebuah generasi ketlingsut seperti yang "dituliskan" Emha Ainun Nadjib sekitar pertengahan tahun 1999. Kehilangan cantolan, bahkan untuk cita-cita luhurnya. Mungkin karena inilah , Soekarno selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit, karena di kanan kirimu tak pernah ada yang benar2 bisa dijadikan gantungan cita-cita … hahaha. Huh, dasar !

I ve been reading along for a while now. I just wanted to drop you a comment to say keep up the good work.
Joan
Tips Beauty
Tips Beauty said this on November 29, 2008 at 8:25 pm