header image
 

Orgasme itu bernama Keterbatasan

Ada sebuah cerita menarik …
ini terjadi pas aku kuliah, mungkin sekitar tahun ke 2. waktu itu aku tinggal
di asrama yang tahu sendiri-lah. Kamar-kamarnya berdekatan satu sama lain. Nah,
suatu saat ada keributan. Ternyata, ada seorang anak yang dilempar dengan gelas
oleh yang lain. Untungnya sih, luput. Selidik punya selidik, si pelempar
rupanya merasa terganggu dengan suara radio yang mampir ke kamarnya yang
asalnya dari kamar anak yang dilempar. (hehehe, yaopo wan, rasane dibalang
gelas karo arek timor leste … oops !)

Waktu itu
pastilah yang dilempar nggerundel,
sambatan,” orang radio punyaku sendiri, aku nyalain di kamar sendiri, ngapain
dia sewot”. Dan tentunya si pelempar juga punya justifikasi sendiri,” ini
kamar, kamarku. Ngapain tuh suara radio ikutan masuk kesini”

 

Kalo
dipikir-pikir, mungkin mereka berdua adalah sosok demokrat sejati, yang
memperjuangkan demokrasi dalam kesehariannya. Namun, satu hal yang dilupakan,
adalah keterbatasan. Terlupa mengolah batas-batas. Bahwa kebebasannya memainkan
radio dibatasi oleh kenyamanan tetangganya, dan kebebasan menggunakan kamar
dibatasi oleh kenyataan bahwa ia hidup dalam lingkungan yang beragam.

 

Mungkin
akan menyenangkan menceritakan kisah ini kepada harian
Jyllandsposten Denmark yang akhirnya dilempari gelas
oleh kaum muslim di seantero dunia
.

Sekali lagi, ini adalah soal mengolah batas. Batas adalah
sebuah keniscayaan, mungkin seperti juga perbedaan.

 

Mungkin
Tuhan hanya akan tersenyum simpul di singgasananya melihat polah manusia yang
tak kunjung sanggup mengolah keterbatasan dan hanya bisa mengolah kebebasan
(baca: melampiaskan). Seolah-olah Tuhan sedang njarak-i manusia, memanggul kebebasan itu mudah, bahkan
binatang-pun secara naluriah bisa. Namun nilai manusia adalah pada kemampuannya
mengolah batasan-batasan.

 

Waktu Ia seolah-olah memberikan
Adam kebebasan menikmati apapun di surga, Ia memberikan batasan agar Adam
jangan menyentuh sebuah pohon. Dan terbuktilah, bahwa Adam juga “gagal”
mengolah keterbatasan, hingga akhirnya menjalani “hukuman” dilempar dari surga.
So, ketidakmampuan manusia mengolah keterbatasan adalah “dosa warisan” mbah
buyut kita, Adam. Kalau dirujuk lebih jauh, bahwa keterbatasan itu sangat
nikmat rasanya … jadi, misalnya Adam berhasil mengolah batasan yang diberikan
Tuhan, mungkin kita gak akan pusing dengan kenaikan harga BBM, harga TDL,
pendidikan dan kesehatan yang makin mahal, korupsi, petani yang jadi budak di
sawahnya sendiri, dan lain-lain.

 

Mau bukti
?? Orgasme salah satunya …

Lah, apa
hubungannya orgasme dengan keterbatasan ??

 

Lho,
bagaimana sih ? Bukankah orgasme itu sebuah bukti bahwa yang namanya
keterbatasan itu nikmat ? Coba bayangin kalau Tuhan memberikan kemampuan seks
yang begitu luar biasanya sehingga manusia tidak bisa mengalami orgasme. Orang
Jawa bilang, lek gak lecet, lecet koen
(oops … ini masuk pornografi apa pornoaksi yak).

 

Mau bukti
lagi ??

Cobalah
berpuasa … apalagi di hari yang sangat panas dan melelahkan. Pasti semuanya
setuju kalau seteguk air pas berbuka sebegitu nikmatnya. Untung puasa itu
dibatasi sampai waktu berbuka saja. Coba kalau gak dibatasi ….

 

Mungkin
sebuah bukti terakhir adalah kematian …

 

( bersambung, entah kapan )

 

~ by acang on February 3, 2006.

Leave a Reply