… ah so …
Cukup lama tak kujumpai ia sahabat lamaku, yang
tertimbun sepi dan sunyi … meringkuk dengan damai di sudut –ah, tidak, dia di
tengah-tengah adanya- zaman.
Satu hal yang kusuka saat berbincang dengannya,
bahwa aku bisa telanjang setelanjang-telanjangnya. Tanpa ada yang perlu
kututup-tutupi, sebab dia begitu tahu tentangku bahkan hingga desah nafas dan
detak jantungku. Di hadapannya aku begitu mengerti dan paham makna kejujuran.
Seperti pesan ibuku.
Begitulah, begitu di hadapannya, tumpahlah semua
tumpukan sampah dari keseharianku.
Kemarin, kataku, aku tercebur dalam lingkaran
birokrasi yang ternyata sedemikian berbelit-belit adanya. Seperti
berputar-putar dalam labirin. Mencari ujung pangkal yang tak kutahu pasti ada
tidaknya. Setoran-setoran yang menjadi wajib di sana-sini. Apakah memang
sedemikian adanya ??
……………………………… ah, i dont
think so, jawabnya
Pernah pula aku tersesat dalam rimba belantara. Aku
dikepung orasi, teori, opini, ayat suci, hujjah. Dikepung teriakan-teriakan
lantang, kering kerontang. Tak kudapati adanya cinta disana. Tapi, seperti kau
bilang, tak kubiarkan diriku menjadi bingung. Aku hanya merasa hilang. Adakah
memang ini rimba belantara itu, ataukah hanya aku yang berhalusinasi ?
………………………………. ah, i dont
think so, kata dia lagi
Begitu pula saat aku di podium itu, tubuhku
dibungkus jubah hitam itu. Mereka menyebutnya toga. Aku tersenyum seperti ada
sesuatu yang lucu. Entah apa itu. Tapi kemudian, aku seperti orang asing, tak
lagi mengenali diriku. Saat itu, gemuruh di dasar jiwaku yang tak kumengerti,
hingga detik ini, apakah itu menangis atau tertawa. Yang aku tahu pasti,
sedemikian berlimpah orang sepertiku, berjubah hitam ini, namun nasib bundaku
pertiwi tak juga lebih baik. Bundaku memang tak lagi menangis, habis air
matanya. Bunda hanya tersenyum, walau perih hatinya menghunjam dan merajam
jiwaku.
………………………………… ah, i dont
think so, ujarnya
Aku punya seorang teman, dia seorang pecinta,
menurutku. Di hatinya hanya ada cinta, dan tidak ada ruang bagi yang lain. Saat
cinta itu mendorongnya menolong seorang pejabat, dianggapnya menjilat. Saat ia
menolong seorang perawan cantik desa, diangaapnya naksir. Saat ia menjadi
labuhan duka seorang pelacur, dianggapnya dia pelanggannya. Saat seorang
bajingan terseok langkahnya, dia meminjamkan kakinya. Tapi tak henti dia
disirami tuduhan. Hatiku seperti terbakar, tapi tak mampu aku berbuat apa-apa,
sebab dia selalu saja tersenyum. Tak bisakah cinta dan kebaikan itu berdiri sendiri
? Tak bisakah cinta dan kebaikan itu tampil telanjang, tanpa busana pamrih atau
kepentingan ? Ataukah budaya dan peradaban kita sekarang tak memberi ruang lagi
bagi cinta semacam itu ?
………………………………… ah, i dont
think so, sambutnya lagi
saat dadaku kosong –pun, kutanyakan pada sahabatku
ini ….. dont you think so ??
…………………………………. ah so !

Leave a Reply