Pencarian ?
kayaknya tulisan sebelumnya berlanjut neh …
kemaren malem pas listrik lagi inna liLlah, tahu-tahu ada seorang temen dateng dan cerita hal yang sama …. mengukur sebuah kepantasan. dan alhamduliLlah listrik mati, jadi gak perlu sungkan untuk sesekali menangis, tertawa, dan berekspresi. bahwa sekali waktu dalam hidup, akan ada masanya datang pertanyaan paling mendasar tentang diri kita, yang tak kan pernah usai. tinggal apakah kita yang peka akan datangnya pertanyaan ini. siapakah yang disebut aku, dan siapa atau apakah yang di luar aku ? mozaik kehidupan yang menyuguhkan ribuan hal -yang sebenarnya lebih banyak tak terpahami- seperti potongan-potongan jigsaw yang akan kita kumpulkan untuk sekali waktu akan kita susun dan akan kita gabung, seperti yang dilakukan Musa setelah ditinggal Khidhir.
sesungguhnya kau tak akan mampu bersabar, ujar Khidhir kepada Musa. dan Musa membantahnya, namun perjalanan hari meng-iya-kan perkataan Khidhir.
pertanyaan² mendasar ini pernah juga menyergap dan mengepungku dari segala arah, datang tak mengenal waktu menembus batas ruang. datang sebagai potongan-potongan kecil yang lebih nampak sebagai sesuatu yang meaningless, -namun seperti Musa- baru terkuak tabirnya saat "Khidhir telah pergi".
mungkin karena seperti inilah hidup mengalir, maka Adam haruslah di surga dahulu sebelum di-teletransport-kan ke bumi. maka Musa harus kinthir di arus Sungai Nil sebelum menghampiri istana Fir’aun, maka Ibrahim harus menjadi "anak asuhan rembulan" sebelum mengalungkan kapak di berhala sesembahan Namrudz, maka Muhammad sang cahaya harus sering-sering mengakrabi kesunyian dan kesendirian -sesekali ke Gua Hira- sebelum menggigil dalam dekapan wahyu.
dan mungkin karena inilah, maka sebelum illaLlah , harusla laa ilaha …. -waLlahu a’lam
mungkin karena inilah, maka temenku tadi bilang sungguh benar-benar berat perang dengan diri sendiri, dan untuk inilah rasanya Tuhan menciptakan waktu ….

Leave a Reply