header image
 

mengukur kepantasan

seperti halnya tahun sebelumnya, banyak banget sms yang masuk di kisaran lebaran kemaren, yang sebegitu banyaknya, ampe HP aku tuh tobat …. yang isinya, yah …. ucapan selamat idul fitri dalam segala bentuk dan spesiesnya, dalam berbagai bahasa dan mungkin juga bervariasi rasanya (emang permen …)

… dan celakanya (nah lo), gak ada satupun yang aku bales …….

bukan apa-apa sih … tapi masalahnya aku pikir ada di aku-nya gitu loh. semua ucapan selamat idul fitri itu kan diberikan dengan sebuah anggapan bahwa ia yang kita beri ucapan selamat adalah karena ia mendapat sebuah "prestasi" tertentu (di bulan ramadhan) sehingga layak mendapat ucapan selamat. nah … sedangkan aku ? apa sih yang telah aku lakuin selama ramadhan -esp. kemaren ? kalo mau jujur … nothing !! … semua apa yang telah aku lakuin untuk mengisi Ramadhan kemaren kayaknya gak ada satu hal pun yang membuatku layak memakai baju toga ke-fitri-an dan diwisuda sebagai ‘aidin wal faizin. waLlahu a’lam. satu-satunya harapan hanya rahmat-Nya … insyaAllah.

so … setiap sms ucapan hari raya buatku kemaren itu rasanya seperti sebuah tudingan yang menghunjam dan menyudutkanku. membuatku kembali melihat ke dalam, melakukan inner journey. membuatku terdiam, gak bisa bilang apa-apa, mungkin hanya sekedar menyalahkan diri sendiri. that’s why aku harus ngucapin thanks berat buat semuanya yg telah sudi ngeluangin pulsanya buat ngirimin aku such kind of message. dan sekaligus maaf kalo gak aku bales ….

sebenernya ada juga sebuah fenomena sosial dan spiritual yang menarik dari new habit kita saling berkirim ucapan selamat hari raya lewat sms. sebuah gaya hidup tekno yang mungkin menyangka bahwa mengirim sms (atau bahkan call) sudah cukup, dan tak lagi perlu untuk datang menjabat tangan membaca wajah dan ekspresi, saling bersimpati dan berempati dengan bahasa tubuh. tentunya lain hal dan urusan dengan yang memang tidak memungkinkan, kecuali sms dan call menjadi satu-satunya alternatif yang ada. sapa yg tahu, misalnya, saat seseorang ngebales sms ucapan hari raya dengan ungkapan (yang itu-itu aja …. hehehe), ternyata saat itu ia sedang menangis karena sedang menghadapi masalah berat misalnya. so, ucapan-ucapan itu menjadi hambar dan hilang maknanya serta kesuciannya dan turun derajatnya menjadi sekedar basa-basi belaka.

iseng juga saat traffic sms lagi peak, aku coba mencari Tuhan … dan melebar ke segenap gegap gempita dan hingar bingar suka cita manusia menyambut idul fitri. dimanakah Tuhan adanya diantara itu semua ?? apakah yang penting saat itu ? kegembiraan akan datangnya idul fitri ? kegembiraan dengan berakhirnya puasa ? baju baru, makanan, saling jabat tangan ? lagu-lagu islami di televisi ? busana-busana islami di catwalk kehidupan ? manisnya ucapan selamat idul fitri ?
ataukah memang Tuhan tak pernah begitu penting dalam kehidupan dan tak pernah benar-benar menjadi subjek ?

waktu aku ngobrolin soal ini ma temenku, dia bilang," alah, dapuranmu cang …. ngomong ae ngeman pulsa, dadi gak mbales sms. ngono ae mbulet …. "

hayo …. kapan kapokmu, cang …..

~ by acang on November 13, 2005.

One Response to “mengukur kepantasan”

  1. heheeh tul memang sih kenyataanya begitu seandainya saya berada dipihak mas acang saya akan melakukan hal yg sama tapi gak selamay gak ditanggapi kayak begitu mas

Leave a Reply