Puasa dan Keterbatasan
Dalam dunia desain keteniksipilan, untuk setiap perencanaan yang
dilakukan selalu ada pembatasan-pembatasan tertentu. Dalam dunia mekanika
bahan, sesuatu yang membatasinya adalah karakteristik bahan itu sendiri. Jenis dan
berat beban yang dapat diterima baja atau beton yang identik tidaklah sama,
sebab memang baja dan beton memiliki karakteristik bahan yang berbeda.
Untuk perencanaan alignment jalan raya, juga diasumsikan terlebih dahulu
kecepatan kendaraan yang diperkirakan melewati jalan tersebut.Ada yang namanya kecepatan rencana dan kecepatan
maksimum.
Kenapa harus dilakukan pembatasan ?. Pembatasan menjadi penting, sebab
jika sesuatu tidak dibatasi, akan membawa pada kehancuran yang identik dengan
kematian. Jika perencanaan struktur tidak melihat batasan karakteristik bahan,
maka yang terjadi adalah kehancuran bahan tersebut.
Puasa yang dilakukan oleh manusia dengan syariat (tata cara) dari Tuhan
juga mengajarkan keterbatasan. Bahwa puasa itu dilakukan dari mulai waktu imsak
sampai maghrib aja, sebab kalau Tuhan tidak membatasinya, maka puasa pun akan
membawanya menuju kematian. Maka dari itu, dibatasinya puasa kita hingga waktu
maghrib saja. Dengan berpuasa, seolah-olah kita diajak melancong ke tepian
jurang kematian, namun tidak sampai terjatuh ke dalamnya. Setelah seharian kita
berpuasa, seolah-olah semuanya ingin kita makan saat berbuka nanti, namun saat datang
waktunya berbuka, kita diajari untuk menyadari bahwa perut kita terbatas jua
adanya.
Betapa penting dan nikmatnya keterbatasan
Bahwa semua hal perlu dibatasi, tanpa kecuali, karena ketidak terbatasan
itu adalah milik Tuhan dan jika itu dipakai manusia atau makhluk, maka
kehancuran ato kematian lah yang akan dijumpainya.
Kekayaan yang tidak dibatasi bisa membawa pada kematian. Kematian standar
kelayakan hidup, ato juga kematian sebagian nilai-nilai hidup bagi pelakunya,
seperti kepekaan. Kekayaan yang tidak dibatasi juga dapat membunuh pelakunya
dalam siksaan rasa kurang yang tak habis-habis. Kemiskinan yang tidak dibatasi
juga akan membawa kepada kematian. baik itu kematian semangat hidup maupun
kematian dalam arti yang sebenarnya.
Dan bukan hanya kekayaan atau kemiskinan. Semua hal perlu dibatasi.
Kepandaian dan kebodohan. Kekuasaan dan keterjajahan. Sebab manusia adalah
makhluk yang diciptakan dengan keterbatasan-keterbatasan tertentu. Bukankah Tuhan
tidak pernah menyukai orang-orang yang melampaui batas ?
Sering disampaikan bahwa esensi puasa adalah menahan diri atau
mengendalikan diri. Bukankah mengendalikan diri ini adalah semacam kemampuan
kita untuk menciptakan batas-batas dalam setiap desah nafas kehidupan kita dan
terus berupaya mematuhi batas-batas itu. Dan proses pembelajaran kita
menciptakan batas-batas itu adalah proses hidup itu sendiri, yang jika
dinikmati akan sangat mengasyikkan.
Aku sendiri sih, juga sedang belajar mengolah batas-batas. Walau hingga
saat ini apa yang aku tahu adalah bahwa dalam satu detik aku gak perlu menarik
nafas ampe 50 kali, karena itu berlebihan.
( 09.10.05 ; gak iso turu, rek )

Leave a Reply