Adzan di Langit Moscow
Cuaca musim dingin ini membungkus
tubuhku, membuatku menggigil. Tapi, dingin yang keluar dari luka batinku yang
membuatku membeku, hingga untuk menggigilpun aku tak kuasa.
“Kalau engkau masih tetap pada
pendirianmu, maka jangan sebut nama mama lagi. Jangan pula berharap mama akan
membiayai kuliahmu. Mulai saat ini, mama adalah orang lain bagimu.” Inilah yang
membuatku membeku. Bahkan desah nafasku juga enggan bergerak. Waktu juga seakan
berhenti. Apakah aku tidak bermimpi ? Apakah aku tidak salah dengar ? Benarkah
kata-kata ini yang aku dengar dari orang dari orang yang tak asing bagiku ?
***
Aku masih mematung disini, di
persimpangan jalan ini. Entah berapa lama aku disini, aku juga enggan untuk
mengerti. Biarlah … aku juga tak peduli. Tapi satu yang pasti, aku harus
mampu bangkit dari semua ini. Bukankah setiap manusia du dunia ini sejatinya
adalah pejuang, yang senantiasa berperang dalam pertempurannya sendiri ?
”Aku harus tegar,” bisikku
lirih, ditelan cuaca musim dingin ini.
***
Sepulang dari kampus sore ini,
kulihat surat dengan logo sebuah perusahaan di bawah pintu apartemenku.
Alhamdulillah, aplikasiku untuk perusahaan tersbut diterima. Dan ini berarti
hari-hariku pasti akan semakin melelahkan.
Dan memang benar-benar hari
yang melelahkan. Kuliahku yang menyita waktu, ditambah dengan pekerjaan ini. Tapi,
mau bagaimana lagi ? Untuk saat ini, aku tak punya pilihan lain. Tapi setelah
beberapa bulan berselang, aku bisa merasakan ada yang tidak beres dengan
tubuhku. Aku merasakan mulai cepat lelah dan berbagai keluhan lainnya. Memang
manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan, tubuhku juga, ujarku. Yang
Tak Terbatas hanyalah Dia. Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas bisa
benar-benar dan sungguh-sungguh memahami Yang Tak Terbatas ?
***
Demikianlah, setelah itu,
hari-hariku masih kujalani dengan rutinitas yang biasa, hingga siang itu …
Ya, siang itu … aku merasakan
pinggang kiriku sakit sekali. Begitu sakitnya, hingga aku tak sadarkan diri.
Begitu sadar, yang aku lihat
adalah sebuah ruangan. Tapi, tunggu. Ruangankah ini ? Kalau ini memang sebuah
ruangan, dimanakah batas-batasnya ? Kenapa tidak ada sudut ? Kenapa tidak ada
pintu ? Lalu, kalau ini memang bukan ruangan, lalu apakah ini ? Dan yang lebih
mengherankan lagi, saat aku lihat diriku sendiri, aku hampir-hampir tidak
mengenalinya ? Kalau ini bukan aku, lalu siapa ? Tapi, di luar semua itu, aku
merasakan hening yang luar biasa. Hening yang berbicara. Baru kali ini aku
mengerti bahwa keheningan bisa juga menyampaikan sesuatu. Aku merasakan
hening itu. Tapi aku juga serasa sedang berbincang-bincang dengannya. Ya, ini
hening yang berbicara. Begitu damai. Aku biarkan diriku mengalir bersama hening
ini. Lembut. Lalu kemudian, samar-samar aku mendengar suara seperti lebah yang
mendengung. Lalu, perlahan-lahan semakin jelas. Do’a. Ya, tak salah lagi. Ini
adalah suara orang-orang yang berdo’a. Aku tersenyum. Begitu indah ternyata
sebentuk doa. Begitu wangi ternyata sekuntum doa. Tapi, tunggu. Kenapa aku
mendengar namaku dalam doa itu ? Aku tajamkan telingaku untuk mendengar lebih
jelas lagi. Ya, tak salah lagi. Itu namaku. Tapi, kenapa namaku ada dalam doa
ini ? Siapakah orang-orang ini ? Ada apa denganku, sehingga namaku terselip
diantara kelopak doa ini ? Perlahan-lahan tergambar dalam ingatanku semuanya. Mamaku
yang begitu marah padaku. Kekhawatiran akan kuliahku. Diterimanya aplikasiku,
dan siang itu, ketika aku tak sadarkan diri. Ya Rabb … apakah ? Tak sadar aku
menangis. Hening ternyata juga adalah rahim dari air mata. Lalu doa itu ?
Orang-orang itu ? … Oh Tuhan, ternyata mereka tak asing bagiku, mereka adalah
saudara-saudaraku seiman. Di hatiku dan hati mereka bersemayam Dzat yang sama.
Engkau, ya Rabb. Mohon sudilah kiranya Enkau bersemayam di hatiku dan hati
saudara-saudaraku.
Dan setelah doa itu usai
seiring menetesnya air mataku, kini aku mendengar suara adzan. Jelas sekali
kali ini, memecah keheningan yang mengurungku.
Allahu Akbar … Allahu Akbar
Allahu Akbar … Allahu Akbar
Yah, aku dengar suara takbir
ini.
Tunggu, kurasakan bukan hanya
aku saja yang mendengarnya. Langit Moscow juga mendengarnya.
Asyhadu an laa ilaha illa Allah
Asyhadu annaa Muhammad rasulullah
Sungguh, aku bersaksi tiada ilah
selain Allah. Sungguh, aku bersaksi Muhammad adalah rasul Allah.
Tunggu, kurasakan bukan hanya
aku yang mempersaksikan kali ini. Mama Papaku, kurasakan hati nurani mereka
berdua juga mempersaksikan ini. Duhai Tuhan, terima kasih …
Hayya ’ala ash-shalah
Hayya ’ala al-falah
Maha Benar Engkau. Dengan
shalat (ash-shalah) aku buktikan
kesaksianku untuk menjemput keberuntungan (al-falah)
Allahu Akbar … Allahu Akbar
Sungguh hanya Engkau yang Maha
Besar … aku dan semua yang mengaku ada, hanyalah dzarrah semata.
Laa ilaha illa Allah
Sungguh-sungguh tiada tuhan selain
Allah
Terima kasih, ya Rabb, telah
mencintaiku … dan ampunilah aku yang tak jua kunjung mengerti bagaimana mencintaiMu.
Izinkan setiap kesaksianku, shalatku, hidup dan matiku menjadi ungkapan cintaku
… kepadaMu
Malang, 19.03.05
– 09 Shafar 1426
rewrite 03.09.05 … mengenang seorang "aie" menjenguk "imee" , bersama belajar menuju Dieu

Leave a Reply