Sekolah Itu (Candu)
Ana sahabatku,
setelah sekian lama om Ivan Illich menelurkan ide nylenehnya tentang "buat
apa sekolah", mungkin baru sekarang, di negeri ini, telur om Ivan ini
menetas. Belum tuntas riuh rendah tingginya angka ketidaklulusan UAN, datang
lagi gemuruh Penerimaan Siswa Baru. Barangkali om Ivan perlu lah datang ke
negeri ini, sekedar berterima kasih karena mungkin baru di negeri ini hipotesis
dia menemukan bentuk nyata.
Pak De SBY
beberapa saat lalu juga bagi-bagi sms akan bahayanya Narkoba dan zat aditif
lainnya. Mungkin yang perlu dipertegas dan diperdebatkan adalah apa saja sih
yang masuk dalam zat aditif ini. Kalau saja om Ivan sekarang ada di sini, Ana,
mungkin saja ia akan menambahkan lagi dalam golongan zat aditif ini sebuah
barang baru, SEKOLAH namanya. Sudah saatnya disadarkan pula kalo yang namanya
sekolah ini juga bisa bikin nyandu, ketagihan, yang sakauwnya bisa lebih bahaya
dari narkoba. Eh, bukan cuma sakauw-nya lho, harganya juga bersaing dengan
paket SS dan ganja di luaran sana.
Engkau mau bukti,
Ana ? Ah, gak perlu yah, kan sekarang bukan jamannya lagi ngasih bukti. Lagian,
apa engkau sudah sedemikian gak percayanya sama aku ? Apakah kepercayaan juga
semakin langka adanya, setelah BBM dan hutan kita juga langka ? …. Engkau
masih maksa juga minta bukti ? Ah, Ana … kalo engkau memaksa juga, aku
maklum. Bukankah maksa sekarang ini lagi ngetrend ? Pilkada, tuntutan kenaikan
gaji, tuntutan kenaikan tunjangan, demo sana demo sini, bukankah maksa juga
namanya ?
Oke lah Ana,
kalo engkau mau bukti, aku ajak engkau jalan-jalan (semakin lama diem disini,
makin sakauw aku). Kita akan kemana ? Ya tentu saja keliling sekolah-sekolah
itu, tapi bukan untuk sidak dana kompensasi BBM yang dikasih label Biaya
Operasional Sekolah itu, kan kita bukan siapa-siapa, apalagi wakil rakyat.
Rakyat masih cukup waras untuk tidak memilih kita menjadi wakilnya. Kita
keliling untuk ngeliat gegap gempitanya Penerimaan Siswa Baru. Eits, tapi
jangan lupa bawa uang receh yah. Ntar pasti kepake …..
Tuh, ada sekolah
di sebelah sana. Liat aja antriannya …. Gak perlu engkau ikut antri, Ana.
Mendekatlah ke spanduk penerimaan siswa baru itu aja. Kemudian, ambil duit
receh tadi dan gosok spanduk itu, kayak engkau biasa menggosok voucher isi
ulang pulsa HP itu lho. Kalo udah, kita keliling lagi.
Bagaimana Ana ?
Jangan pasang muka kaget begitu dong. Di negeri ini sudah hampir semuanya tidak
masuk akal, jadi apa yang engkau lihat dan saksikan, gak usah dimasukin akal,
eman-eman akalmu. Coba sekarang engkau bacain tulisan di spanduk setelah engkau
gosok pake duit receh tadi.
.PENGUMUMAN.
USAHAKAN JANGAN
SAMPAI ANAK-ANAK MISKIN MASUK SEKOLAH, KARENA KEMISKINAN TIDAK ADA KAITANNYA
DENGAN SEKOLAH, DAN ANAK-ANAK MISKIN BUKAN KONSUMEN YANG SIGNIFIKAN BAGI
SEKOLAH.
BAPAK IBU
MELARAT, JANGAN KIRIM ANAK-ANAKMU PERGI KULIAH, KARENA KALIAN BUKAN KONSUMEN
PRIVATISASI UNIVERSITAS.
MASYARAKAT FAKIR
PAPA POSISINYA TIDAK RELEVAN DENGAN DUNIA PENDIDIKAN
SEKOLAH BUKAN
RUMAH SOSIAL DAN UNIVERSITAS BUKAN TONG SAMPAH
SEKOLAH ADALAH
MALL-MALL DAN UNIVERSITAS ADALAH SUPERMARKET
(Emha
Ainun Nadjib, Kesaksian Orang Biasa, 15 Oktober 2004)
Bukan apa-apa
Ana, ini kan juga demi kebaikan orang-orang miskin juga. Sekali mereka
merasakan sekolah, mereka akan kecanduan hebat dan semakin susah melepaskan
diri dari sekolah. Baru ngerasain taman bermain, minta tambah lagi dengan TK,
minta lagi nyicipin SD, terus SMP, SMA dan buntut-buntutnya jadi kuli ah.
Inipun juga masih blom selesai lho. Abis SMA, ada S1, S2 dan lain-lain. Sayang
es campur adanya cuma di tempat makan, gak di dunia pendidikan.
Dan harga semua
itu gak bakalan bisa dijangkau oleh mereka itu lho Ana, bahkan untuk bermimpi
tentang harga itu, aku yakin mereka fakir papa juga ketakutan setengah mati.
Bukankah gelar akademis juga komoditas perdagangan yang menggiurkan labanya ?
Bukankah banyak yang rela membayar berapapun juga demi toga dan secarik kertas
di etalase plaza dan mall-mall itu Ana ? Ah, gak usah ditanggepin Ana, aku aja
yang terlalu skeptis. Maklum sih, aku juga sedikit nyandu sekolah …..
Dan sakauw
akibat kecanduan sekolah ini gak maen-maen lho. Sudah jatuh korban di negeri
ini. Di tengah belitan busung lapar, flu burung, polio, lumpuh layu, sejarah
juga menyempatkan diri mencatat nama-nama korban sakauw-nya sekolah. Sebutlah
misalnya Eko Haryanto, seorang siswa SD di Tegal yang gantung diri. Ada lagi
Bunyamin, seorang siswa SMK. Haryanto seorang siswa SD di Garut. Sembodo di
Kebumen dan yang terakhir seorang gadis bernama Fifi Kusrini, seorang siswa
SMP. Bukankah ini juga kado yang manis buat pemerintah di saat ada acara Hari
Anak Nasional kemarin yah ?
Kenapa Ana ?
Engkau bilang sekolah itu juga anjuran agama ?
Baiklah Ana
sahabatku, soal ini aku ajak engkau membuka buku harian milik seorang sahabat,
Soe Hok Gie namanya. Kita lihat saat ia berdebat dengan pendetanya. Suatu saat
pendetanya ini mengemukakan ide untuk membuat sebuah sekolah unggulan dengan
harga yang diatas rata-rata pada saat itu. Jelas saja Gie mendebatnya dan
mengatakan bahwa dengan ini akan menciptakan stigma bahwa akan ada sekolah
untuk orang kaya dan orang miskin. Setelah si pendeta ini tidak menemukan
argumen lagi, ia mengatakan bahwa Gie anti agama. Dan kau tahu apa yang
dikatakan Gie, Ana ? Gie cuma berkata bahwa kalo usahanya memperjuangkan hak
yang sama bagi setiap orang untuk mendapatkan pendidikan harus membuatnya
disebut anti agama, maka aku (Gie) memang anti agama.
( Banyuwangi - Bondowoso - Malang ; lagi-lagi nggerundel )

Nice Article. Keep up The Good work.
Thanks for the information!!
trz said this on December 23, 2008 at 5:54 am