Air Mata Darah
Danarto, budayawan
IZIKANLAH kami, rakyat miskin, untuk memeras air mata darah. Itulah satu-satunya air mata yang kami punyai, tinggal. Tidak. Tidak. Kami rakyat miskin tidak menangis lagi. Kami hanya meminta izin untuk tetap sengsara disebabkan oleh ketidakbecusan kami dalam berburu nafkah. Jangan cambuk lagi kami dengan cambuk kasih sayang. Cambuk kami dengan penderitaan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, lima puluh tahun lagi, supaya kami, rakyat miskin, terus belajar bagaimana bertahan di segala cuaca.
Ketika menyadari bahwa setiap hari kami sangat kesukaran dalam mengatur uang belanja kami yang cupet, kami sadar, semakin mempersulit kerja siapa pun yang mencoba menolong kami. Ya, kami menjadi beban. Beban yang berat sekali bagi siapa saja yang memikul kami.
Bagaimana kemungkinannya jika kami mengajukan eutanasia saja. Sekitar separo dari penduduk negeri ini, rakyat miskin, bisa dieliminasi supaya beban yang menyebabkan semuanya menderita bisa berkurang dalam sekejap. Tak ada gunanya memelihara rakyat miskin. Di samping sangat menghambat modernisasi, rakyat miskin juga sangat boros dalam melahap kekayaan bangsa.
Kenaikan harga BBM memang fatal. Kami, rakyat miskin, ditempeleng telak. Kami terkapar. Ada saja anak-anak kami yang mencoba bunuh diri karena tak mampu membayar uang sekolah. Tak tanggung-tanggung, 27.000 murid sekolah di Bogor terancam putus sekolah. Dewasa ini, kami yang jumlahnya ribuan macet sekolahnya, lalu menggelandang mencari pekerjaan apa saja. Kami juga menjadi pemulung, pengemis, penjambret, pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh, agen dari segala kerusuhan dan huru-hara. Pernah dengar sopir taksi dibunuh dan duitnya dijarah?
Itulah kerja kami. Kami membunuh kami, karena hanya dengan jalan itu, baru kami bisa hidup.
Mitsubishi hengkang dari kebun kita dan memilih berinvestasi di Thailand, yang menyebabkan kami mampus. Berapa ribu karyawan yang kena PHK? Tanpa dibunuh pun, kami sudah tewas. Nah, beban dari yang berwajib berkurang dalam mengurus kami, setelah kami undur diri dari dunia ramai. Alangkah mudahnya mengurangi derita, barangkali sebentar lagi menyusul Honda, Hyundai, KIA, Toyota, Daihatsu, Suzuki, apa susahnya. Perusahaan besar datang dan pergi sesuka hati, seperti datang perginya awan yang membentang di langit yang dapat diharapkan menjadi hujan.
Kami, rakyat miskin, memang sering bikin ulah yang menyebabkan para investor tidak tenang hidupnya. Dan, yang berwajib tidak memperbaiki semuanya itu karena memang tidak mampu, rasa aman, rasa saling menghargai, rasa tidak digerogoti, sudah sangat berat untuk ditanggulangi. Memang menyelenggarakan konferensi, kongres, muktamar, dan rapat-rapat jauh lebih memikat karena ringan, namun duitnya banyak, daripada menjaga para investor itu dari segala rongrongan.
Musim semi ekonomi Indonesia telah tiba, yang menikmati tentulah hanya para petinggi dan elite politik. Tolong jangan ajak kami ke pesta, meski terdengar kata-kata mutiara: Pesta yang buruk adalah pesta tanpa mengajak kaum miskin, sebab itu cuma basa-basi yang sudah disobek dari lembar buku-buku pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beriman sudah memiliki buku-buku baru yang lebih cocok.
Apa arti musim semi ekonomi bagi rakyat miskin? Semuanya itu cuma pembicaraan yang tidak mampu kami pahami. Yang kami butuhkan hanyalah yang serbakonkret. Jika kami sakit, beri kami obat; jika lapar, kasih kami makanan; kalau sedih, hibur kami. Tapi, itu semua sudah tamat. Yang kami perlukan cuma eutanasia. Nah, kerjakan sekarang, mumpung penderitaan kami belum bertambah-tambah. Sekitar seratus delapan puluh juta jiwa bakal lenyap sekelebatan. Itulah pengertian yang benar yang selama ini kami yakini.
Kami tahu, beban berat tidak bisa dipikul terus-menerus tanpa dipunggah dari pundak. Ayo, beristirahat. Kami berteduh di bawah pohon besar untuk melepaskan peluh yang mengucur. Kami susun kembali karung-karung besar beban yang menggunung di sisi kami lelap siang yang panas itu. Kami bermimpi sejenak. Mimpi tentang anak-anak yang kami lahirkan yang menempuh hidup di kemudian hari. Anak-anak yang cerdas dan berbakti yang tetap saja digarong oleh masa depannya.
Andai kami bisa membentengi keturunan kami dari segala kerusuhan dan saling menerkam lewat mimpi kami ini. Mimpi adalah godaan yang kami bangun sendiri dengan perih. Waktu jaga sudah kembali, atau kami terus bermimpi, dan tak kembali ke bumi. Alhamdulillah. Hidup hanya sepenggal catatan yang kusam yang tidak dibaca lagi. Ke sana segala kesedihan berlabuh sampai kapal rusak tak mampu melaut lagi. Air mata dari segala air mata. Kami hanya rakyat miskin yang setiap saat dilupakan. Yang boleh dianggap tak pernah ada. Robeklah catatan dan kami lenyap.
Segala pasang surut APBN, harga minyak, dan para investor tak juga tertarik untuk mengadu untung di sini karena bahaya mengancam di setiap sudut kota, itu kesalahan kami, rakyat miskin, yang tidak memahami seluk-beluk citra dari segala penampilan. Kami sudah pasrah dengan segala tangan yang terikat ke belakang. Gusur kami dari segala usir dan hardik. Penggal (!) dan kepala kami menggelinding.
Kami, rakyat miskin, tinggal punya air mata darah, seperti yang sudah diumumkan oleh tsunami, Buyat, demam berdarah, flu burung, polio, raskin, maupun tanah longsor, dan banjir. Semua keterbukaan sudah tertutup bagi kami. Sampai di sini riwayat kami. Jangan diperpanjang lagi cerita yang hanya meninabobokan. Kami letih.
Konyol kami tak mampu melepaskan beban sendiri tanpa bantuan siapa pun. Segalanya pernah ditulis. Segalanya pernah dikenang. Untung bagi kami yang kami hadapi hanyalah sisa-sisa kekuatan dari masa lampau yang sungguh tak sakti yang mencoba memberi nyawa kami. Yang papa, yang sengsara. Keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, meski bagaimanapun pernah kami cecap, sedikit.
Selamat tinggal …
fwd by Redaksi from Media Indonesia, Senin, 16 Mei 2005

Leave a Reply