:: Universe Idol ::
Beberapa waktu belakangan ini sedang terjadi demam
pencarian bakat. Lewat AFI atau Indonesian Idol dan beberapa acara sejenis.
Acara yang dikemas sedemikian rupa sehingga penyajiannya –pun tak kalah
semaraknya. Para peserta yang memendam keinginan untuk menjadi bintang ( =
popularitas ? ) melewati serangkaian audisi sebagai proses seleksi.
Sebuah hasil “kreativitas” yang luar biasa. Bayangkan betapa jelinya pelaku bisnis
“memanfaatkan” naluri dasar manusia yang menginginkan ketenaran, yang biasanya
diidentikkan dengan hidup senang. Siapa
sih yang gak pingin tenar ? Siapa sih yang gak pingin hidup senang ? Manusiawi
sekali kan.
Berbagai bentuk dukungan pun mengalir untuk para peserta
yang difavoritkan, dan semua bentuk dukungan itu –seaneh dan se”gila” apapun
bentuk dukungannya, kita anggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa, setidaknya
kita “maklumi”
Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk menjadi seorang
“idola” atau seorang “bintang” harus melalui berbagai audisi.
Kalau untuk saat ini segala perhatian kita tercurah pada
satu titik, Indonesian Idol, AFI, atau bahkan World Idol, pernahkah kita
mencoba memperluas cakrawala pikir kita ? Setidaknya sekali dalam hidup ini,
ayolah kita keluar dari tempurung kekerdilan kita yang hanya melihat dunia sebatas
tatapan mata. Jumud, stagnan, dan tak ada proses. Jika demikian adanya,
turunlah kita dari ahsani taqwim ke
tataran asfala safilin. Setelah kita
keluar, adakah kita menyadari bahwa beyond
World Idol, ada Universe Idol –Idola alam semesta.
Dialah Muhammad bin AbduLlah. Beliaulah Universe Idol –rahmatan lil ‘alamin. Sebuah gelar yang
disematkan Tuhan, dan dibenarkan oleh seluruh yang mengenal kisah hidup beliau.
Beragam audisi telah beliau jalani, berbagai proses seleksi telah beliau
lampaui. Kalau untuk menjadi World Idol, maka audisinya hanya “itu-itu” saja,
maka untuk menjadi Universe Idol, sangat jauh lebih dari itu. Audisi pertama
yang dijalani adalah kehilangan ayahanda tercinta, kemudian bunda tersayang,
kakek yang mengasuhnya, disusul putra pertamanya, kemudian lagi pamannya dan
sang istri kinasih. Semua kepergian orang-orang terkasihnya justru pada
saat-saat dimana beliau menghadapi situasi sulit. Ayahanda beliau pergi saat
beliau lahir, bunda beliau pergi saat beliau berusia 6 tahun, kemudian disusul
sang kakek dua tahun kemudian. Paman beliau menyusul pergi ketika menghadapi
boikot Quraisy di Syi’b Ali, pada saat beliau membutuhkan seseorang sebagai bargaining power dengan pihak Quraisy.
Dan kepergian sang istri setia, Khadijah, hanya tiga bulan setelah boikot
berakhir. Untuk menghibur kesedihan, beliau pergi menuju Thaif dengan harapan
menemukan dukungan. Namun yang didapat adalah lemparan batu dan darah yang
mengucur dari kening beliau yang mulia.
Kalau kita mau jujur, adakah yang memiliki kebesaran dan
kekuatan hati seperti yang beliau miliki untuk mampu lulus dari audisi ini ? Bahkan
dewan juri –Allah swt pun memuji beliau ( QS. Al-Qalam : 4 ). Itu hanya
serangkaian audisi tahap awal beliau saat di kota Makkah.
Bahkan setelah beliau hijrah ke Madinah, audisi juga belum
berakhir buat beliau. Perang Badr menguji kejeniusan beliau sebagai panglima
perang, disusul kemudian dengan Perang Uhud, dimana beliau terluka. Kedua
perang ini adalah sebagai upaya membela diri dari serangan dari Mekkah. Kemudian
Perang Ahzab (Khandaq) melawan aliansi Mekkah dan kaum munafik di Madinah. Dan
selama masa ini, beliau juga mampu lulus audisi sebagai diplomat melalui
serangkaian perjanjian dengan berbagai pihak. Audisi yang dihadapi beliau tidak
hanya dari luar. Hembusan fitnah pun juga menimpa keluarga beliau. Hadits al-ifk yang menimpa ‘Aisyah ra
adalah rangkaian audisi yang harus dijalani beliau. Dan kejeniusan beliau
benar-benar terlihat saat Fathu Makkah. Makkah jatuh tanpa perlawanan yang
berarti. Dan hebatnya, beliau memasuki Kota Makkah dengan tawaddu’, bahkan ada
yang meriwayatkan bahwa beliau menundukkan kepala sampai-sampai hampir
menyentuh leher untanya.
dan akhirnya, kisah hidup beliau tampil di pentas sejarah
peradaban dunia. Semuanya memberikan respek dan dukungan yang ikhlas, yang
terbit memancar dari pengenalan mereka dari kebesaran Sang Nabi. Allah dan
malaikatpun memberikan dukungan kepada beliau dan memerintahkan kaum yang
beriman memberikan dukungannya pula (=shalawat) ( QS. Al-Ahzab : 56 ). Marilah
Rabiul Awal kali ini ramai-ramai kita kirim SMS (Shalawat buat Muhammad serta
Salam). SMS yang tak membutuhkan biaya (bandingkan dengan acara pemilihan
bakat), melainkan hanya cinta. Cinta dari tiap shalawat dan salam yang kita
haturkan. Tanpa itu, shalawat dan salam hanya sekedar kata-kata tanpa ruh.
refleksi
AliF, Rabiul Awwal 1425

Leave a Reply